[ISIGOOD.COM] Dokumen-dokumen bersejarah di Indonesia telah diakui oleh kalangan internasional. Dua di antaranya adalah Babad Diponegoro dan Negarakertagama. Kedua dokumen itu resmi masuk dalam daftar Memory of the World UNESCO, bersama dengan 52 dokumen lainnya dari berbagai negara. Sebelumnya Babad Diponegoro pernah diajukan sebagai Memory of the World (MOW), tetapi dikembalikan UNESCO untuk dilengkapi. Tahun ini semua dokumen pendukung telah dikumpulkan, lalu Babad Diponegoro berhasil masuk daftar. Keputusan tersebut resmi diumumkan melalui situs UNESCO pada 20 Juni lalu.

Untuk mengetahui lebih jauh, mari kita bahas sekilas isi dari Babad Diponegoro. Naskah ini adalah catatan pribadi Pangeran Diponegoro saat diasingkan Belanda di Manado, Sulawesi Utara, pada Mei 1831 hingga Februari 1832. Pangeran dari Kraton Yogyakarta ini adalah tokoh paling terkenal dalam perlawanan terhadap Kolonial Belanda tahun 1825 hingga 1830. Ia menginisiasi Perang Diponegoro, salah satu perang perlawanan pribumi terpanjang dan memakan biaya besar dari kas Kolonial Belanda.

Sejarah dalam Babad Diponegoro mengundang Peter Carey untuk meneliti lebih jauh. Ia merupakan penulis biografi Pangeran Diponegoro dalam bukunya yang berjudul “Power of Prophecy” (Kuasa Ramalan). Dalam buku tersebut, Carey mengutarakan bahwa Babad Diponegoro dicatat dalam macapat dan merupakan otobiografi pertama dalam literatur Jawa modern. Carey telah meneliti perjalanan hidup Pangeran Diponegoro selama 30 tahun untuk menuliskan buku tersebut.

Naskah Babad Diponegoro (liputan6.com)

Bagaimana proses pengajuan Babad Diponegoro dalam daftar MOW UNESCO? Ternyata naskah ini diajukan bersama oleh Perpustakaan Nasional RI dan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV), yaitu lembaga bahasa, pemerintahan dan kebudayaan dari Kerajaan Belanda. Pengajuan bersama ini dilakukan karena salinan naskah Babad Diponegoro yang ditulis menggunakan aksara Pegon (aksara Arab gundul) tersimpan di Perpustakaan Nasional. Sedangkan naskah yang ditulis dalam aksara Jawa tersimpan di Belanda. Sementara itu, naskah aslinya sudah tidak ditemukan.

Tidak hanya kehebatan Babad Diponegoro yang diakui oleh UNESCO. Organisasi tersebut juga menerima Negarakertagama karya Empu Prapanca sebagai Memory of the World. Sebelumnya, karya pujangga Majapahit ini pernah diterima UNESCO sebagai MOW pada 2005 tetapi untuk kawasan Asia Pasifik. Tahun ini posisinya naik ke tingkat dunia.

Naskah Kitab Negarakertagama (griyawisata.com)

Sejarah yang merangkai Negarakertagama tidak kalah menarik dari Babad Dipenogoro. Naskah ini berkisah tentang kebesaran Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Dalam naskah tersebut, keduanya digambarkan sebagai sosok yang peduli terhadap rakyat, mengupayakan kemakmuran, menyokong pluralisme, dan lainnya. Selama masa pemerintahan keduanya (1350-1389), Majapahit mencapai puncak kejayaan. Daerah kekuasaan Majapahit saat itu mencakup daerah yang luas, mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua Nugini. Disebutkan bahwa Singapura, sebagian daerah di Malaysia, Brunei, Thailand dan Pulau Sulu di Filipina juga berada dibawah kekuasaan Majapahit. Hebat sekali bukan?

Memory of the World yang diselenggarakan oleh UNESCO bertujuan memelihara dan menyebarluaskan arsip-arsip dan koleksi berharga perpustakaan dari seluruh dunia. Setiap negara dapat mengajukan manuskrip atau dokumen masa lalu untuk masuk dalam daftar warisan dunia tersebut. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu asli, memiliki dampak dalam negeri, dan dampak internasional. Babad Diponegoro dan Negarakertagama terbukti berhasil memenuhi semua syarat itu.

 

Sumber: indonesia.travel

Mahasiswa Sastra Perancis UGM. Menyukai seni, psikologi, dan filsafat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *