Sukses Diterima Kerja karena Sukses Menjawab 18 Pertanyaan Ini

[ISIGOOD.COM] Dari puluhan kali terlibat dalam wawancara dengan ratusan atau bahkan ribuan orang pelamar pekerjaan, ada beberapa jawaban yang menarik untuk dishare disini. Terus terang saya tidak ingat detil kata per kata atau kalimat per kalimat. Pengalaman-pengalaman tersebut dikumpulkan dalam artikel ini berdasarkan konteks dan garis besar jawaban-jawaban para pencari pekerjaan yang saya anggap manjur hingga bisa sukses diterima kerja.

Inilah daftar pertanyaan yang kerap muncul, dan jawaban-jawaban yang akhirnya menjadi faktor penentu sukses diterima kerja.

1. Sebutkan kelebihan anda dan kekurangan anda.

Untuk menyebutkan kelebihan pasti relatif mudah, namun jangan terlalu narsis. Tapi untuk berterus terang tentang kekurangan harap berhati-hati karena bisa menjadi bumerang yang cukup telak di masa mendatang ketika sudah diterima kerja.

“Kekurangan saya adalah terlalu inginnya tepat waktu sehingga kadang-kadang membuat rekan kerja kurang nyaman ketika tidak bisa menyesuaikan dengan ritme saya”.

Atau anda bisa mempertimbangkan jawaban ini,

“Saya kurang bisa memilih dan mengorbankan salah satu dari dua pilihan yang sama-sama baik tapi sifatnya bertentangan di lapangan. Misalnya antara keharusan selesai dengan waktu secepat-cepatnya dan keharusan menghasilkan sesuatu yang sebaik-baiknya”.

Beberapa pewawancara juga bisa menghargai jawaban-jawaban simple dan jujur seperti, kurang bisa mengelola waktu, kurang ingat waktu kalau sudah asyik bekerja, kurang tangguh dalam pekerjaan rutin dan teknis, kurang bisa menolak permintaan orang lain, dan sebagainya.

2. Apa yang membuat anda yakin bahwa andalah yang kami cari untuk posisi/lowongan ini?

3. Apa yang membuat anda berbeda dengan pelamar lain?

Untuk pertanyaan No.2 dan No.3, gunakan strategi ‘Kecap No.1, tapi jangan menjelek-jelekkan kecap lain’. Dulu pernah ada jawaban sebagai berikut,

“Karena saya memiliki kompetensi yang cocok dengan lowongan ini, dan saya betul-betul bekerja keras ketika mempelajarinya di tempat saya bekerja (atau ‘magang kerja’ bagi yang belum punya pengalaman kerja) yang dulu. Pengalaman itu selalu menjadi guru terbaik saya untuk semakin memperbaiki kualitas dan kompetensi saya”.

Bisa dipertimbangkan pula contoh jawaban berikut ini, “Karena saya sejak dulu aktif di organisasi mahasiswa, sehingga sudah terbiasa bekerja sama dalam sebuah tim, serta terbiasa berkomunikasi serta melayani dan membantu orang lain.”

4. Berapa gaji minimal yang anda harapkan?

Inilah pertanyaan klasik yang selalu muncul. Tapi uniknya, sebagian besar pelamar terlihat salah tingkah dan tidak nyaman ketika menjawabnya. Seharusnya dipersiapkan jawaban dan alasan pendukungnya. Misalnya,

“Saya akan menyesuaikan diri dengan aturan penggajian di perusahaan ini.”

Ini sebagai jawaban awal, kemudian lihat situasinya. Apabila ditanya lebih jauh, cobalah hingga mampu menyebut kisaran angka. Apabila harus menyebutkan angkanya, maka saya berharap 4 sampai dengan 5 juta rupiah, tentunya dengan segala pertimbangan”.

5. Pertanyaan lanjutan: Mengapa anda menginginkan gaji minimal sebesar itu?

“Dengan beban kerja yang diberikan kepada saya, serta dengan kemampuan yang saya miliki, saya yakin akan mampu memberikan yang terbaik. Oleh karena itu saya juga berharap mendapatkan penghasilan yang mencukupi untuk membiayai kebutuhan pokok dan mulai bisa menabung untuk masa depan. Angka yang saya sampaikan tadi saya perhitungkan cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dan mulai menabung”.

