Target Nikah Secepatnya? Lakukan 4 Strategi Untuk Siasati Dana yang Minim!

[ISIGOOD.COM] Siapa yang tahun ini memiliki resolusi yakni untuk menikah? Jika memang menikah sudah menjadi bayanganmu dan menjadi salah satu resolusi dalam waktu secepat mungkin, maka kamu pasti mendadak mumet dengan hal ini.

Memang menikah menjadi salah satu momen dalam hidup yang pastinya tidak semudah yang dibayangkan. Biaya yang tidak sedikit seringkali membuat kepalamu berdenyut-denyut.

Mulai dari pakaian pengantin, makanan yang disajikan, undangan pernikahan, konsep pernikahan hingga segala tetek bengek lainnya. Ingin sepertinya menunda saja pernikahan demi mendapatkan dana yang mungkin cukup. Namun, tentunya kamu akan kembali berselisih paham dengan pasangan atau bahkan menjadi mengingkari resolusi sendiri. Hehehe

Padahal sebenarnya kamu bisa tetap melangsungkan pernikahan sesuai dengan targetmu. Ya, tahun ini! Ada beragam cara atepat yang bisa kamu tempuh untuk tetap melaksanakan pernikahanmu. Tentunya cara ini tidak mudah untuk dilakukan, namun bukan mustahil dilakukan. Apa saja sih strategi yang bisa kita terapkan? Simak ini ladies and gentleman!

Mulai sisihkan gaji minimal 20-30 persen perbulannya

Kamu bisa melakukan investasi yang bisa membantu minimnya dana kalian. (projectlifemastery.com)

Kamu bisa menyisihkan gajimu minimal 20 hingga 30 persen untuk mencari peluang investasi ataupun usaha. Oya, ini tentunya jika kamu atau pasanganmu telah memiliki gaji yang lebih dari kebutuhan setiap bulan. Jika belum, kamu harus mulai memikirkan masa depan dengan gaji yang lebih untuk kehidupan yang lebih sejahtera.

Jika bisa, maka dengan uang tabungan yang dialokasikan untuk usaha tentunya kamu akan mendapatkan keuntungan yang lebih. Namun, ingat investasi dan melakukan usaha bisa kamu lakukan sebagai pekerjaan sambilan. Kamu bisa meminta tolong pada keluarga/ temanmu yang sanggup mengelolanya.

Darisana kamu bisa mengambil peluang lebih untuk investasi. Kamu juga bisa mencoba mencari bentuk investasi lain seperti membeli emas ataupun mata uang asing. Namun untuk mengambil langkah ini kamu harus mengambil langkah yang ekstra hati-hati. Jangan sampai kamu mempercayakan investasimu pada sesuatu yang belum terpercaya. Jika perlu, mintalah pendapat orang tua dan orang yang mengerti jenis investasi yang akan kamu coba.

Tahan kencan malam Minggu atau perayaan anniversary/ultah secara berlebihan

Ini memang terkesan sepele. Namun jika dipikir dan dihitung-hitung kembali kegiatan ini sangat mempengaruhi pengeluaran dan pemasukan keuangan kamu serta pasanganmu. Bagaimana tidak, setiap kali jalan-jalan di malam Minggu (malming) kamu harus menghabiskan dana untuk transportasi jalan-jalan beserta bensin.

Belum lagi makanan atau jajan yang harus dibeli. Kira-kira apa yang kamu berdua makan itu pastinya akan menghabiskan dana dibandingkan dengan hari-hari biasanya kan? Selain event malming, perayaan hari jadi (anniversary) ataupun ulang tahun pasanganmu dengan terlalu menghabiskan uang.

Nah, untuk itu kamu hanya perlu sedikit menahan keinginanmu membeli ini itu hanya untuk sekedar memeriahkan malming, anniversary atau ultah pasangan. Kamu bisa mencoba malming dengan menghabiskan waktu bersama yang hemat, misalnya masak bersama.

Kamu juga hanya perlu membuat kesan perayaan anniversary atau ultahnya dengan ide kreatif yang berkesan namun tetap sesuai budget. So, kamu tidak menghabiskan banyak dana untuk ini.

Aturlah baik-baik pengeluaran dan pemasukan

kamu harus mengatur baik-baik pengeluaran dan pemasukan. (debttolife.com)

Sebenarnya ini sudah seharusnya dilakukan oleh siapapun sejak dini. Mengatur pengeluaran dan pemasukan harus juga kamu lakukan apalagi menjelang hari bahagia kalian. Tentunya penghematan harus dilakukan. Jangan membeli barang-barang yang terlampau mahal hingga menguras dompet dan tabunganmu. Jika perlu, kamu bisa membuat buku pemasukan-pengeluaran yang bisa kalian pantau secara bersama-sama.

Pikirkan konsep kreatif pernikahan

Nah, ini dia hal yang tidak kalah penting untuk mulai kamu pikirkan. Kamu harus memikirkan konsep pernikahan yang kreatif dengan sesuatu yang sederhana namun menawan. Kamu dan pasanganmu harus mulai memikirkan bagaimana sesuatu yang sederhana dan simpel bisa membuat acara sekali seumur hidupmu itu takkan terlupakan dan tak lekang oleh waktu. Konsep ini bisa kamu gali dari teman-teman maupun dari sharing ide dengan pasangan beserta keluarga besar kalian berdua.

Misalnya saja undangan pernikahan yang hanya disampaikan melalui email jika tidak memungkinkan secara langsung/ dicetak. Jika perlu, kamu bisa membuat undangan online yang disebar di media sosial secara privat ataupun bisa diakses banyak temanmu. Berkaitan dengan hidangan, kamu bisa mengganti camilan yang terkesan terlalu mahal dengan konsep jajanan pasar atau jajanan tradisional daerah kalian.

Tentunya hal itu lebih membuat para tamu undangan tertarik dan terpukau dengan ide kalian. Untuk tempat, kamu bisa mencoba pernikahan dengan setting taman yang rindang dengan penuh bunga-bunga.

Tentunya harus dikondisikan dengan situasi pernikahan dan tamu undangan, misalnya agar tamu tetap nyaman, contohnya tetap tidak becek karena hujan ataupun kepanasan saat hari terik. Hal ini akan jauh lebih memukau daripada mengikuti hal yang sudah biasa.

Nah, itu dia guys 4 strategi yang bisa kamu lakukan jika kamu mau menikah secepatnya. Kerjakan mulai saat ini jika kamu mau benar-benar menikah secepatnya. Bagaimana tertarik? Selamat mencoba dan semoga sukses!

berbagai sumber

Sampe Kapan Mau Pacaran? Menikah Saja Jika Sudah Seperti Ini!

[ISIGOOD.COM] Gara-gara banyak yang bilang bahwa nikah itu susah, akhirnya beberapa orang jadi takut untuk menikah. Padahal, urusan kebutuhan lahir dan batin sebagai seorang manusia untuk memiliki pasangan itu pasti ada. Ketertarikan terhadap lawan jenis juga  hal yang sangat alamiah dirasakan setiap orang. Itulah yang membuat beberapa di antara kita memilih untuk pacaran saja sebelum menikah.

Karena menikah itu gak gampang tapi kita sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk mencurahkan perasaan kepada orang yang kita cinta, jalan keluarnya apa lagi kalau bukan pacaran? Pacaran juga diyakini menjadi step untuk lebih mengenal satu sama lain. Supaya nanti pas nikah tidak kaget dan merasa ketipu. Katanya sih gitu.

Tapi pertanyaannya kemudian, sampai kapan kita harus pacaran? Sampai batas mana kita harus segera mengahiri fase pacaran atau setidaknya mulai berpikir untuk melanjutkan ke jenjang hubungan yang lebih serius? Karena keinginan dari setiap pasangan adalah mengikatkan diri dalam janji suci dan selalu bersama sampai maut memisahkan. Bagi saya, ada beberapa kondisi yang ketika kamu dan pacarmu telah mengalaminya, maka kamu mending cepet-cepet nikah aja.

 

Ketika kamu telah menyerahkan “semua” kepadanya

Segera serius mikirin nikah deh kalo kamu sudah menyerahkan semua hal untuknya. Menyerahkan waktumu, tenagamu, pikiranmu, bahkan mungkin, tubuhmu. Ups! Kita udah sama-sama dewasa. Banyak fenomena di sekitar kita menunjukkan sepasang kekasih yang tidak memiliki lagi batasan fisik diantara keduanya. Nasihat orang tua tentang tidak boleh begini tidak boleh begitu sebelum menikah, sudah semakin diabaikan. Kalau sudah begini, menikah dong!

 

Ketika kamu telah siap, baik secara mental maupun material

Udah punya kerjaan yang jelas, udah cukup mampu untuk membangun rumah tangga, udah punya calon juga, lalu nunggu apa lagi? Nikah aja. Toh nanti setelah menikah, kamu masih bisa pacaran kok sama doi. Bahkan pacarannya bisa lebih total. Haha

 

Umurmu sudah makin tidak muda

Menikah di usia muda lebih banyak untungnya (blog-yoshiewafa.net)

Pikirkan umurmu sekarang. Jika sudah mulai meninggalkan usia muda, kamu harus mulai serius mikirin soal pernikahan. Sayang banget kalo kamu nikahnya ketuaan! Bukan apa-apa sih, tapi kalo kamu tua, nanti jarak antara kamu dan anakmu akan terlalu jauh. Bisa-bisa kamu lebih terlihat seperti kakeknya atau neneknya ketimbang orang tuanya. Terus, emang kamu gak pengen bisa seru-seruan sama istri atau suami selagi masih muda?

 

Saat kamu merasa cukup mengenal sifat-sifatnya dan tak punya alasan lagi pergi darinya

Segera menikahlah jika kamu sudah sulit berpisah (artimimpi.com)

Sudah nemu soulmate? Cirinya, kamu merasa hidupmu terasa lengkap ketika bersamanya. Kamu melihat kelemahannya, tapi itu tidak mengganggu gugat perasaanmu sama sekali. Kamu bahkan tak punya alasan untuk pergi darinya. Matamu serasa tertutup, tidak ada laki-laki atau perempuan lain yang semenarik dia.  Ya udah deh, buruan rencanain pernikahan.

 

Orang tua ingin melihatmu segera menikah dengannya

Paling enak itu kalo kita menjalani hubungan atas restu orang tua. Kamu harus percaya bahwa langkahmu akan terasa ringan jika kamu berjalan sesuai ridho orang tua. Sebaliknya, kamu akan menemui banyak ganjalan jika kamu menentang kehendak orang tua. Termasuk soal nikah. Jangan anggap remeh jika orang tua memintamu dengan serius untuk segera menikah!

 

Trakhir, menikahlah ketika kamu merasa takut terjerumus ke lubang zina

Pcaran sebelum menikah lebih banyak godaan (akhwatindonesia.net)

Ehem, ini serius. Terutama buat kamu yang sudah teramat jatuh cinta dengan pasanganmu. Hati-hati, setan ada dimana-mana. Jangan sampai kamu dibutakan oleh cinta lantas melakukan hal tanpa batas. Solusinya apa dong? Yap, menikah!

Hal-hal Inilah yang Tidak Bisa Dijawab oleh Google!

[ISIGOOD.COM] Kamu pengen tahu profil Einstein? Atau profil Pahlawan Indonesia? Atau malah profil gebetanmu? Gampang! Tinggal search aja di google. Apapun yang pingin kamu tahu, Mbah Google bisa menjawabnya. Eh, tapi ternyata, ada beberapa hal yang nggak bisa dijwab sama mbah Google lho! Apa saja pertanyaan itu? Simak ulasan berikut ini.

1. Kapan wisuda?

Kapan wisuda? (cdn1.listovative.com)

Waduh, pertanyaan sensitif nih buat mahasiswa angkatan tua. “Kapan wisuda?” adalah pertanyaan paling menjengkelkan di muka bumi ini bagi sebagian mahasiswa. Ya ngapain gitu nanya wisuda? Emang kalo kita wisuda, situ mau ngapain? Kapan kita wisuda kan nggak akan mempengaruhi kehidupan dia kan? Jadi, ngapain dia nanya? Ya mungkin dia kurang kerjaan atau emang pengen basa-basi doang.

2. Kapan nikah?

Kapan nikah (moclug.com)

Kalau udah wisuda, muncul deh pertanyaan lanjutan, “Kapan nikah?”. Kalau ada yang nanya gini, jawab aja “Lha kapan kamu mau nikahin aku?” Eeeaaaa. Emang kenapa kalo kita nikah sekarang atau nanti? Apakah akan berpengaruh pada diri si penanya? Tidak! Trus ngapain dia nanya? Ya mungkin dia lagi kurang kerjaan atau emang pengen basa-basi aja.

3. Buat yang jomblo: kapan punya pacar?

Kapan punya pacar? (livehdwallpaper.com)

Nah, khusus buat para jomblowers nih. Ada petanyaan yang cukup menjengkelkan juga “Kapan punya pacar?”. Lho, emang kenapa kalau kita punya pacar? Kayaknya yang lagi nanya nih kepengen banget kita punya pacar, atau kepengen nyindir? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

4. Buat yang udah punya pacar: apakah dia jodohku?

Apakah dia benar-benar jodohku? (i.huffpost.com)

Buat yang udah punya pacar, kadang bertanya-tanya dalam hatinya “Ya Tuhan, apakah dia jodohku?”. Kemudian dilanjutkan dengan sebuah doa “Jika dia jodohku, Alhamdulillah. Jika dia bukan jodohku, jodohkanlah”. Memang jodoh itu misteri sih. Mbah Google yang serba tahu aja nggak tahu siapa jodoh kita. Hmm…

5. Buat yang baru aja putus dari pacarnya: kapan aku bisa move on?

Kapan bisa move on? (www.wikihowto.net)

Jawabnya ada di ujung langit, kita ke sana dengan seorang anak (Eh kalo ini mah lagu soundtracknya Dragon Ball). Ya siapa yang tahu kapan kamu move on? Mau tanya sama siapapun juga ngga ada yang bisa jawab. Mending kamu baca deh artikel ini supaya bisa segera move on dari mantan pacar kamu.

6. Abis lulus kuliah mau ngapain?

Abis lulus kuliah mau ngapain hayo? (cdn-media-2.lifehack.org)

Ini pertanyaan yang cukup membingungkan juga bagi beberapa mahasiswa. Untuk yang memilih jurusan kedokteran, kebidanan, atau keperawatan, mungkin jawabannya sudah jelas. Tapi bagi yang memilih jurusan selain itu, nanti setelah kuliah mau ngapain? Jawabannya belum pasti. Mau kerja di mana? Belum pasti juga jawabnya. Apa mau lanjut kuliah? Belum pasti juga. Ah, seandainya Mbah Google bisa tahu jawabannya.

Nah, itu dia kira-kira pertanyaan yang nggak bisa dijawab sama Mbah Google—yang katanya serba tahu. Hidup memang datang tanpa instruksi. Kita yang harus mencari tahu sendiri—jawabannya. Masa depan juga misteri. Tapi kata motivator, masa depan itu bisa dibentuk. Gimana caranya? Ya dengan membentuk kebiasaan kita mulai saat ini. Kebiasaan akan membentuk siapa kamu. Satu-satunya cara untuk meramalkan masa depan adalah dengan menciptakannya.

Menurutmu, ada lagi nggak pertanyaan yang nggak bisa dijawab sama Mbah Google? Jangan lupa share ya 🙂

Mengapa Wanita Cantik Lebih Memilih Menikah dengan Laki-laki Bertampang ‘Biasa’?

Bila membaca sebuah publikasi ilmiah dari hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di University of Tennesse, membuat tersadar mengapa penampilan menarik dari seorang pria bukan lagi menjadi patokan bagi wanita cantik untuk menikah. Hasil penemuan penelitian yang dipublikasikan di Journal of Family Psychology ini sekaligus memberikan sanggahan baru tentang definisi ‘pasangan ideal’.

Tentunya ini merupakan kabar gembira buat laki-laki bertampang pas-pasan alias tidak terlalu tampan. Atau bagi laki-laki yang mungkin merasa dirinya nggak tampan, nggak ganteng, nggak keren.

Kalau anda termasuk dalam kategori laki-laki seperti itu, harapan untuk mendapat istri cantik dan keren, terbentang lebar. Karena dalam penelitian ini, menikah dengan laki-laki yang tampangnya pas-pasan, malah justru bisa membuat wanita lebih bahagia.

Tak perlu heran melihat begitu banyak wanita cantik menggandeng pria bertampang ‘biasa’, bahkan cenderung tidak keren. Menurut penelitian itu, para wanita cantik yang menikah dengan pria berwajah biasa justru merasa lebih bahagia dibanding dengan pasangan yang ganteng. Sebaliknya, laki-laki lebih bangga jika menggandeng perempuan cantik.

Mengapa wanita lebih memilih pria yang wajahnya biasa-biasa saja?

Fakta di jaman modern ini menunjukkan kecenderungan, wanita cantik yang ingin menikah kini lebih memilih pria yang secara fisik kurang menarik. Karena membuat wanita menjadi lebih percaya diri. Sebab, itu mampu meningkatkan kepercayaan diri. Hal ini juga berlaku untuk sang wanita. Artinya, wanita cantik merasa nyaman karena dia mendapat perhatian lebih dari pria tidak menarik.

Para responden dalam penelitian yang dilakukan oleh para ahli di University of Tennesse tersebut mengatakan, dalam perkawinan, para pria memang mendapatkan manfaat besar karena memiliki istri cantik. Sementara itu para istri mengaku memang mencari pasangan yang bisa dan mau mendukungnya, meski kurang tampan.

