[ISIGOOD.COM] Gunung Everest terkenal sebagai puncak tertingi di dunia. Dengan ketinggian 8.850 meter di atas permukaan laut, tak semua orang bisa menaklukkan gunung ini. Hanya orang-orang dengan kemampuan dan kegigihan super yang bisa menginjakkan kakinya di puncak Everest. Salah satunya Clara Sumarwati, wanita kelahiran Yogyakarta. Ia merupakan salah satu orang yang tercatat sebagai pendaki wanita pertama asal Indonesia dan pendaki wanita pertama di ASEAN.

Clara melakukan pendakiannya di Gunung Everest pada 26 September 1996. Namanya tercatat sebagai penakluk Everest ke-836. Tanggal pencapaian dan namanya juga tercatat di buku-buku Everest karya Walt Unsworth (1999), Everest: Expedition to the Ultimate karya Reinhold Messner (1999) dan website EverestHistory.com.

Wanita tangguh ini memulai petualangannya pada 1990, setelah menyelesaikan pendidikan di Jurusan Psikologi Atmajaya. Ia memilih bergabung dengan tim ekspedisi pendakian gunung ke puncak Annapurna IV (7.535 mdpl) di Nepal. Pada Januari 1993, Clara bersama tiga pendaki putei Indonesia lainnya menaklukkan puncak Anconcagua (6.959 mdpl) di pegunungan Andes, Amerika Selatan.

Clara di puncak Annapurna, Nepal (belantaraindonesia.org)

Pendakian Gunung Everest pada 1996 bukanlah ekspedisi Everest yang pertama bagi Clara. Pada 2004, ia bersama lima orang dari tim PPGAD (Perkumpulan Pendaki Gunung Angkatan Darat) berangkat ke sana tetapi hanya mampu mencapai ketinggian 7.000 meter. Sebab, mereka terhadang kondisi medan yang teramat sulit dan berbahaya di jalur sebelah selatan Pegunungan Himalaya (lazim disebut South Col). Kegagalan itu justru membuat Clara semakin penasaran. Ia bercita-cita mengibarkan bendera Merah-Putih di puncak Everest.

Pada 17 Agustus 1995, tepat 50 tahun Indonesia merdeka, Clara berusaha mewujudkan keinginannya. Sebanyak 12 perusahaan ia hubungi untuk mendapatkan sponsor. Ia membutuhkan biaya yang tidak sedikit, yakni Rp 500 juta. Biaya yang harus dikeluarkan untuk menaklukkan Everest memang tidak murah. Setelah menunggu sekian lama, Clara tak kunjung mendapat jawaban. Bahkan ada pihak perusahaan yang meragukan kemampuannya sehingga enggan memberi sponsor.

Di balik kesederhanaan Clara, tersimpan ketangguhan dan keberanian (ringsatu.co)

Salah satu pihak yang ia hubungi untuk sponsor adalah Panitia Ulang Tahun Emas Kemerdekaan Republik Indonesia, yang dibawahi Sekretariat Negara. Clara dipanggil menghadap pada Agustus 1995 dan mendapat konfirmasi bahwa Pemerintah bersedia mensponsori ekspedisinya. Clara pun langsung menjadwal ulang ekspedisi. Ternyata pengunduran jadwal mempunyai makna tersendiri karena pada 1995 terjadi badai dahsyat di Himalaya. Clara terhindar dari badai yang menewaskan 208 pendaki dari berbagai negara.

Pencapaian yang diraih oleh Clara Sumarwati sungguh hebat. Ia memberikan optimisme bahwa masih banyak pendaki wanita tangguh lainnya di negeri kita. Apakah kamu yang akan menjadi salah satunya? Kenapa tidak

 

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Mahasiswa Sastra Perancis UGM. Menyukai seni, psikologi, dan filsafat.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISIGOOD.com Mengisi Diri Dengan Kebaikan