[ISIGOOD.COM] Tidak jauh berbeda dengan proses transisi seorang lulusan SMA, ketika berubah menjadi seorang mahasiswa. Kali ini, setelah menjadi mahasiswa selama bertahun-tahun, kembali harus bertransisi menjadi seorang lulusan perguruan tinggi menuju dunia profesional, atau studi lanjut. Prinsipnya, setiap manusia pasti akan tiba saatnya untuk berubah. Apa yang sudah dimulai, selesaikanlah! Untuk memulai hal yang baru berikutnya.

Dilema skripsi (rommikaestria.com)

Dilema skripsi (rommikaestria.com)

1. Sebutkan Target Waktu, Kapan Mau Lulus

Inilah namanya ‘dimulai dari belakang’. Kemudian diikuti dengan menghitung mundur, kapan skripsi diselesaikan, kapan skripsi dimulai, kapan menghadap dosen pembimbing, dan sebagainya. Merencanakan kapan mau lulus berkaitan dengan dua hal, pertama adalah tingkat kesulitan topik tugas akhir serta rencana pengerjaan skripsi.

Biasanya mahasiswa selalu diselimuti dengan ke tantangan pemilihan topik dan tingkat kesulitan skripsi.

Seharusnya sih, seorang dosen pembimbing yang baik akan bisa memperkirakan kemampuan mahasiswa-nya, serta ikut memikirkan target mahasiswa itu lulus. Sangat diharapkan, seorang dosen pembimbing sangat concern dengan model penghitungan dari belakang ini.

Kalau target lulusnya masih agak lama, maka bolehlah dan wajar bila diberikan skripsi dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan yang tenggat waktunya sudah mepet (ini disesuaikan dengan jadwal wisuda yang terdapat beberapa kali dalam setahun).

Tapi ingat, jangan sengaja menghadap dosen di waktu-waktu yang mepet lho … Tidak semua dosen pembimbing berpikir demikian. Skripsi ya skripsi, tidak ada yang mudah, tidak akan dibeda-bedakan dengan topik dan tingkat kesulitan mahasiswa lainnya.

2. Persiapan Beberapa Alternatif Topik dan Judul Skripsi

Kalau bisa jangan cuma nyiapin 1 judul. Kamu harus punya cadangan beberapa judul, berjaga-jaga sewaktu-waktu skripsi kamu tidak bisa terealisasi, maka sudah ada persiapan judul lain.

3. Cari Dosen Pembimbing Yang Pas Dan Turutilah Perintah dan Bimbingannya

Nah ini pentiiing banget … Sangat disarankan mencari dosen pembimbing yang bidang ilmunya sesuai dengan passion-mu, dan kalau bisa yang sering stay di kampus. Kamu akan gampang buat menemui dosen tersebut. Apalagi kalau mendadak perlu bimbingan. Saran kongkret: Kalau sudah menemukannya, jangan sekali-sekali melawan dan mendebatnya dengan spontan (apalagi dengan keras) … Kalaupun sang dosen kelak ada salahnya, buatlah strategi berkomunikasi yang baik untuk menyampaikan. Kamu juga bisa berkomunikasi dengan dosen-dosen pengurus/pimpinan jurusan.

4. Tentukan Topik Skripsi Sesuai Passion, Jangan Asal Cari Yang Mudah dan Cepat

Sebaiknya tentukan topik skripsi sejak semester-semester awal. Namun faktanya tidak demikian, mahasiswa masih selalu kabur dengan apa topik skripsinya. Bahkan hingga memasuki semester akhir-pun, masih belum menemukannya. Banyak mahasiswa tingkat akhir yang tidak menyukai topik skripsinya sendiri. Atau ada juga yang kehilangan gairah di tengah jalan karena sudah muak dengan topik skripsinya.

Mengapa muncul ketidaksukaan? Biasanya disebabkan oleh dua hal,

a. Topiknya ditentukan oleh dosen pembimbing

Kalau sudah nasib ya nasib. Seharusnya, ketika dosen pembimbingmu menentukan topik tugas akhirmu, kamu harus sudah yakin terhadap pemilihan dosen pembimbingmu. Apakah bidangnya sesuai dengan passion-mu atau tidak. Lalu ketika topiknya ditentukan, sebaiknya kamu sebagai mahasiswa yang akan menggelutinya jangan asal menerima. Bertanya dan berdiskusilah panjang lebar dengan dosen.

b. Asal pilih atau sekedar meniru kakak kelas

Yang kedua adalah mahasiswa tersebut tidak melakukan studi awal terhadap topik pilihannya, hanya karena ada sekedar ide atau meniru dari orang lain hingga akhirnya mengalami kesulitan dan kebosanan sendiri setelah menggelutinya lebih jauh.

Tipsnya, pilihlah topik skripsi dengan bijak. Jangan yang terlalu mudah sehingga tidak ada tantangan, tapi juga jangan terlalu sulit hingga tidak realistis untuk menyelesaikannya. Proses pengerjaan skrispi seharusnya membuat mahasiswa menjadi gemar bekerja dengan mandiri, mempertajam kemampuan mengolah data dan menganalisis hasil yang diperoleh.

5. Jangan Keterusan Merasa “Belanda Masih Jauh” 

Yup, inilah kebiasaan menunda-nunda dan merasa ‘ah Belanda masih jauh’,

Biasanya skripsi dikerjakan pada semester-semester yang sudah tidak banyak lagi beban kuliahnya. Akibatnya, bisa dua kemungkinan. Menjadi makin cepat mengerjakan skripsi, karena berlimpahnya waktu luang. Atau, terlena dengan kenikmatan waktu luang yang membuat tergoda melakukan hal-hal yang lain yang tidak ada hubungannya dengan skripsi dan kuliahmu.

Kuncinya adalah, fokus dan komitmen serta bersikap bijak pada waktu dan target yang sudah kamu ucapkan dulu. Waktu tidak dapat diputar kembali, dan waktu adalah investasi masa depan kamu. Kalau suasana dan atmosfer kosan atau rumahmu tidak kondusif dengan target penyelesaian skripsimu, maka segera tentukan solusinya. Kamu bisa mengerjakan skripsimu di lab atau di perpustakaan.

6. Torsi Di Awal Selalu Berat, Tapi Kalau ‘Mesin’mu Sudah Berputar, Semakin Cepat Semakin Ringan

Memulai itu selalu berat, namun seterusnya akan lebih ringan kalau kamu kerjakan dengan rajin dan fokus. Waktu yang banyak juga merupakan waktu yang fleksibel. Mahasiswa tingkat akhir dapat mengerjakan skripsi kapan saja.

Jangan menunggu mood datang. Mood tidak akan datang kalau kamu tunggu. Mood akan ada pada dirimu kalau kamu fokus dan berkonsentrasi untuk memulai mengerjakan skripsi-mu. Memang betul, kalau lagi tidak mood, dan apalagi masih dalam fase memulai di awal, pasti berat. Tetapi tidak ada satupun di dunia ini yang bisa selesai kalau tidak dimulai, seberat apapun permulaannya.

7. Hilangkan Gengsi Bertanya Pada Orang Lain

Selain mendonlot jurnal-jurnal, dan bahan bacaan lainnya, dan skripsi-skripsi kakak kelasmu, kamu harus sering bertanya dan berdiskusi dengan kakak kelas dan teman-temanmu. Jangan malu meminta waktu menghadap untuk meminta waktu bertemu dosen dan laboran di lab. Dan, segera tentukan kerangka skripsimu.

Kembangkanlah kemampuan komunikasi kamu, hingga bisa berbicara yang membuat orang lain nyaman. Terutama mereka yang akan kamu buat repot dan mau memberikan bantuan bagi penyelesaian skripsimu.

Paling tidak hal-hal tersebut akan membuatmu melihat cahaya dalam kegelapan, ke arah mana kamu akan memulai langkahmu.

8. Daripada Menghilang, Lebih Baik Sering Meminta Waktu Bimbingan Rutin dengan Dosen Pembimbing

Mahasiswa menghindar dari dosen pembimbing biasanya karena “ga ada progress” sehingga malu untuk “menghadap”. Rasa malu ini kemudian menjadi rasa “enggan” lalu menjadi “malas” dan akhirnya benar-benar skripsinya tidak akan pernah selesai.

Tips, sebaiknya menghadap dan memohon dosen pembimbing agar berkenan melakukan pembimbingan dua minggu sekali atau terserah kapan beliau punya waktu luang. Tetapi harus rutin! Karena ini akan semakin mengikat komitmen kamu terhadap target rutin bertemu dosen pembimbing.

9. Mengerjakan Skripsi Itu Kok Susah!? Ya Wajar ‘Donk’, Namanya Juga Skripsi …

Dalam perjalanannya, pengerjaan skripsi akan menemui berbagai hambatan dan tantangan. Baik itu tantangan dan kesulitan teknis maupun non-teknis. Misalnya hasil pengujian di lab yang tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda yang baik, yang siap untuk dituangkan ke dalam tulisan. Atau, malah semakin banyak error dan ketidakjelasan! Atau, software-nya ngadat, data hilang dan terhapus semua.

Untuk riset di bidang sosial dan humaniora-pun juga akan menemui berbagai kendala yang tak kalah peliknya. Bahkan kendala non-teknis juga bisa menjadi penghalang besar di lapangan.

