[ISIGOOD.COM] Koyal berlari-lari ke gubugnya dengan wajah sumringah. Satu tangannya menggenggam potongan koran. Sementara, satu yang lain memegang secarik kertas berisi deretan angka-angka. Digenggamnya erat-erat kertas itu. Tingkahnya belingsatan, membuat Mak’e, Retno, Hamung, dan Tukijan melihatnya dengan ekspresi bingung.

“Aku punya kabar gembira!” Koyal berteriak histeris dengan rona wajah bahagia. “Ini lotre, ini sobekan koran,” ujarnya disusul dengan tawa. Kontan saja orang-orang di sekitarnya semakin bertanya-tanya apa gerangan yang baru saja terjadi.

Alkisah di sudut Kota Yogyakarta, hiduplah seorang pemuda bernama Koyal. Semenjak ditinggal kedua orang tuanya, Koyal hidup mengelana di jalanan Yogyakarta. Nasib mempertemukan Koyal dengan Mak’e yang kemudian menganggapnya seperti anaknya sendiri. Ia kemudian hidup bersama orang-orang yang juga dikenalnya di jalanan; Retno, Panut, Tukijan, dan Hamung.

Semenjak kecil, Koyal yang hidup miskin dan menderita selalu bermimpi menjadi orang kaya. Namun, untuk mewujudkan mimpinya, cara yang ditempuh Koyal hanya mengemis. Mengemis untuk kemudian mendapat uang dan membeli lotre. Koyal berharap nasib baik didapatnya dari deretan angka-angka yang didapat dari wangsit Mbah Dukun.

“Ibarat biji, kita adalah biji yang kopong. Nggak punya potensi untuk tumbuh. Mengundi nasib adalah cara paling efektif dan efisien untuk jadi orang sukses,” ujar Koyal ketika Tukijan menegur pilihan hidupnya.

Hingga pada suatu hari, Koyal mendapatkan semua yang diinginkannya. Koyal memenangkan lotre. Ia bisa meraih semua yang dimimpikannya. Ia kaya raya, bisa membeli segalanya, dan dihormati semua orang; mirip dengan apa yang didambakannya selama ini. Bagi Koyal, menjadi kaya berarti dihormati dan disegani setiap orang. Tidak peduli bagaimanapun perbuatannya, ia tetap dihormati, begitulah menjadi orang kaya; serba enak.

Akan tetapi, mimpi koyal ternyata hanyalah sebatas mimpi. Pada malam Suro yang tenang, ia terbangun dari tidurnya dan mendapatkan banyak kekecewaan.

Koyal terbangun dari mimpi indahnya menjadi orang kaya

Koyal terbangun dari mimpi indahnya menjadi orang kaya

Lakon Koyal tersebut diperankan dengan sangat baik pada pementasan “Mega, Mega” yang dihelat di Gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta, Rabu, 19 Agustus 2015 lalu. Selain dihelat di Yogyakarta, pentas ini juga diadakan di Pekalongan, tepatnya pada tanggal 21 Agustus 2015. Pentas yang diselenggarakan Unit Seni dan Teater (UNSTRAT) UNY ini sengaja mengangkat tema kemiskinan dan kisah kaum pinggiran sebagai panggung dari realitas yang terjadi akhir-akhir ini.

“Hal utama yang kami sampaikan adalah soal eksistensi manusia, di mana keinginan akan kesempurnaan itu tidak ada habisnya,” ungkap Ardi selaku Pimpinan Produksi Pentas Besar ke-38 UNSTRAT. Keinginan akan sempurna dan menjadi lebih pada manusia memang tidak ada rasa puasnya. Pun dengan yang terjadi pada orang-orang pinggiran. Mereka juga memiliki keinginan seperti itu.

IMG-20150825-WA0010

menjadi mapan mungkin adalah salah satu hal yang diinginkan setiap orang, pun dengan mereka

Akan tetapi, kenyataan hidup yang pelik kemudian menyudutkan mereka pada pilihan yang sulit. Itulah kenapa akhirnya muncul pola pikir pragmatis demi mewujudkan hal yang diinginkan, yaitu dengan jalan mengundi nasib.

Lewat pementasan ini, Ardi berharap ada sebuah sentilan yang mengena di benak para penonton. Untuk mewujudkan semua hal diinginkan, seseorang harus menyertainya dengan usaha dan kerja keras. “Bukan dengan cara beli lotre dan mencuri,” pungkasnya.

Pegiat timeline. Bisa ditemui dalam akun @ervinalutfi di Twitter dan Instagram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISIGOOD.com Mengisi Diri Dengan Kebaikan