8 Hal yang Membuat CV Anda Makin Powerful

Inilah saatnya anda mengupdate CV (Curriculum Vitae) anda. Kapan terakhir anda melakukannya? Pasti ada banyak hal baru, data dan informasi tentang anda yang semakin bertambah atau berkembang.

Berdasarkan pengalaman saya menyeleksi belasan ribu pelamar pekerjaan selama ini, pastikan anda meng-upgrade CV anda sesuai dengan 8 hal dibawah ini agar semakin powerful.

1. Tuliskan dengan kejujuran

Kejujuran adalah pilar utama kesuksesan. Memang betul, CV harus betul-betul meyakinkan. Tapi kalau data yang diisikan adalah palsu, maka anda telah meneken sebuah kontrak kehancuran masa depan anda. Misalnya, anda memalsukan gelar atau IPK, jangan dikira HRD perusahaan akan langsung percaya mentah-mentah. Sangat mungkin HRD melakukan cross-check ke kampus untuk menanyakan keabsahannya. Kalau ketahuan, fatal akibatnya dan anda tidak dipercaya untuk selamanya.

2. Sesuaikan dengan target dan tujuan

Misalnya untuk mencari pekerjaan atau mendaftar beasiswa. Lebih jauh, perusahaan apa atau posisi apa yang anda targetkan.

Pada prinsipnya kumpulkan seluruh materi yang akan dimasukkan ke dalam CV. Memasukkan data dan informasi ke dalam CV sebisa mungkin harus lengkap. Namun terkadang tidak semuanya harus dicantumkan. Mungkin saja ada beberapa data atau informasi anda yang tidak cocok untuk keperluan melamar pekerjaan di sebuah perusahaan tertentu.

Mendaftar di posisi manajerial atau pelaksana/operasional?

Terkadang, profil anda tidak cocok untuk posisi manajerial, alias lebih cocok di posisi pelaksana/operasional. Atau bisa juga sebaliknya. Nah, masalahnya adalah ketika anda ingin memaksakan diri mencoba posisi yang tidak cocok dengan background di CV anda. (Catatan: Maksudnya, bukan berarti anda tidak mampu bekerja di posisi tersebut. Hanya saja, data dan informasi mengenai anda di CV kurang mampu meyakinkan reviewer.)

Saran: Cantumkan data dan informasi secara selektif, jangan terlalu banyak yang kontradiktif dengan target anda. Perkuat dan perdalam data dan informasi yang sesuai dengan target anda. Tampilkan hobi/interest anda sesuai dengan posisi yang ditawarkan. Dan, tampilkan hobi/interest anda sesuai dengan brand produk perusahaan yang dilamar.

3. Jangan mengaku ahli, kalau memang belum berkompeten dalam keahlian/ketrampilan tertentu.

Hal ini agak mirip dengan yang diatas, namun dalam perspektif berbeda. Misalnya, anda pernah ikut kursus Desain Grafis dan mendapatkan sertifikat dari penyelenggara kursus. Biasanya seluruh peserta kursus otomatis akan mendapatkan sertifikat keikutsertaan. Kemudian anda tanpa ragu-ragu akan mencantumkan ‘Desain Grafis’ sebagai ‘Keahlian’ di dalam CV anda. Nah, sangat disarankan, jangan asal ikut kursus komputer hanya untuk cari sertifikat. Faktanya, banyak pencari kerja yang ditanya lebih jauh dan detil pada proses wawancara tentang keahlian yang dicantumkan di CV, ternyata masih jauh dari standar yang diharapkan perusahaan. CV-nya dipenuhi bermacam-macam ketrampilan tapi masih sangat mentah. Setelah kursus selesai, usahakan perdalam ketrampilan dan praktekkan untuk sesuatu yang riil. Misalnya untuk ketrampilan Desain Grafis, cobalah membuat desain poster yang memang akan diproduksi/dicetak untuk keperluan tertentu.

Contoh lainnya yang sering ditemui adalah Bahasa Inggris (Speaking, Listening, Writing) diisi “Baik”. Padahal tidak sulit untuk menguji ketrampilan Bahasa Inggris. Dari pengalaman selama ini, hanya 10% pelamar pekerjaan yang ketrampilan Bahasa Inggris-nya sesuai dengan isian di CV. Akibatnya, para user yang mewawancarai seperti terkena “PHP”. Sangat jarang pelamar melampirkan sertifikat TOEFL/IELTS. Ketika ditanya lebih lanjut tentang TOEFL/IELTS-nya, banyak pelamar mengaku belum pernah tes sejak masuk kuliah dulu. Atau, ketika didesak lebih jauh, mereka menjawab masih belum mencapai TOEFL 500.

Saran: Buatlah level yang agak fleksibel, misal skala 1 sampai 10. Maka anda bisa mencantumkan pada level 7 apabila anda merasa belum fasih tapi bermaksud membuat CV yang mampu meyakinkan reviewer pada proses seleksi dokumen/administrasi.

4. Disusun 2-3 halaman cukup, cantumkan hal-hal yang penting.

Semaksimal mungkin cukup 2 sampai dengan 3 halaman saja. Pilih dan cantumkan riwayat pekerjaan, organisasi dan kegiatan anda yang bermakna signifikan. Penghargaan dan prestasi amat disarankan untuk dicantumkan, namun tetap harus selektif.

Aktif di berbagai organisasi/kepanitiaan, namun kalau hanya sebatas menjadi anggota maka sebaiknya juga harus selektif. Jangan sampai terlihat narsis tapi kurang bermakna.

 5. Design/Tampilan jangan biasa-biasa saja, tapi jangan norak, dan utamakan kerapian.

Banyak template CV di internet yang bisa dijadikan rujukan. Pilih desain yang elegan dan jangan yang terlalu norak. Sekali lagi sesuaikan dengan tujuan pembuatan CV dan karakter perusahaan yang menawarkan lowongan pekerjaan.

 6. Deskripsikan secara singkat prestasi khusus anda (sebagai ‘Unique Selling Point‘).

Misalnya: Karya Tulis, atau Penelitian atau Tugas Akhir, atau Kompetensi khusus yang betul-betul anda kuasai, atau yang bisa memberi gambaran tentang ‘Unique Selling Point‘ (USP) anda, yang tentunya sesuai dengan posisi yang ditawarkan.

Misalnya anda melamar pekerjaan untuk posisi “manajer marketing”. Kebetulan anda pernah memiliki pengalaman (success story) memasarkan sebuah produk/kegiatan di masa lampau. Entah ketika anda bekerja di perusahaan terdahulu, atau ketika masih aktif di kegiatan kemahasiswaan. Dan menurut anda, itu sebuah prestasi yang cukup istimewa karena dicapai dengan perjuangan yang berat dan membuktikan kapasitas anda sebagai koordinator tim marketing. Maka, disarankan untuk mendeskripsikan secara singkat di dalam CV anda, yaitu di bagian ‘Pengalaman Kerja’ atau ‘Pengalaman Berorganisasi’.

7. Mintalah kesediaan orang-orang penting untuk jadi ‘Rekomendator’

Mohonkan agar mereka bersedia dicantumkan nama, posisi dan email serta alamat/nomor kontaknya di dalam CB anda sebagai ‘Rekomendator’. Misalnya, profesor atau Dosen pembimbing Tugas Akhir, atau mantan atasan anda terdahulu. Ini akan sangat memperkuat posisi tawar anda.

8. Minta orang lain untuk menilai CV anda (teman, dosen, dan profesional).

Sebelum anda gunakan CV anda untuk keperluan tertentu, mintalah tanggapan dan kritik dari banyak orang tentang CV anda. Hal ini akan meningkatkan obyektifitas dan akan membuktikan apakah CV anda mampu menghasilkan efek persepsi se-powerful seperti yang anda harapkan.

ISIGOOD.com Mengisi Diri Dengan Kebaikan