Kuncinya adalah TEKUN dan SABAR. Jangan menyerah donk. Air yang menetes pelan-pelan, akan bisa membuat sebuah batu berlubang. Jangan malu dan sungkan bertanya pada dosen pembimbing atau laboran di lab. Pokoknya, kamu bisa bertanya pada banyak orang, atau cari jawabannya di sumber-sumber ilmiah di internet.

10. Segeralah Mengetik Bab Awal, dan Semakin Lama Rasakan Kenikmatannya

Kalau kamu jenuh melakukan penelitian dan riset di lab, saat-saat seperti ini bisa digunakan untuk mencicil menulis. Mulailah dengan sekedar membuat layout skripsi seperti margin, spasi, judul bab, dan sebagainya.

Kalau Bab 1 yang terkadang sulit untuk diselesaikan, maka Bab 2 yang berisi Landasan Teori atau Tinjauan Pustaka bisa mulai dikerjakan dulu. Kalau skripsi kamu sudah mulai menemukan wujudnya, maka keyakinan kamu akan semakin tumbuh pesat.

11. Terbiasalah Dengan Istilah “Revisi”

Setelah selesai menulis baik bab yang saling lepas atau skripsi secara keseluruhan, maka dosen pembimbing akan memeriksa hasil penulisan kita. Saat seperti inilah ketika kita harus me-revisi pekerjaan kita, baik revisi minor atau mayor.

Revisi bisa berupa hal kecil seperti format penulisan, salah penulisan, urutan sub-bab yang keliru, format gambar, format tabel dsb. Hal-hal seperti ini terkadang menguras emosi.

Revisi juga bisa berupa hal yang prinsip, seperti kurangnya landasan teori atau kurangnya referensi dari buku/artikel.

So, terbiasalah dengan “revisi”, selesaikan anjuran revisi dari dosen pembimbing dengan cepat maka skripsi akan cepat selesai.

12. Semakin Tumbuh Keyakinan Bahwa Kamu Akan Jadi Orang Sukses

Tips kesembilan ini adalah ciri penutup, yaitu memahami apa itu kesuksesan dan bagaimana cara meraihnya. Tips ini sudah sering ditampilkan di berbagai artikel di blog ini. Prinsipnya adalah, attitude, kerja keras, kreatif dan doa ikhlas dilandasi syukur.

SUKSES = A x B x C x D

[A] Attitude = Pantang menyerah; Tidak sedikit-sedikit komplain dan mengeluh meratapi sesuatu; Terlatih untuk mengeluarkan The Power of Kepepet; Ketika terbiasa berada dalam posisi kepepet, maka otomaits akan muncul power dan energi baru melebihi batas-batas normal yang tadinya tidak disadari, yaitu Power of Kepepet; Menghargai senior dan junior; Tidak pernah merasa paling pintar dan palign hebat dibanding orang lain; dan sebagainya.

[B] Belajar dan Bekerja Keras = Tidak pernah merasa sudah cukup pintar sehingga memutuskan berhenti belajar; Menghargai waktu dengan memanfaatkannya dengan bijak, dan sebagainya.

[C] Creative = Lakukan hal-hal yang tidak dilakukan orang lain, untuk mendapatkan hasil yang tidak didapatkan orang lain; Catatan: Ke-11 poin diatas adalah bagian dari aspek Creativity dan Attitude, serta Belajar/bekerja keras.

[D] Doa & Syukur = Power of Doa & Syukur yang ikhlas akan menuntaskan usaha dan perjuanganmu. Tanpa yang satu ini, dua power diatas (sebesar dan sedahsyat apapun) akan berubah menjadi POWERLESS. Ketenangan hati & jiwa hanya bisa dicapai dengan selalu berpikir positif dan doa yang disertai dengan rasa syukur & ikhlas. Apapun hasilnya, kamu akan mensyukurinya.

Catatan:

  1. Rumus diatas adalah fungsi perkalian. Kalau ada satu yang skornya kecil atau bahkan mendekati nol, maka hasil akhir perkalian (The Power for Sukses) akan ikut mengecil pula, dan bahkan ikut-ikutan mendekati nol.
  2. Masing-masing dari ketiga faktor nilai maksimalnya bisa sama dengan tak terhingga. So, kalau kamu sudah ‘merasa sukses’, artinya kamu semakin dijauhkan dari kesuksesan.

 

Disadur dan dikembangkan dari sumber chrisphdlife.wordpress.com dan berbagai sumber serta hasil diskusi dengan berbagai pihak.

About

Redaksi Isigood.com menerima kiriman tulisan yang sesuai dengan rubrik yang ada. Baca ketentuannya di halaman "Kirim Tulisan" pada bagian atas situs ini. Kirim tulisanmu ke hzhafiri@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISIGOOD.com Mengisi Diri Dengan Kebaikan