Dalam penelitian ini para ahli psikologi dari University of Tennesse melibatkan 82 pasangan suami istri yang baru menikah enam bulan dan sebelumnya berpacaran selama tiga tahun. Keseluruhan pasangan berusia rata-rata 20-an tahun. Hasil penelitian yang diketuai oleh peneliti dari Universitas Tennessee, James McNulty, ini menyanggah penelitian sebelumnya, yakni fisik bukan menjadi faktor utama memilih pasangan hidupnya. Berdasarkan hasil penelitian terbaru, kecantikan merupakan langkah awal menjalin sebuah hubungan.

“Saat memulai sebuah hubungan, faktor kecantikan fisik sangat dominan. Namun, banyak pasangan menyadari kecocokan sebuah hubungan tidak hanya berdasarkan fisik,” ujar James McNulty. Dengan demikian, tidak jarang pernikahan menjadi rentetan sebuah masalah karena ketidakcocokan yang dirasakan. Dia menekankan bahwa, “Pernikahan merupakan sebuah misteri,” lanjutnya.

Dalam observasi penelitian, setiap pasangan mendiskusikan masalah yang dihadapi selama 10 menit dan selanjutnya dianalisis. Dalam pengamatan tersebut, setiap pasangan harus saling mendukung, seperti menjalani pola hidup sehat, mencari pekerjaan baru, berolahraga bersama.

“Ada dua versi jawaban dan coba bandingkan. Ada suami yang menjawab, ‘Itu masalahmu dan kamu harus bisa mengatasinya sendiri’. Ada pula suami yang menjawab, ‘Aku selalu ada di sini untuk membantu?’,” ungkapnya.

Subjek yang menjadi sumber penelitian diwajibkan menjawab kuesioner dari segi ketertarikan fisik dengan skala 1-10. Alhasil, sepertiga dari mereka memiliki istri yang lebih menarik daripada sisanya. Sementara itu, sisanya mempunyai fisik yang sama-sama menawan.

Kesimpulan

Kemudian ditarik kesimpulan, suami yang berkelakuan baik mempunyai istri berwajah menarik. “Penemuan ini terasa sangat rasional,” tutur Profesor Perilaku Ekonomi MTI Program dari Media Arts and Sciences and Sloan School of Management Dan Ariely.

Meski tidak ikut terlibat dalam penelitian tersebut, Ariely memberikan respons atas penelitian McNulty. “Pria lebih tertarik dengan wanita berwajah dan berpenampilan menarik. Adapun, pada wanita lebih tertarik dengan postur pria serta penghasilan tinggi,” ujar Ariely.

“Suami yang mempunyai fisik tidak menarik akan memperoleh lebih dari yang seharusnya,” sebut McNulty dalam LiveScience seraya menyarankan sebaiknya kedua pasangan saling mendukung. Secara teoritis, pria rupawan dibandingkan pasangannya bisa mendapatkan pasangan yang lebih menarik dari pasangannya sekarang.

Istilah rumput tetangga lebih hijau terkadang masih berlaku dan membuat pria selalu merasa tidak puas. “Ternyata, mempunyai suami menarik secara fisik bukan lagi menjadi hal penting bagi wanita. Sebab, wanita lebih membutuhkan perasaan nyaman serta dukungan dari suami,” lanjutnya.

Jadi, secara umum bisa ditarik kesimpulan lebih jauh, bahwa pasangan suami istri bersikap positif dan lebih adem ayem jika sang istri berwajah cantik. Sebaliknya wanita yang bersuamikan pria tampan justru kurang kompak satu sama lain. Demikian pula, jika para laki-laki tampan menikahi wanita yang wajahnya ‘standar’, mereka umumnya merasa kurang puas dengan perkawinannya.

Kesimpulan berikutnya, dalam sebuah perkawinan, pasangan yang sepadan bukanlah semata saat seorang wanita cantik berjodoh dengan pria tampan. Namun lebih dari itu, sepadan berarti saat dua orang saling melengkapi.

Jadi, kelak kalau berpapasan dengan pria berwajah yang tidak terlalu tampan ternyata mampu menggaet wanita cantik, artikel ini cukup menjelaskan toh? Daripada ganteng-ganteng tapi was-was kalau digaet cewek lain!

Semoga bermanfaat…

Disadur dan dikembangkan dari sumber: Live Science dan Kompas.com