[ISIGOOD.COM] Sebagai penulis media online, ada beberapa hal penting yang perlu saya beberkan kepada kalian semua. Jujur, selama ini banyak pandangan miring dari masyarakat yang sebenarnya belum tentu benar tentang profesi kami. Beberapa anggapan salah dari khalayak ini acapkali membuat saya geram, kesel dan mangkel. Tapi mau bagaimana. Mereka begitu karena belum tahu apa yang sebenar-benarnya dilakukan oleh saya dan teman-teman penulis media online yang lain.

Maka, daripada saya uring-uringan gak jelas, saya memilih untuk memuat curahan hati ke dalam artikel ini. Saya akan membocorkan beberapa mitos atau pandangan salah dari masyarakat tentang penulis di media online.

Penulis di media online dianggap tidak benar-benar bekerja. Cuma main-main

Kita gak sesantai ini juga kali kak (assets.nydailynews.com)

Dikiranya, kami ini tidak benar-benar bekerja. Kami hanya ngoceh lalu menuangkannya ke dalam tulisan. Salah lho! Kami ini selayaknya orang yang bekerja di kantoran. Kami memiliki struktur organisasi, harus bekerja sesuai target, mengikuti arahan pimpinan, membuat laporan kerja dan mematuhi aturan-aturan dalam bekerja. Jadi salah kalau dianggap penulis media online itu cuma main-main.

Dibayar gak? Jangan-jangan yang penting tenar aja walaupun gak dibayar

Sebel ditanyain aneh-aneh (bawalbawel.files.wordpress.com)

Ini nih pertanyaan yang asli pernah saya dapatkan beberapa minggu lalu. Sakitnya, ini ditanyakan oleh keluarga jauh saya sendiri. “Dibayar gak Mbak, apa udah seneng karena namanya tercantum aja?” Nah loh, sakitnya…

Kami ini membuat tulisan tidak asal-asalan lho. Kami harus berpikir keras, memutar otak untuk selalu mendapatkan ide. Kalau biasanya orang hanya bisa nulis saat ada mood, kami tidak bisa seperti itu. Sedang mood ataupun tidak, kami harus menghasilkan tulisan sesuai target yang dutentukan. Nah masa dengan effort seperti ini gak dibayar? Pasti dibayar dong kak 🙂  hehe

Tidak punya tempat kerja yang disebut kantor

Kita juga punya ruang kerja kok (www.macleans.ca)

Selain itu, kita juga dikira gak punya tempat kerja yang jelas. Dalam bayangan orang umum, kita ini yang penting nulis. Mau di kamar dalam kondisi acak-acakan belum mandi, atau dimanapun. Pandangan ini gak sepenuhnya salah. Kita memang bisa nulis dimana saja. Tapi, kita juga diharuskan mengikuti tata tertib redaksi. Kita punya kantor dan harus datang di jam-jam kerja. Jadi, kita agak kesel juga kalau dikira anak selo yang gak punya kerjaan.

Tulisannya copas-copas doang dari media lain

Tulisan kita bukan sekedar copy paste dari media lain (flpjaya.com)

Yah Kak, gak mungkin dong kita cuma copas-copas aja. Nantinya tulisan kita akan disebar ke masyarakat luas dan dibaca oleh ribuan orang. Artinya, nama dan reputasi kita dipertaruhkan. Publik akan menilai tulisan kita. Jika kita cuma bisa copas sana copas sini, itu sama saja kita menjatuhkan reputasi kita sendiri sebagai penulis. Bisa-bisa tulisan kita gak laku lagi. Jadi salah ya anggapan ini. Kalaupun kita melakukan pengutipan ataupun penyaduran, tentu ada aturannya. Kita gak asal cantum tapi mengikuti kaidah pencantuman yang benar.

Ga perlu mikir karena tulisannya gak seberat nulis skripsi

Harus dapet ide baru setiap hari (neo-captive-bpo-solution.com)

Menjadi penulis di media apapun, proses brainstorming dan pencarian ide itu tetap berlangsung setiap saat. Kami harus membuat tulisan itu hidup, bernyawa dan terhubung dengan penulisnya. Ini tentu tidak mudah. Jujur saja, kami terkadang harus menjadi setengah stres karena harus memikirkan ide baru setiap hari. Gak  boleh manjain mood, gak boleh manjain males. Proses berpikir untuk menghasilkan tulisan baru harus selalu berlangsung. Makanya, agak sebel juga kalau dikira kami gak perlu  mikir untuk nulis artikel.

Inilah curahan hati dari saya, seorang penulis. Semoga bisa dipahami oleh kita semuan dan tidak ada lagi pandangan yang salah tentang pekerjaan kami ini. 😀

Wanita yang sedang belajar tentang bagaimana menjadi seorang wanita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *