Pesona Festival Terbesar di Laos, Negara Tak Berpantai

[ISIGOOD.COM] Negara di Asia Tenggara ini menyimpan banyak hal menarik dan eksotis untu dikunjungi. Hampir semua dari kita menyebutnya dengan Laos (dengan huruf  “s” yg kental), meskipun tidak salah, namun pengucapan yang benar adalah “Lao” tanpa S. Prancis memberi nama negara ini dengan Laos, berdasarkan etnis yang terbesar dan dominan di kawasan tersebut. Dalam bahasa Prancis, huruf “s” di belakang sebuah kata biasanya tak diucapkan, sehingga pengucapannya adalah “Lao”).

Inilah satu-satunya negara Asia Tenggara yang tidak mempunyai pantai (landlocked) dan dikelilingi daratan negara-negara tetangganya, Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan China. Inilah salah satu negeri yang dari dulu selalu ingin saya kunjungi. Karena letak geografisnya yang ‘tersembunyi’ di balik negara-negara tetangganya yang lebih populer, dulunya mencapai ke Laos bukanlah hal yang murah dan mudah. Harus beberapa kali transit dan bertukar pesawat untuk sampai ke sini.

Untungnya, era penerbangan murah sukses membuka pintu udara Laos, dan ‘banjir’ wisatawan mancanegara ke negara tersebut telah membuka pintu harapan baru menuju kemakmuran ekonomi. Sektor pariwisata telah menjadi kontributor terbesar ke-2 terhadap ekonomi negara tersebut setelah pertanian. Menurut data dari Kementerian Pariwisata Laos, pada tahun 90an, negara tersebut rata-rata hanya didatangi sekitar 80.000 turis mancanegara per tahun, kini jumlahnya meningkat berkali-kali lipat, menjadi sekitar 4 juta kunjungan per tahun. Dengan penduduk hampir 7 juta (saja), jumlah 4 juta tentu adalah proporsi yang luar biasa.

Saya sempat mengunjungi negara indah ini. Slogan pariwisatanya pun tak muluk-muluk, yakni “Simply Beautiful”. Saya terbang dari Surabaya, transit di Bangkok 1 malam. Pagi harinya, saya terbang ke Wattay Internasional Airport yang berada di kota Vientiane, ibukota negara Laos. Saya mendarat di Vientiane masih cukup pagi, dan langsung berbegas ke hotel.

Tak banyak yang saya bisa lihat dari taksi yang membawa saya dari airport ke hotel, karena jaraknya sangat dekat. Artinya, bandara Wattay memang belum begitu sibuk. Bandara ini ‘hanya’ melayani sekitar 1 juta penumpang per tahun (bandingkan dengan, misalnya, bandara Sam Ratulangi di Manado yang sudah melayani 2 juta penumpang per tahun). Meski begitu, pemerintah Laos jauh-jauh hari sudah mempersiapkan ekspansi bandara Wattay untuk mengantisipasi lonjatan wisatawan mancanegara yang makin bertambah jumlahnya tiap tahun. Langkah yang baik.

Festival di Laos (treasuresoflaos.com)

Tujuan utama saya ke Laos adalah melihat langsung festival yang disebut-sebut paling populer dan terbesar di negara Buddha tersebut, yakni festival That Luang. Festival ini dilaksanakan di dalam kuil That Luang, kuil terbesar dan paling penting bagi penganut Buddha Teravada di Laos, yang letaknya juga berada di tengah kota Vientiane. Kuil That Luang (Stupa Emas) dibangun pada 1566 dan telah beberapa kali hancur karena serangan kerajaan Siam (Thailand kini) , dan telah direnovasi beberapa kali.

Festival ini berlangsung 3 hingga 7 hari pada minggu bulan purnama penanggalan Buddha, sekitar November atau Oktober. Festival dimulai dengan penyalaan lilin beraneka warna di petang hari di depan Wat Simeuang, dimana para peserta festival (para jamaah) berkumpul dan berjalan mengelilingi bangunan tersebut 3 kali. Wat Simueuang disebut sebagai pilar kota Vientianna, dan merupakan tujuan wisata populer di Vientiane. Kuil Buddha ini berada di reruntuhan kuil Hindu Khmer kuno. Kuil yang sekarang, yang dibangun pada tahun 1563, dipercaya dijaga oleh ruh gaib, yaitu ruh seorang wanita yang sedang hamil bernama Nang Si, yang dikorbankan ketika kuil ini dibangun. Nang Si dipercaya menjadi penjaga kota Vientiane, dan setiap tahun dilakukan ritual untuk menghormati rohnya di tempat tersebut.

Para peserta mengelilingi kuil tersebut dengan memegang lilin, dupa, dan bunga, sambil memukul kendang dan simbal sembari mengelilinginya.

Prosesi berlanjut keesokan harinya, pada menjelang petang hari. Kali ini diikuti oleh lebih banyak orang, mencapai ribuan orang. Mereka berkumpul membawa berbagai macam perangkat upacara, memakai baju tradisional Laos yang terbaik atau terbaru, untuk menghormati That Luang. Mereka bernyanyi, bermain musik, dan menari mengelilingi stupa emas raksasa tersebut searah jarum jam, sambil dipandu lafal doa dari biksu-biksu melalui pengeras suara.

Hari berikutnya, festival pun berlanjut. Lagi-lagi ribuan orang berkumpul sejak fajar di That Luang untuk memberi derma kepada ratusan biksu yang datang dari sekitar Vientiane, dan beribadat di stupa. Inilah “taak baat” dimana orang-orang mulai berdatangan sejak pukul 4 pagi, demi mendapatkan tempat terbaik di area That Luang untuk bersembahyang dan menyampaikan persembahan mereka. Baik di dalam maupun di luar stupa, ratusan biksu berbaju oranye berkumpul untuk menerima persembahan tersebut.

Selama prosesi ‘taak baat’, semua orang duduk diam dan khidmat mendengarkan doa-doa panjang yang dilafalkan oleh biksu melalui pengeras suara. Beberapa orang menuangkan air ke tanah sebagai simbul persembahan kepada Ngamae Thorani (dewi bumi) untuk menyampaikan pada leluhur mereka untuk datang dan menerima persembahan mereka, sedangkan beberapa orang yang lain melepaskan burung-burung dari sangkarnya sebagai simbol mendatangkan berbagai kebaikan di kehidupan. Setelah prosesi selesai, semua orang secara tertib berusaha mencapai stupa untuk secara langsung memberikan persembahan mereka kepada para biksu, menyalakan lilin dan duba, dan berdoa untuk keberuntungan.

Seluruh prosesi festival That Luang akan berakhir menjelang bulan purnama. Inilah masa dimana ribuan orang akan kembali ke That Luang untuk terakhir kalinya menyalakan lilin, dan menyulut dupa.

Saya merasakan kekhidmatan dan kebahagiaan di festival yang penuh warna tersebut. Dari dulu saya mendengar bahwa masyarakat Laos terkenal dengan kesabaran dan kebaikan hatinya. Dalam budaya Laos, budaya meminta, apalagi mengemis, sangat ditabukan. Mereka diajarkan untuk selalu membantu dan memberi, dan mendahulukan kepentingan bersama. Di festival ini, orang-orang tersebut berkumpul secara massal.  Terlihat sekali betapa event ini begitu dinantikan oleh masyarakat Laos,  para peserta upacara datang dari seluruh penjuru negeri, bahkan dari warga Laos yang bermukim di luar negeri. Di Indonesia, mungkin seperti lebaran yang selalu dinantikan, dipersiapkan, dan keluarga saling bertemu.

