Seorang akademisi Rusia telah mempelajari kematian dari 12,665 musisi untuk melihat faktor apa yang menjadi penyebab kematian mereka. Ternyata, ia menemukan banyak kejutan selama riset ini.

Tak peduli seberapa mengejutkan alasannya, publik selalu tercengang dengan kematian para musisi. Salah satu alasannya adalah adanya perasaan bahwa mereka yang mencintai karya musik para musisi tersebut, seakan juga mengenal musisi pembuatnya secara personal. Alasan lainnya adalah kematian selalu menciptakan berita. Selain itu, kematian musisi cenderung mengisi headline media karena dianggap mengejutkan, biasanya karena pembunuhan, bunuh diri, overdosis, kecelakaan pesawat, dll.

Meski subjek penelitian terhadap kematian musisi ini diragukan kejelasannya secara akademik (rigor), Dianna Theodora Kenny, professor psikologi dan musik di University of Sydney, telah mempublikasikan kumpulan artikel tentang penyebab kematian musisi.

Musisi mati di usia muda (photoshopcreative.com)

Musisi mati di usia muda (photoshopcreative.com)

Dalam artikel pertamanya, Kenny meneliti kematian dari 12,665 musisi yang meninggal antara tahun 1950 hingga Juni 2014. Artikel tersebut bertujuan untuk menunjukkan lama waktu hidup dan proporsi kematian yang disebabkan oleh bunuh diri, pembunuhan, kecelakaan dan kekerasan. Artikel tersebut menunjukkan hasil bahwa musisi cenderung meninggal karena penyebab-penyebab di atas daripada non-musisi.

Dalam artikel keduanya, Kenny meneliti tentang mitos “27 Club”, yaitu nama yang diberikan atas sekelompok musisi yang meninggal di umur 27; termasuk vokalis Nirvana, Kurt Cobain; dan penyanyi Rock and Roll Amerika, Jimi Hendrix. Kematian para musisi di umur 27 ini benar-benar menyebabkan semacam horor tersendiri bagi para musisi yang menginjak usia 27.

Faktanya, Kenny menunjukkan lebih banyak musisi yang meninggal di umur 28 ketimbang 27, dan umur rata-rata meninggalnya para musisi adalah 56 tahun. Hanya saja hal ini terjadi karena lebih banyak musisi yang mencapai puncak karir dan meninggal di umur 27, dan mereka yang meninggal di umur 56, kematiannya cenderung tanpa skandal.

Kenny juga meneliti kematian musisi berdasarkan genre. Ia memaparkan bahwa beberapa jenis musik cenderung membawa tipe risikonya masing-masing. Riset ini memang tak sempurna (tak ditemukan penjelasan bagaimana Kenny membedakan genre rap dan hip-hop), tetapi ada kejelasan pola yang ditunjukkan di penelitian ini. Beberapa di antaranya sangat mengejutkan: musisi hip-hop cenderung menjadi korban pembunuhan dibandingkan musisi genre lainnya.

Genre tertua (blues, jazz, country) memiliki musisi yang rata-rata meninggal karena penyakit jantung dan kanker. Selain itu, metal dan punk memiliki margin terbesar soal kematian musisi karena kecelakaan tak terduga, seperti kecelakaan mobil dan overdosis. Khusus untuk metal, genre ini memiliki isu kematian karena bunuh diri: hampir satu dari lima kasus kematian. Sedangkan, musisi penyanyi gospel/ lagu-lagu kerohanian adalah yang paling rendah kasus bunuh dirinya.

 

Disadur dari theguardian.com

Mahasiswi selo Sastra Inggris UGM. Sedang belajar bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *