11 Gambar Keren yang Mengingatkan Kita untuk Lebih Mencintai Bumi!

[ISIGOOD.COM] Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa kondisi bumi semakin menyedihkan. Lihat saja, kasus penebangan hutan, sampah berserakan, pemburuan hewan langka, cuaca dan iklim yang melenceng dari perkiraan, suhu bumi yang tidak menentu, dan lain sebagainya. Menanggapi hal ini, banyak cara dilakukan orang untuk menunjukkan keprihatinannya terhadap masalah alam. Misalnya saja dengan melakukan aksi sosialisasi atau kampanye untuk mengajak orang agar lebih menjaga kelestarian alam.

Tentang sosialisasi dan kempanye, medianya pun beragam. Ada yang memilih melakukan seruan dengan cara teatrikal, musikal, aksi massal di jalan, membuat tulisan dan lain sebagainya. Salah satu cara yang unik adalah melalui gambar atau visual. Kenapa unik? Karena banyak yang bilang bahwa sebuah gambar, dapat mewakili ratusan kata.

Lalu seperti apa ya,  gambar-gambar keren yang bisa mengingatkan orang untuk lebih mencintai lingkungan?

Apa yang kita lempar, apa yang kita buang atau apapun yang kita lakukan, akan kembali ke diri kita sendiri

1

Andai saja sampah punya tangan dan kaki. Mungkin dia akan memungut dirinya sendiri. Karena sampah pun tahu, dimana tempat dia seharusnya

2

Sulit membuat orang mengurangi penggunaan kantong plastik. Mungkin desain kantong plastik seperti ini bisa mengingatkan orang bahwa kantong plastik yang dia gunakan bisa jadi sumber kerusakan

3

Hei pemburu liar! Coba bayangkan, jika hewan yang kamu buru itu adalah putri kecilmu. Masih tega memburu?

4

Mungkin, anak cucuk kita kelak tidak bisa lagi melihat gajah

5

Setiap jam, spesies Orang Utan di bumi ini ditemukan mati. Maka inilah ilustrasi yang menggambarkan Orang Utan di menit terakhir sebelum mereka hilang di muka bumi

6

Sepeti sebuah es krim yang dibiarkan terkena panas. Bumi kita mulai mencair!

7

Semakin banyak penggunaan kertas, semakin cepat pula kita menghabisi bumi. Seperti tissu toilet ini, setiap kita mengambil helaian tisu, saat itu pula kita sedikit-demi sedikit mengurangi kehijauan bumi.

9

Andai saja hewan langka seperti mesin mobil. Bisa direparasi. Tentu tidak akan punah.

10

Rusaknya hutan sebagai paru-paru dunia, adalah rusaknya paru-paru kita sebagai manusia

11

Setiap menit, 15 km2 hutan lenyap dari muka bumi. Kalau ada Tarzan, dia akan kaget karena tiba-tiba hutan tempat tinggalnya hilang dengan begitu cepatnya.

12

Sumber gambar : brightside.me

Baca juga : Hal-hal yang Harus Dihindari dalam Kehidupan Sosial

Ilmuwan Asal Indonesia Peneliti Inti Perut Bumi

[ISIGOOD.COM] Namanya Sri Widiyantoro, pria lulusan Institut Teknologi Bandung ini seorang ahli geologi yang meneliti seputar fenomena lingkar api di nusantara. Ia merupakan anak bangsa pertama yang membuktikan bahwa dorongan subduksi litosfer dibawah samudera mampu melampaui inti bumi. Publikasi ilmiahnya yang berjudul asli “The Evidence for Deep Mantle Circulation from Global Tomography” tersebut dirilis pada jurnal sains termasyhur, Nature pada tahun 1997.

Profesor yang memiliki predikat sebagai Guru Besar pertama di bidang seismologi ITB ini sejatinya telah memprediksi beberapa gempa besar yang telah terjadi beberapa tahun lalu maupun yang berpotensi terjadi. Meski dirinya tidak mengetahui pasti kapan gempa tersebut akan terjadi.

Sri yang juga menjadi ketua Kelompok Keahlian Ilmu dan Teknik Geofisika ITB ini menjelaskan berkat pemetaan tomografi yang dilakukannya, kini sains dapat mengetahui dimana pusat terjadinya gempat dengan lebih akurat. Teknik tomografi memungkinkan isi kerak dan lempeng, bahkan perut Bumi, bisa dilihat dengan tampilan tiga dimensi. Dalam kegempaan, hal ini sangat bermanfaat untuk melengkapi ilmu seismik.

Teknik pencitraan tomografi pada awalnya memang diterapkan di bidang kedokteran, yang digunakan untuk melihat anatomi tubuh manusia. Namun kemudian konsep ini diterapkan di berbgaia bidang mulai dari Computerized Tomographic (CT) Scanning hingga teknologi Magnetic Resonance Imaging (MRI). Ternyata, konsep serupa juga dapat diterapkan untuk memindai isi bumi kita dengan menggunakan data gelombang seismik yang dibangkitkan saat gempa bumi terjadi.

Teknik tomografi memungkinkan isi kerak dan lempeng, bahkan perut Bumi, bisa dilihat dengan tampilan tiga dimensi (ggr-study.org)

“Kedalamannya mencapai 3.000 kilometer. Ini adalah pemetaan di Amerika Tengah. Di bawah Pulau Jawa kedalaman penunjaman bisa mencapai 1.500 kilometer. Berkat tomografi, kita bisa tahu bahwa gempa bisa terjadi hingga kedalaman ini. Bukan hanya di batas 700 kilometer, seperti yang kita duga selama ini,” tutur peraih Habibie Awards tahun 2007 bidang Ilmu Dasar ini.

Hasil penelitian peraih Sarwono Award XIII dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2014 ini tentang geotomografi dan gempa telah banyak dijadikan rujukan ilmuwan-ilmuwan internasional. Sri pun tercatat sebagai peneliti ITB yang karyanya paling banyak dikutip. Scopus mencatat jumlah indeks sitasi atas namanya per Agustus 2014 telah melebihi angka 2385 sitasi. Angka ini tertinggi yang bisa dicapai seorang dosen di tingkat ASEAN.

Kebetulan mungkin adalah kata yang tepat untuk menjelaskan tentang karier cemerlang pria kelahiran Karanganyar, Solo 5 Desember 1962 tersebut. Prof Sri mengaku dirinya adalah seorang ilmuwan gempa hasil “kecelakaan takdir”. Sebab pada mulanya setelah lulus sarjana Geofisika ITB di tahun 1981 dia melanjutkan program magister ke Kyoto University di Jepang (1989). Dia tidak pernah terpikir akan berprofesi sebagai dosen ataupun ilmuwan dan lebih ingin menjadi tenaga eksplorasi minyak.

“Di Jepang saya mengambil konsentrasi ilmu tentang eksplorasi minyak. Karena, seperti yang lainnya, begitu lulus inginnya mencari kerja di bidang perminyakan,” kenangnya. Namun, takdir pun berbicara lain.

Perjumpaannya dengan Prof Y Kobayashi dari Kyoto University saat berkonsultasi mengambil program doktor mengubah pandangan hidupnya mengenai arti penting keilmuan bagi masyarakat. Ada hal yang lebih penting dan berharga daripada materi atau uang.

“Kata beliau, untuk sekadar jadi pekerja perminyakan, bergelar S-2 dari Jepang sudah cukup. Tetapi, ia menyarankan saya menekuni bidang kegempaan karena di Indonesia ilmu ini sangat dibutuhkan,” tuturnya.

Selama masa perenungan, secara kebetulan pula dia bertemu dengan Prof B Kennett dari Australian National University. “Saya lalu memutuskan untuk mendalami geotomografi di sana,” tuturnya.

Selama menempuh studi di Australia, ia mendapatkan penghargaan internasional, The Doornbos Memorial Prize yang diberikan International Union of Geodesy and Geophysics (IUGG) atas riset doktoralnya mengenai tomografi beresolusi tinggi untuk zona subduksi.

Akhirnya Sri meninggalkan cita-cita menjadi ahli perminyakan yang bisa membuat dia lebih kaya. “Saya tidak pernah menyesal. Ilmu itu bukanlah sekadar mencari uang, kalau itu bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang, itu jauh lebih baik,” tuturnya.

Kini dirinya bersama-sama dengan sejumlah ilmuwan ITB lainnya bekerja sama dengan LIPI tengah merancang sebuah perangkat mitigasi bencana gempa yang disebut Peta Percepatan Pergerakan Tanah atau Peta Zonasi Seismik yang berskala nasional.

Peta ini akan nantinya menjadi rujukan nasional bagi para ahli sipil dan arsitek ketika mendirikan bangunan. Sebab akan digunakan untuk mengurangi risiko akibat gempa dan akan dijadikan Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Bagaimanapun, gempa tidak bisa diketahui kapan terjadi, tidak bisa dicegah atau dihentikan. Yang bisa kita lakukan hanya mengantisipasinya,” tutur pengagum Albert Einstein ini.

Prof Sri hanya mengingatkan agar masyarakat selalu waspada terhadap kemungkinan gempa. Seperti warga yang tinggal di wilayah pesisir barat Sumatera yang berresiko mengalami gempa berskala sangat besar.

Dia berharap agar pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan mitigasi dan pendidikan kebencanaan di daerah rawan gempa. Misalnya, membuat jalur evakuasi bencana dan perbaikan sistem peringatan dini.

Sebab hingga kini belum ada satu pun alat yang bisa mendeteksi kejadian gempa di suatu tempat. Hal yang bisa dilakukan hanya memprediksi dan memantau aktivitas kebumian untuk meminimalkan dampak gempa, seperti riset geotomografi yang dilakukannya. Semoga kedepannya teknologi dalam memprediksi bencana dapat lebih baik dan semakin presisi.

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Berlian di Bumi Ternyata Berasal dari Luar Angkasa

[ISIGOOD.COM] Pernah kamu bertanya-tanya darimana asal datangnya berlian? Berlian yang dikenal sebagai sahabat para kaum wanita dan mampu mengesankan penampilan memang termasuk barang berharga. Satu hal berharga lain yang mungkin tak banyak diketahui adalah asal-usulnya. Dari mana sebetulnya berlian itu? Mungkin banyak dari kita yang menganggapnya sebagai barang tambang yang biasa tertanam di perut bumi. Namun, itu bukan jawaban yang tepat.

Jawaban yang tepat ialah bahwa berlian berasal dari dari luar angkasa.

Pada tahun 2008 silam, sebuah asteroid berbobot 80 ton dan diameter 4,1 meter menghantam Bumi dan menghancurkan padang pasir Nubian di Sudan.

(nasa.gov)

(nasa.gov)

Dari serangan kala itu, asteroid bernama 2008 TC3 ini menghasilkan 600 pecahan meteorit yang tiap bebatuannya memiliki berat 10,5 kilogram. Kumpulan meteorit tersebut dinamakan Almahata Sitta.

Nah, dari hasil penelitian, pecahan Almahata Sitta ini terungkap mengandung berlian. Walau banyak meteorit diyakini memang menyimpan berlian, namun penelitian baru ini menunjukan bahwa berlian tersebut ukurannya lebih besar.

Menurut penelitian tim Masaaki Miyahara dari Hiroshima University di Jepang, berlian tersebut terbentuk dengan cara tak biasa.

Berlian besar biasanya terbentuk di dalam gumpalan batu, seperti planet. Apabila penelitian tim Miyahara tepat, maka berlian itu berasal dari planet yang terbentuk pada saat sistem tata surya kita ini lahir, lalu hingga planet itu hancur.

Pemikiran mendasarnya adalah berlian di meteorit terbentuk saat asteroid mengalami tabrakan, sehingga pengaruh benturan menghancurkan karbon menjadi berlian kecil-kecil.

Untuk bisa menjelaskan lebih jauh mengapa berlian yang ditemukan ukurannya besar, para peneliti beranggapan berlian terbentuk di dalam “planetesimal”, yakni gumpalan batu yang ukurannya lebih besar dari asteroid biasa.

Planetesimal ini dipercaya sudah lahir sebelum sistem tata surya dan planet-planetnya tertata rapi seperti sekarang.

Yang jelas, sistem tata surya muda dulunya penuh dengan guncangan dan banyak pecahan batu meteorit lengkap dengan elemen es yang berputar melayang di sekitarnya sehingga memang sering terjadi tabrakan satu sama lain.

Sumber: cnnindonesia.com

Kota Bisnis di India ini terapkan ‘Hari Bebas Kendaraan Bermotor’

[ISIGOOD.COM] Kemacetan lalu lintas karena sesaknya penggunaan kendaraan bermotor mau tidak mau memberi kontribusi dalam meningkatkan jumlah polusi di planet ini. Inisiatif kota bisnis di India kali ini dipuji sebagai langkah yang sangat dibutuhkan untuk mengurangi tingkat polusi dan kemacetan yang mengkhawatirkan di berbagai kota besar di India.

Untuk menyambut “Hari Bebas Kendaraan Dunia”, kota pusat bisnis India, Gurgaon, mengikuti jejak ibukota New Delhi bereksperimen mengajak orang-orang untuk tidak menggunakan kendaraan bermotor mereka dan meninggalkannya di rumah. Upaya ini tidak terlalu sukses, tapi dipuji sebagai aksi yang sangat diperlukan untuk mengurangi tingkat polusi dan kemacetan yang mengkhawatirkan di kota-kota India.

Tanav Mishra adalah salah satu di antara mereka yang setiap hari mengendarai mobil untuk pergi ke kantornya, meski ia tidak harus menempuh jarak yang jauh, di kota Gurgaon yang merupakan pusat bisnis.

Hutan gedung di Gurgaon, India (enroute-awayfromhome.net)

“Kalau berangkat jam sembilan, belum tentu bisa sampai kantor jam 10,” papar Mishra. “Lalu lintas di kota ini semrawut.”

Pada hari Selasa (22/9), Mishra pergi ke kantor naik kereta, mengikuti ajakan untuk mematuhi hari bebas kendaraan bermotor atau “car free day“. Ia merasa senang.

“Saya bisa lihat lebih sedikit mobil yang berada di jalan. Hal seperti ini harus diberlakukan seminggu sekali,” ujarnya.

Karyawan eksekutif senior dan polisi adalah beberapa di antara mereka yang rela menghadapi panas dan lembab dan naik angkutan umum atau sepeda untuk berangkat ke kantor. Pemerintah kota mengerahkan lebih banyak bus di jalan, dan layanan antar jemput tambahan dari stasiun kereta.

Namun, di kota yang tidak memiliki layanan kendaraan umum yang memadai, tidak semua orang rela meninggalkan mobil mereka di rumah dan kemacetan tetap terlihat di beberapa tempat.

Gurgaon, kota yang menjadi rumah bagi perusahaan multinasional, apartemen megah dan pertokoan mewah, tumbuh sangat pesat beberapa dekade terakhir dipicu oleh pertumbuhan ekonomi India. Tapi pertumbuhan ekonomi ini juga mempunyai dampak, jalanan menjadi penuh mobil dan kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan sehari-hari.

Kisah serupa juga terjadi di daerah perkotaan lain di India; pertumbuhan kendaraan bermotor yang pesat menyebabkan kemacetan dan memperburuk polusi udara.

Langkah pertama

Ibukota India, New Delhi, yang paling merasakan dampaknya, kualitas udara kota ini terburuk di dunia, dan ahli kesehatan memperingatkan hal ini bisa mengancam kesehatan.

Walaupun ajakan “hari bebas kendaraan” di Gurgaon tidak terlalu sukses, Anumita Roy Choudhury dari Pusat Sains dan Lingkungan New Delhi, menyebut inisiatif ini sebagai langkah pertama yang penting. Ia berharap inisiatif ini bisa meningkatkan tekanan publik terhadap pengambil kebijakan agar menerapkan langkah-langkah pengaturan jumlah mobil di berbagai kota besar di India, seperti yang telah diberlakukan oleh kota-kota seperti Beijing, Singapura dan Hong Kong.

“Kota-kota (di India) ini harus bekerja keras untuk mengambil langkah-langkah pembatasan jumlah kendaraan,” kata Choudhury.

“Kebijakan yang memungkinkan warga mendapatkan parkir gratis, mengijinkan mereka memiliki lebih dari satu mobil, semuanya berkontribusi terhadap banyaknya kendaraan bermotor yang beredar di jalan dan tidak lagi dapat ditampung oleh jalan yang tersedia. Kalau semua kota di India memiliki tingkat polusi yang parah, penyebabnya adalah tidak diterapkannya kebijakan untuk mengatasi masalah (terlalu banyaknya kendaraan) ini.”

Jalan lingkar kota setelah diberlakukan “Hari Bebas Kendaraan” menjadi sedikit lengang (almrsal.com)

Gurgaon berharap bisa membuka jalan dengan inisiatif ini. Komisaris Polisi, Navdeep Singh Virk, yang naik sepeda ke kantornya, ingin menjadikan hari Selasa sebagai hari bebas kendaraan bermotor.

“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti di sini, tapi untuk dilakukan setiap minggu,” kata Virk. “Kita sangat membutuhkan hal ini.”

Mereka yang harus menghadapi kemacetan di Gurgaon, seperti Deepak Rajput, sangat setuju. “Tingkat kemacetan parah, polusi udara, (solusinya) kita memang harus mengurangi jumlah mobil,” ujarnya. Semoga kita semua sebagai penduduk Bumi sadar dan tak segan berkontribusi demi lingkungan yang sehat dan layak huni.

Sumber: voaindonesia.com

Akibat Bulan Menjauhi Bumi, Perputaran Bumi Terus Melambat, 30 Juni 2015 Bertambah lama 1 Detik

[ISIGOOD.COM] Kalau kamu berpikir bahwa perputaran waktu itu selalu konstan, yaitu sehari semalam itu selalu sama sejak dahulu kala, maka kamu salah. Faktanya yaitu, waktu sehari semalam yang ditentukan berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk Bumi dalam melakukan satu rotasi pada porosnya ternyata bervariasi.

Variasi panjang waktu sehari semalam sepanjang sejarah alam semesta ini dinyatakan oleh ilmuwan yang menemukan variasi itu lewat penelitian puluhan tahun dengan teknik very-long baseline interferometry (VLBI). Pada prinsipnya, ilmuwan mengukur waktu sehari semalam di berbagai lokasi sepanjang waktu, kemudian membandingkannya.

Alam semesta ini memang menyimpan misteri yang takkan habis digali oleh umat manusia sepanjang zaman. Planet dan bintang yang terserak dan tersebar di alam semesta ini tidak terjadi tanpa pola dan keterhubungan. Contohnya, keterkaitan bumi yang kita tinggali dengan bulan yang senantiasa menemani kita di malam hari, juga memiliki hubungan khusus yang ternyata tidak konstan. Inkonsistensi tersebut mengakibatkan sebuah pergeseran waktu di bumi yang diakibatkan oleh perlambatan rotasi bumi.

Bumi mengalami perlambatan rotasi: 1,7 milidetik per 100 tahun

Hasil penelitian bertahun-tahun dengan menggunakan VLBI, dipadu dengan riset lain yang mengungkapkan dari temuan terhadap fosil-fosil jaman purba, mengungkap bahwa rotasi Bumi semakin melambat. Apa penyebabnya? Dan mengapa tidak pernah kita rasakan? Lalu apa akibatnya pada kehidupan di bumi ini? Apa yang akan terjadi pada sistem jam dan waktu pada komputer dan teknologi yang bekerja berdasarkan dan tergantung dari sistem waktu rotasi bumi?

Perhitungan matematika bumi dan bulan (wikipedia.org)

Perhitungan matematika bumi dan bulan (wikipedia.org)

Penyebab pelambatan rotasi Bumi adalah gaya tidal Bulan. Bulan sendiri semakin bergerak menjauh dari Bumi. Studi oleh fisikawan University of Durham, FR Stephenson dan rekannya, LV Morrison, mengungkap bahwa dalam waktu 100 tahun, kecepatan rotasi Bumi melambat 1,7 milidetik.

Durasi waktu tersebut memang sangat singkat. Mengedipkan mata saja butuh waktu lebih dari itu. Namun bila diakumulasi dalam jangka panjang, perbedaannya bisa besar. Perbedaan yang besar itu akan membuat perkiraan dan pengukuran tidak akurat.

Contohnya ketika kita ingin memperkirakan puncak fenomena gerhana pada masa Babilonia pada 136 SM. Dengan variasi rotasi, error yang dihasilkan dari perhitungan bisa mencapai 48,8 derajat karena perbedaan waktu total mencapai 11.700 detik.

Pada masa Dinosaurus, sehari semalam cuma 23 jam

Bukti lain bahwa variasi sehari semalam bisa lebih besar dari persepsi kita, “Ah kan cuma sepersekian detik, tidak ngefek”, harus kita dalami lebih jauh. Seperti diungkapkan oleh Daniel MacMillan dari Goddard Space Flight Center Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), “Pada masa dinosaurus, Bumi menyelesaikan satu rotasi selama 23 jam,” katanya seperti diterangkan di situs NASA pada 2012 lalu.

“Tahun 1820, rotasi tepat 24 jam, 86.400 detik. Sejak 1820, hari matahari rata-rata meningkat sekitar 2,5 milidetik,” imbuhnya. RA Nelson dan rekan dalam makalah “Leap Second, Its History and Possible Future” dalam jurnal Metrologia volume 38 tahun 2001 mengungkap fakta mengejutkan. Menurut mereka, karena gaya tidal dan sebab-sebab lain, dalam 2.000 tahun, Bumi telah kehilangan waktu 3 jam.

Penggunakan Detik Kabisat

Untuk menjaga waktu tetap standar sekaligus sesuai dengan apa yang terjadi dengan Bumi, Bulan, dan Matahari, ilmuwan kemudian menggagas detik kabisat pada tahun 1972. Konsepnya, penambahan atau bahkan bisa pengurangan satu detik pada waktu-waktu tertentu sehingga waktu tetap sinkron dengan rotasi Bumi. Detik kabisat sendiri muncul berkat kemajuan pengukuran waktu, terutama detik, secara lebih presisi dengan atom sesium.

Perhitungan waktu sudah dikenal manusia sejak jaman kuno (io9.com)

Perhitungan waktu sudah dikenal manusia sejak jaman kuno (io9.com)

Tahun 2015 adalah salah satu tahun yang akan memiliki detik kabisat. Satu detik akan ditambahkan pada tanggal 30 Juni 2015 nanti.

Ada sejumlah kalangan yang menghendaki penghapusan detik kabisat karena justru merepotkan secara teknologi. Misalnya, membuat sistem komputer eror.

Walau demikian, kalangan lain, misalnya Moedji Raharto dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan bahwa detik kabisat tetap perlu untuk menjaga presisi waktu. Di samping itu, jika detik kabisat dihapus, maka, dalam jangka panjang, perubahan besar dipercaya akan terjadi dalam waktu pergantian musim dan lainnya.

NASA sendiri memprediksi bahwa jika detik kabisat dihapus, maka, dalam 500 tahun, waktu di Bumi akan berbeda 25 menit dengan waktu menurut gerakan rotasi dan revolusi Bumi yang sebenarnya.

Apa akibatnya pada Teknologi Internet?