Jika anda tertarik untuk melihat budaya Laos, mulailah dari festival ini, dan amati betapa budaya, adat istiadat, kebiasaan, dan orang-orang Laos berkumpul, dan bergembira. Setelah itu, silakan berkeliling ke negeri tak berpantai ini. Selamat berlibur ya 🙂

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Siswa SD Ini Memukau Dunia Internasional Lewat Pertunjukan Wayang Orang

[ISIGOOD] Erriezha Arriefqi Hidayat, siswa SDN 2 Sido Kumpul, Gresik, Jawa Timur ini menceritakan kisah yang unik dan memukau. Ia berhasil merebut hati juri-juri internasional. Dirinya dan tim pulang ke tanah air dengan membawa penghar­gaan tertinggi, setelah berhasil memperkenalkan sosok Buto Ijo dalam sebuah pertunjuk­kan wayang orang di World Creativity Festival di Korea.

Melalui cerita berdurasi 8 menit, Erriezha, Cerita fiksi yang dipentas­kan Erriezha dan teman-te­mannya ini mengisahkan ten­tang persahabatan antara Buto Ijo dan sebuah robot masa depan yang datang dari tahun 3030. Buto ijo sendiri dikenal sebagai tokoh dalam legen­da cerita rakyat di Indonesia, yakni raksasa bertubuh besar dan berwarna hijau.

Mulanya Buto Ijo yang berjalan menyusuri hutan untuk mencari Arjuna. “Ceritanya Buto ijo ini mau membalas dendam sama arjuna,” kata Erriezha.

Dalam pengelanaannya, Buto Ijo menemukan sebu­ah gua yang ternyata di dalamnya terdapat sebuah robot canggih dari masa depan. “Dia tidak jadi bertemu Arjuna, tapi justru ketemu Robot dari tahun 3030. Si robot tidak menyangka kalau itu buto ijo, soalnya buto ijonya badan­nya kecil, tidak raksasa,” jelas Erriezha.

Singkat Cerita, buto ijo dan robot justru menjalin persahabatan. Erriezha menyelipkan modernitas dalam ceritanya, di mana sang robot justru memperkenalkan banyak hal terkait teknologi kamera terbaru kepada buto ijo. “Bahkan robotnya mengajarkan buto ijo bagaimana caranya selfie pakai kamera. Nah itu dia unsur sainsnya saya masukkan,” jelas Erriezha.

Erriezha Arriefqi Hidayat bersama guru-gurunya (bangsaonline.com)

Kisah buto ijo dan robot masa depan itu diangkat dari ide dan imajinasi khas anak-anak. Imajinasi ten­tang dua tokoh itu yang kemu­dian dituangkan dalam bentuk skenario sederhana.

Awalnya, skenario itu dipentaskan di Bundaran Hotel Indonesia (HI) bebera­pa waktu lalu dan diabadikan dalam bentuk video. Video inilah yang dikirimkan Erriezha dan pendamping dari Kemdikbud ke panitia World Creativity Festival, di Korea. “Jadi kedatangan kami di Ko­rea ini hanya untuk presentasi, dan mempertunjukkan ulang,” kata Erriezha.

Erriezha yang ber­peran sebagai penulis cerita sekaligus dalang ini menjelaskan bahwa menurut juri Kisah buto ijo ini dianggap unik, karena berhasil meracik unsur sains dengan seni serta budaya dengan apik. Sehingga juri pun tak ragu-ragu mengganjar Wayang Orang Show karya siswa kelas 6 SD ini dengan penghargaan grand prize, sebagai penghargaan tertinggi dalam WCF 2015.

“Kata Juri Wayang orang show ini unik, berbeda de­ngan yang lain, kreatif,” jelasnya.

Pertunjukkan ini sendiri dituturkan dengan mengguna­kan pengantar bahasa Inggris. “Saya dalang, dan teman Saya sebagai story tellernya,” ujar Erriezha.

Untuk memperkental unsur budaya, Erriezha memberi­kan narasi tentang sejarah wayang. Begitu juga di tengah-tengah Cerita, buto ijo dan wayang diskenariokan menari tarian jawa.

“Karena ini gabungan antara sains dan seni, jadi seninya harus ada dalam per­tunjukkan,” kata bocah yang bercita-cita jadi insinyur di pesawat Airbus ini.

Di kesempatan yang sama, Direktur Pembinaan SD, Kemdikbud, Wowon Widaryat mengatakan bahwa tahun ini merupakan tahun pertama Indonesia membawa medali sepanjang pelaksanaan WCF sejak tahun 2005 lalu.

“Festival ini sangat berat, ada 14 negara seperti Korea, China, Saudi Arabia dan lain­nya, peserta bersaing secara ketat. Biasanya kita pulang dengan tangan hampa, tapi tahun ini dapat 3 penghar­gaan sekaligus,” ungkap Wowon.

Tak seperti lomba lain yang menyediakan banyak me­dali sampai ke juara harapan, WCF hanya memperebutkan satu emas, perak, perunggu di setiap kategori, serta satu grand prize untuk keseluruhan lomba sebagai penghargaan tertinggi. Bahkan, ungkap Wowon, tahun ini mereka dapat grand prize.

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Uniknya Taipei dan Wajah ‘Serius’ Pasukan Penjaga (Patung) Chiang Kai-Sek

[ISIGOOD.COM] #Travelling

Beberapa waktu yang lalu, tibalah di pusat kota Taipei, di daerah Ximen bersama sopir taksi yang mengantarkan dari Taoyuan Airport –yang nama aslinya adalah Bandara Internasional Chiang Kai-shek– dan terletak di kota Taoyuan, Taiwan. Sekilas, pemandangan di Taipei sangat memiliki kemiripan dengan pemandangan di Jepang.

image

Yup, sekilas kita akan menemukan pemandangan yang mirip Jepang. Mengapa mirip Jepang? Karena wajah mereka sekilas mirip wajah orang Jepang dan tulisan Kanji-nya juga sama! Tulisan Kanji tersebar dan digunakan di mana-mana di Taipei, dan semua dipenuhi oleh huruf Kanji. Taiwan –sama dengan Jepang– menggunakan huruf Kanji yang sejak ribuan tahun yang lalu sudah digunakan di Cina daratan. Tapi yang jelas, Taipei sangat mirip dengan Cina, karena memang mereka adalah keluarga yang puluhan tahun yang lalu akhirnya terpisahkan oleh takdir politik.

Anti kemacetan dan kemudahan transportasi

Apakah jalan raya di Taipei padat dan macet? Padat, iya. Tapi, macet, jelas tidak. Lalu lintas memang padat, tapi tak terjadi kemacetan lalu lintas. Di setiap titik selalu terlihat stasiun kereta bawah tanah dan halte bis kota. Tidak terlihat aksi ugal-ugalan di jalan, dan zebra cross betul-betul ada dan bermartabat, karena kendaraan bermotor kalah derajatnya ketika akan melintas zebra cross yang sudah disinggahi pejalan kaki.

Cukup dengan berbekal memahami peta jalur bis dan subway –yang memang mudah dipahami, kita bisa mencapai hampir semua tempat penting di Taipei. ‘Konsekuensi’nya satu, yaitu badan makin sehat bugar karena harus menggenapi perjalanan kita dengan berjalan kaki, sekitar 10-15 menit dari stasiun subway untuk mencapai tempat yang dituju.What a perfect combination! Cepat, murah dan sehat. Tinggal diset saja jadwal dan waktunya, kapan kita harus tiba di stasiun MRT karena kereta subway hampir tidak pernah datang terlambat. Kalaupun ketinggalan kereta subway, tidak perlu cemas yang berlebihan karena kereta subway selalu datang setiap 5 s/d 12 menit sekali.

Hal-hal unik di Taipei

Kadang kita akan menemui pengamen atau pemusik jalanan di Taipei, dan betul-betul terkonsep seperti pertunjukkan profesional. Hanya saja pertunjukan itu ditampilkan di pinggir jalan mengharapkan para pejalan kaki berhenti dan mengapresiasi penampilan mereka. Pertunjukan mereka mampu menghentikan langkah kaki banyak orang di sekitarnya, tidak sebentar karena berlangsung selama beberapa lagu. Beberapa orang sempat ‘terhenti’ setengah jam menapaki Taipei gara-gara terhanyut oleh kualitas performance para pengamen jalanan tersebut.

Taiwan 2

Pedagang dengan gerobak dorong banyak terlihat di Taipei. Ternyata di sana terdapat cukup banyak penduduknya yang masih harus ‘berjuang’ turun ke jalan berjualan gorengan. Beberapa warung makannya juga ada kemiripan dengan warung nasi goreng (oriental) di Jakarta. Yaitu dapurnya terletak di depan, dengan tujuan agar aroma masakannya menggoda setiap pejalan kaki yang melintasi warung atau restoran kecil mereka. Keberadaan pedagang kaki lima dan penjual suvenir di pinggir jalan juga relatif mudah ditemui di Taipei.

-- 1010477_10152802991469935_2722613624855567591_n

Taiwan dan Cina Sama-Sama Menyanjung dan Me-legenda-kan Pemimpin Besar Masa Lalu

Memang ada banyak kemiripan Taiwan dengan Cina, yaitu mereka sama-sama begitu menyanjung pemimpin besar mereka masing-masing. Cina mengabadikan jasa pemimpin besar mereka yaitu pendiri Partai Komunis Cina, Mao Tsetung (baca: Mao Zedong). Sementara itu, patung raksasa Jenderal Chiang Kai-shek (CKS) hingga kini masih ‘duduk nyaman’ dan megah, ‘dijaga’ oleh pasukan khusus di Museum Chiang Kai-shek Memorial Hall, Balai Peringatan Chiang Kai-shek.

CKS 3

7357134282_7a64081c1a

Meski sudah meninggal, (patung) Chiang Kai-shek tetap dihormati dan dijaga dengan ‘serius’

Di dalam CKS Memorial Hall, upacara pergantian pasukan penjaga patung raksasa CKS-pun juga dilakukan dengan tidak main-main. Mereka rutin menggelar parade militer kecil-kecilan yang dapat disaksikan langsung oleh para pengunjung museum. Mirip dengan pasukan penjaga istana Ratu Inggris, pasukan penjaga berdiri di samping patung CKS dengan posisi siap tegap sempurna, tanpa ada gerakan sedikitpun, disertai mimik serius, dan tidak satu patah kata yang terucap. Tak pelak lagi, gaya serius pasukan penjaga patung CKS memancing banjir jepretan termasuk selfie dari para pengunjung museum.

Chiang Kai-shek Memorial Hall merupakan museum yang khusus dibangun untuk mengenang jasa-jasanya. Semua tentang kehidupan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Chiang Kai-shek dipajang rapi disana, termasuk beberapa mobil dinasnya yang masih tampak elegan dan terawat. Sangat kentara sekali bangsa Taiwan meng-agung-agungkan sosok dan kharismanya. Sekilas memang terlihat inilah cara Pemerintah Taiwan mem-propaganda rakyatnya dan masyarakat dunia agar meyakini dan melestarikan kebesaran sejarah Taiwan, yang notabene dulu terpaksa ‘mengalah’ keluar dari Cina daratan. Tapi apapun itu, bangunan CKS Memorial Hall memang sungguh megah, dan dipenuhi ornamen Cina kuno.

Bangsa Taiwan Mengakui Leluhurnya Berasal dari Cina Daratan

Di depan CKS Memorial Hall terdapat sebuah lapangan raksasa dikelilingi taman bunga dan kolam yang indah. Di sekitar lapangan raksasa tersebut terdapat beberapa bangunan besar yang arsitekturnya menyamai istana kaisar di Cina. Bedanya kalau di Taiwan, ‘istana-istana’ tersebut sejak awal difungsikan sebagai musem dan gedung pertunjukkan seni.

Semua itu menggambarkan bahwa bangsa Taiwan tetap meyakini bahwa leluhur mereka adalah orang-orang Cina daratan yang hidup ratusan tahun yang lalu. Namun kalau bicara hubungan mereka dengan saudara-saudaranya di Negeri Cina daratan saat ini, wah… bisa dikatakan agak “complicated” (meminjam istilah alay ala medsos). Pasang-surut hubungan Taiwan-Cina bisa dibaca di berbagai media. Intinya mereka masih canggung dan sedikit ‘sensi’ bila disinggung tentang hubungannya dengan Cina.

Satu lagi yang bisa kita amati, pengakuan terhadap leluhur dari Cina daratan sepertinya lebih ditujukan kepada mereka yang berasal dari suku bangsa Han. Orang-orang Han menjadi penguasa Cina sebelum bangsa Manchuria berhasil menaklukkan Dinasti Ming. Yaitu dinasti terakhir yang dianggap mewakili suku asli Cina (suku bangsa Han). Ada semacam tendensi tidak nyaman mengakui keberadaan keluarga keturunan Manchuria sebagai kaisar-kaisar terakhir Cina. Karena terlihat sekali pada sebuah festival budaya di depan CKS Memorial Hall, gaya rambut cowok dikepang ala Dinasti Qing atau bangsa Manchuria tidak terlalu tampak di tengah keramaian peserta festival tersebut. Gaya berpakaian ala Dinasti Ming dan beberapa dinasti bangsa Han sebelumnya, seperti Song dan Tang, lebih nampak dikedepankan oleh para peserta festival.

-- 10599655_10152804050729935_2643228190162619075_n

Taiwan 3

Spot-Spot Menarik di Taipei Selain CKS Memorial Hall

Selain CKS Memorial Hall, sebenarnya masih ada beberapa tempat lagi yang bisa dikunjungi, yang asyik untuk dikupas melengkapi lorong waktu sejarah Taiwan. Yang pertama adalah ‘Sun Yat Sen Memorial Hall’ yang didirikan untuk mengenang pendiri Kuomintang, atau sering dikenal partai nasionalis Cina. Museum Sun Yat Sen memang tidak sebesar CKS Memorial Hall. Namun meski patung raksasa Dr. Sun Yat Sen tidak sesebesar patung CKS, ternyata juga disediakan pasukan penjaga khusus. Ini merupakan tanda bahwa bangsa Taiwan menganggap sakral hasil penggulingan kekuasaan kaisar Qing terakhir, yaitu oleh pemberontakan besar yang dipimpin oleh Sun Yat Sen.

Yang kedua adalah Menara ‘Taipei 101′. Menara pencakar langit ini merupakan simbol modernisasi Taiwan. Dari menara ini kita bisa betul-betul melihat seluruh penjuru kota Taipei dari ketinggian setengah kilometer (1.667 feet atau setara 508 meter).

Dan yang ketiga adalah ‘National Palace Museum’, tempat penyimpanan harta karun Cina yang dibawa lari oleh Chiang Kai-shek ke Taiwan ketika melarikan diri dari desakan kaum komunis pada tahun 1949. Keberadaan harta karun tersebut dikonfirmasi oleh pemerintah Cina – merupakan harta karun yang sangat bernilai – jatuh ke tangan kaum nasionalis. Jumlah benda berharga yang diangkut diperkirakan mencapai sekitar 650.000 buah, termasuk koleksi-koleksi bernilai tinggi dari Istana Kaisar ‘Forbidden City’ (Kota Terlarang) di Beijing, Cina. Banyak orang bilang, kalau Forbidden City di Beijing sekarang itu adalah sekedar tampak luarnya, karena hampir seluruh isi di dalamnya sudah berpindah ke National Palace Museum di Taipei.

 

 

 

Bersambung …

 

Berburu Festival Film di Yogyakarta

Bagi kalian pecinta film yang tinggal di Jogja sekilas kota ini memang bikin mati gaya. Karena, kota gudeg ini hanya memiliki dua bioskop dengan sebelas layar. Jauh berbeda apabila dibandingkan dengan kawasan Jadetabek yang bertebaran bioskop dengan jumlah total ratusan layar. Kalian harus dibenturkan realitas bahwa hobi kalian tidak bisa tersalurkan dengan maksimal disini. Kondisi ini bisa jadi membuat kalian merasa tidak betah tinggal di kota ini.

Eits, tapi jangan buru-buru merutuki nasib, guys. Di balik keterbatasan jumlah gedung bioskopnya, diam-diam sebenarnya Jogja merupakan kota festival film.

Atmosfer industri kreatif perfilman di kota pelajar ini tidak kalah kental dibandingkan Jakarta dan Bandung. Ditambah animo masyarakatnya (terutama mahasiswa) yang juga selalu tinggi terhadap agenda pemutaran film. So kalau kalian cukup jeli, kalian akan menemukan banyak komunitas atau pusat kebudayaan yang kerap mengadakan pemutaran film gratis sepanjang tahun.

pekan_film4Asyiknya pemutaran itu tidak bersifat eksklusif, alias terbuka untuk umum. Sebut saja Lembaga Indonesia-Perancis (LIP) yang setiap bulan selalu memiliki agenda nonton bareng film-film produksi negara menara Eiffel, atau Kedai Kebun Forum yang juga cukup sering mengadakan pemutaran film-film Jerman.

ChfwqbliTerlebih jika sudah memasuki bulan November-Desember, Yogya selalu punya hajatan besar berupa gelaran festival film. Tidak cukup hanya satu, terhitung ada tiga festival film yang rutin digelar dengan waktu berdekatan setiap memasuki penghujung tahun kalender.

Pertama adalah Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), sebuah festival film inisiasi sutradara papan atas Garin Nugroho yang dihelat dengan tujuan ingin mengangkat karya para moviemaker Asia. Kedua adalah Festival Film Dokumenter (FFD) yang menjadi ajang keusilan para sineas dokumenter untuk menyuarakan isu-isu sosial masyarakat. Terakhir adalah Pekan Film Yogyakarta (PFY) yang merupakan forum unjuk gigi para sineas lokal Jogja. Lokasi penyelenggaraan festival-festival film tersebut biasanya dipusatkan di kompleks Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Festival-festival ini juga seringkali tidak memasang tarif di setiap pemutaran film alias gratis. Apabila memasang tarif pun, biasanya HTM-nya relatif murah.

jaff-2014-film-xtion-479x422Istimewanya, banyak film-film bagus yang diputar di festival ini seringkali tidak akan bisa kalian temui di bioskop biasa. Sebab banyak film merupakan karya sineas-sineas lokal maupun besutan sutradara asing non-Hollywood yang memang tidak didistribusikan di jaringan Cinema 21 ataupun Blitz Megaplex. Selain itu kalian tidak hanya bisa menonton film di festival ini. Dalam satu rangkaian festival, selalu disertakan juga beberapa agenda diskusi film yang turut mengundang sutradara maupun pengamat perfilman. Isi diskusi bisa membahas salah satu film yang diputar di festival hingga diskusi tentang isu-isu perfilman terkini. Kerennya lagi, kalau kalian beruntung kalian bisa bertemu sosok-sosok ngetop perfilman nasional ikut mondar-mandir di berbagai festival ini. Soalnya festival-festival ini memang sudah cukup punya nama di kalangan insan perfilman nasional.

Kalau udah tahu semua informasi di atas, tunggu apalagi? Sekarang saatnya kalian memantau update info event-event kece tadi di website atau twitter. Nah sekarang udah nggak nyesel lagi kan kalian tinggal di Jogja?