Diet Ketogenik, Amankah?

[ISIGOOD] Akhir-akhir ini, muncul suatu jenis diet ‘baru’ yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan dan dikatakan efektif untuk menurunkan berat badan dalam waktu yang singkat. Diet tersebut adalah diet ketogenik. Diet ketogenik merupakan diet tinggi lemak, rendah karbohidrat, dan cukup protein.

Menilik dari sejarah diet ketogenik, ternyata diet ini bukanlah diet baru melainkan deit yang sudah mulai dilakukan sejak hampir satu abad lalu bahkan sebelum adanya era penelitian ilmiah. Pada abad ke 5 M, Hipocrates menjelaskan bahwa orang yang kejang dapat sembuh dengan berpuasa. Setelah itu, dilakukan observasi oleh beberapa peniliti terhadap penderita epilepsi yang berpuasa selama 25 hari. Hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa 90% anak-anak dibawah umur 10 tahun sembuh dari epilepsi dan 50% dewasa usia 25-40 tahun mengalami penurunan tingkat kejang. Kemudian muncul gagasan diet ketogenik yang bertujuan untuk meringankan kejang pada penderita epilepsi pada tahun 1921 oleh Wilder. Ia menggagas bahwa diet tinggi lemak rendah karbohidrat akan memiliki efek yang sama seperti puasa karena akan memberikan efek ketosis. (Neal, 2012; Stafstrom, 2004)

https://pbs.twimg.com/media/DWUmiCMW4AAHz49.png

Sejak saat itu, diet ketogenik banyak dipreskripsikan oleh tenaga kesehatan profesional untuk terapi penderita epilepsi. Dalam pelaksanaannya, tenaga kesehatan yang mengawasi adalah epileptologis dan dietisien. Sebelum melakukan diet ini, pasien harus melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah terdapat kelainan metabolik atau tidak karena kelainan metabolik mengharuskan dilakukan penyesuain preskripsi diet atau bahkan tidak dapat melaksanakannya. (McDonald, 1998)

Diet ketogenik ini sendiri memiliki kontraindikasi untuk orang-orang yang memiliki keadaan tertentu, seperti pada orang yang memiliki kelainan oksidasi asam lemak, sedang mengalami gastri-esofageal reflux, alergi terhadap makanan tertentu, hiperlipidemia genetik, dan disfagia. Namun, khusus untuk oranng yang mengalami diabetes mellitus dan hipertensi perlu dilakukan penyesuaian medis dan monitoring lebih lanjut sebelum menjalankan diet ketogenik ini. (Neal, 2012)

Ada beberapa jenis diet ketogenik berdasarkan besarnya kadar lemak yang dikonsumsi, antara lain diet ketogenik dan modified atkins diet (MAD). Pada prinsipnya, kedua jenis tersebut tetap sama yaitu tinggi lemak dan rendah karbohidrat namun ada perbedaan pada jumlah lemak yang dikonsumsi. Pada diet ketogenik klasik, lemak harus dikonsumsi sebanyak 90% dari total kalori, protein sebanyak 6%, dan karbohidrat sebanyak 4%. Hal tersebut berarti apabila seseorang membutuhkan 2000 kalori, maka total lemak yang dikonsumsi sebesar 1800 kalori atau sebanyak 200 gram per hari, protein sebanyak 30 gram dan karbohirat sebanyak 20 gr. Berbeda dengan MAD yang merupakan modifikasi diet ketogenik terbaru, memiliki rasio konsumsi lemak sebesar 65%, protein 35%, dan karbohidrat 5%. Dengan diet ketogenik jenis MAD, orang yang menerapkannya dapat mengonsumsi lebih banyak protein dan bisa lebih melakukan variasi terhadap komposisi makanannya. (Scoeler & Cross, 2016)

Konsumsi tinggi lemak dan rendah protein merupakan kebiasaan makan yang tidak umum dilakukan oleh semua orang. Lalu, bagaimanakah respon tubuh terhadap perubahan kadar zat gizi makro yang dikonsumsi? Telah disinggung sebelumnya bahwa diet ketogenik memberikan efek yang sama seperti puasa. Hal tersebut dikarenakan rendahnya asupan karbohidrat yang membuat tubuh mengkonversi lemak menjadi energi atau disebut dengan ketosis. Sebelum lemak digunakan sebagai sumber energi, glikogen merupakan cadangan energi pertama yang digunakan ketika kadar glukosa darah mengalami penurunan. Glikogen sendiri merupakan bentuk simpanan glukosa yang disimpan di dalam hati dan otot. Namun begitu, glikogen hanya cukup untuk menghidupi tubuh selama beberapa hari jika glukosa tetap tidak mencukupi. (Hall, 2012)

Ketika karbohidrat yang dikonsumsi sedikit, maka glukosa darah akan menurun begitupun dengan kadar hormon insulin. Hal tersebut kemudian menstimulasi peningkatan hormon glukagon yang akan mengubah glikogen menjadi sumber energi. Kemudian apabila glikogen sudah habis, trigliserida yang berada di dalam sel lemak akan dimobilisasi ke hati untuk menjalani lipolisis (pemecehan lemak). Hasil dari lipolisis adalah asam lemak bebas dan gliserol. Asam lemak bebas akan diedarkan ke seluruh tubuh sebagai sumber energi dan apabila terdapat asam lemak bebas berlebih akan dibawa ke hati untuk diubah menjadi badan keton yang disebut fase ketogenesis. Proses inilah yang menjadi asal nama diet ketogenik. (Tortora, 2011)

 

https://d2ebzu6go672f3.cloudfront.net/media/content/images/DIET-made-of-sliced-vegetables-87883148(1).jpg

 

Penggunaan keton menjadi sorotan utama dari diet ketogenik terkait dengan fungsinya di dalam tubuh. Fungsi utama keton adalah sebagai sumber energi untuk otak. Seperti yang diketahui, otak menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama. Selain glukosa, ternyata otak dapat menggunakan keton sebagai sumber energi ketika glukosa mengalami penurunan. Sedangkan fungsi lain dari keton adalah sebagai sumber energi untuk jaringan lainnya. (Hall, 2012)

Lalu bagaimana dengan klaim masyarakat terhadap kemampuan diet ini untuk menurunkan berat badan? Menurut hasil studi dari Castado, et al (2016), diet ketogenik jangka pendek pada penderita obesitas efektif dalam menurunkan berat badan, lingkar pinggang, tekanan darah, dan resistensi insulin pada dewasa yang memiliki BMI ≥ 45. Penelitian lain yang dilakukan pada penderita obesitas selama 4 bulan dengan diet ketogenik dengan kalori yang sangat rendah menunjukkan penurunan berat badan awal sebesar 3,1 kg. Namun setelah dilakukan pemeriksaan komposisi tubuh, sebanyak 74% dari 3,1 kg tersebut merupakan kadar air yang hilang. Kemudian pada akhir penelitian total penurunan berat badan yang terjadi adalah 20,2 kg dengan nilai p <0,0001 yang berarti terjadi penurunan berat badan yang signifikan (Gomez-Arelaez, 2016). Dalam penelitian lain, diet ketogenik memang memperlihatkaan penurunan berat badan yang lebih banyak dibandingkan dengan diet tinggi karbohidrat. Akan tetapi apabila massa air yang hilang dalam diet ketogenik dipisahkan, maka penurunan berat badan yang terjadi di anatar kedua jenis diet tersebut tidak begitu berbeda (McDonald, 1998).

Mekanisme penurunan berat badan dari diet ketogenik ini masih menjadi perdebatan. Beberapa hipotesis mengenai mekanisme penurunan berat badan tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, berkurangnya asupan makanan karena penurunan nafsu makan. Kedua, penurunan pembentukan sel lemak dan peningkatan pemecahan sel lemak. Ketiga, energi yang keluar menjadi lebih banyak karena proses pemecahan lemak dan protein menjadi energi membutuhkan energi yang lebih banyak daripada penggunaan glukosa langsung (Paoli, 2014).

Selain dapat menurunkan berat badan, diet ketogenik ternyata memiliki dampak bagi kesehatan, antara lain resistensi insulin, penumpukan asam urat, konsipasi, dan defisiensi vitamin D. Resistensi insulin terjadi ketika karbohidrat dikonsumsi kembali setelah adanya pembatasan konsumsi karbohidrat karena terjadi perubahan kadar enzim yang berhubungan dengan pemecahan karbohidrat dan lemak. Penumpukan asam urat juga dapat terjadi karena ginjal akan mengutamakan ekskresi badan keton sebelum asam urat. Sedangkan konstipasi terjadi akibat rendahnya asupan serat karena pembatasan konsumsi karbohidrat dan kurangnya vitamin D serta kalsium yang dapat mengakibatkan pelaku diet ketogenik mengalami penurunan kesehatan tulan. Selain itu, konsumsi karbohidrat yang rendah menyebabkan rasa letih, mengantuk, dan hipotensi. (McDonald, 1998; Bergqvist, 2008).

Dengan demikian, diet ketogenik masih menjadi perdebatan terkait keamanannya untuk dilakukan meskipun terbukti dalam beberapa penelitian dapat menurunkan berat badan, namun ternyata dapat berdampak negatif bagi kesehatan.

Oleh Rizka Ryanindya