[ISIGOOD.COM] Seneng rasanya ketika data berbicara bahwa angka buta huruf di Indonesia semakin menurun dari tahun ke tahun. Terakhir, di pertengahan tahun 2015 ini angka buta huruf di Indonesia hanya tersisa 6% dari seluruh jumlah penduduk. Walaupun belum sepenuhnya hilang, namun ini adalah ngka yang cukup menggembirakan. Tapi masalah tidak berhenti sampai di sini. Indonesia masih dihadapkan kepada berbagai masalah lanjutan. Misalnya, rendahnya minat baca dan minat beli buku. Jadi, meningkatnya angka melek huruf, nyatanya masih belum bisa memicu peningkatan minat membaca seseorang.

Membaca persoalan ini, menurut saya ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab. Salah satunya adalah terbatasnya daya jangkau masyarakat terhadap buku. Masalah lain, terbatanya pula daya beli masyarakat untuk mendapatkan bahan bacaan yang berkualitas. Sehingga, kemampuan membaca masyarakat akhirnya hanya digunakan untuk membaca seadanya. Bukan untuk membaca buku, majalah dan sejenisnya.

Beruntunglah kita punya seorang pahlawan literasi bernama Ridwan Sururi (42 tahun), seorang perawat kuda dari Desa Serang, Purbalingga, Jawa Tengah. Ia adalah orang sangat berjasa dalam mengembangkan minat membaca masyarakat. Sururi penggagas perpustakaan kuda pertama di Indonesia. Wah, perpustakaan kuda? Seperti apa ya?

Dengan kudanya yang dinamai Luna, ia berkeliling di sekolah-sekolah dekat rumahnya setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis. Di hari itu, ia bersama kudanya yang membawa setumpuk buku berkeliling dan menawarkan bahan  bacaan menarik untuk anak sekolah. Tentu kedatangan Luna membuat anak sekolah semakin tertarik untuk membaca di perpustakaan portabel ini. Sururi mengaku merasa lega dan bahagia setiap kali ada warga yang antusias membaca buku yang dibawa. Bahkan ia mempersilakan siapapun untuk meminjam buku tanpa dipungut biaya.

Wah, Pak Sururi hebat! Saya rasa ada beberapa hal yang bisa kita teladani dari kisah Pak Sururi ini.

Meningkatkan peradaban adalah tanggung jawab bersama

Pak Ridwan Sururi ditemani anaknya berkeliling mencari anak-anak yang mau membaca bukunya

Pak Ridwan Sururi ditemani anaknya berkeliling mencari anak-anak yang mau membaca bukunya

Pak Sururi mengajarkan kita bahwa berpikir kreatif dan inovatif tidak mengenal usia. Bahkan seorang berusia 40 tahun lebih bisa berpikir cerdas yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh generasi muda. Seharusnya kita, anak muda, tidak kalah dengan Pak Sururi. Selain itu, Pak Sururui menunjukkan kepada kita bahwa peningkatkan peradaban kehidupan manusia adalah tanggung jawab bersama. Memperbaiki kualitas sumber daya manusia tidak hanya tanggung jawab negara, tidak hanya tanggung jawab guru di sekolah, tapi tanggung jawab kita semua. Jika kita bisa, kenapa kita tidak melakukan sesuatu untuk memperbaiki taraf hidup sesama.

 

Indahnya ketika hobi kita bisa dinikmati dan bermanfaat untuk lingkungan sekitar

Hobi Pak Sururi kini menjadi sumber manfaat untuk sesama

Hobi Pak Sururi kini menjadi sumber manfaat untuk sesama

Banyak dari kita yang egois dengan hobi masing-masing. Hobi hanya dimaknai sebagai aktivitas yang menyenangkan diri sendiri. Kegiatan yang meningkatkan gengsi. Tapi Pak Sururi berpikir hal lain. Ia ingin hobinya merawat kuda bisa menjadi sumber manfaat bagi orang lain. Terbukti, sekarang Pak Sururi telah semakin dikenal sebagai pustakawan berkuda. Kuda tidak hanya menjadi objek menuangkan hobi, tapi menjadi sahabat yang setia menemaninya menebar kebermanfaatan.

 

Tak perlu jadi orang kaya untuk berbagi

Sekarang adek-adek ini bisa mengakses buku dengan mudah

Sekarang adek-adek ini bisa mengakses buku dengan mudah

Salah jika kondisi ekonomi kita jadikan alasan yang menghambat kita berbagi kepada orang lain. Dalam kondisi apapun, sesulit apapun, kita pasti punya titik kemampuan yang bisa kita gunakan untuk berbagi dengan orang lain. Seperti Pak Sururi. Luna, kudanya, sebenarnya adalah bukan kuda miliknya sendiri. Dia adalah seseorang yang ditugasi oleh pemilik kuda untuk merawat kudanya. Merawat kuda orang lain adalah mata pencaharian baginya. Bahkan ia tak punya cukup biaya untuk membeli buku dalam jumlah yang banyak. Tapi ini tidak jadi hambatan. Nyatanya, saat ini ia telah menyebarkan banyak kebaikan untuk orang lain. Buku-buku itu adalah pemberian dari temannya bernama Nirwan Arsuka dan sejumlah donatur lain. Kini Ia telah berhasil membagikan sesuatu yang sangat berharga : ilmu pengetahuan.

 

Semoga ini menjadi amal yang bisa menembus langit dan tidak terputus usia

Terimakasih atas ketulusan Bapak selama ini

Terimakasih atas ketulusan Bapak selama ini

Untuk Pak Ridwan Sururi, meskipun kita tak saling kenal, tak pernah saling bertatap muka, tapi saya sangat bisa membaca ketulusan Bapak. Saya merasa malu, karena sebagai anak muda, semangat saya masih jauh dibanding Bapak. Saya harap apa yang telah Bapak lakukan untuk Indonesia dapat diteladani oleh kami semua, para generasi muda. Terakhir, saya doakan. Semoga ilmu yang telah Bapak sebar ini menjadi bekal jariyah, sebuah amal yang akan selalu menembus langit dan tak terputus usia.

Sumber gambar : www.wowshack.com

Wanita yang sedang belajar tentang bagaimana menjadi seorang wanita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *