Oleh: Made Andi (madeandi.com)

[ISIGOOD.COM] Suatu hari saya mendapat email dari seseorang perihal beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) – dulu Australian Development Scholarship atau ADS. Dia adalah satu dari sekian banyak yang berkirim email untuk perihal yang sama. Saya merasa terkejut, meskipun rasanya saya sudah menulis cukup banyak tentang beasiswa AAS, pengirim email ini “tidak tahu harus mulai dari mana”. Kalimat ini saya kutip langsung dari email-nya. Saya menduga bahwa kawan kita ini tidak sendirian mengalami kebingungan seperti itu. Maka, saya menulis dan memperbarui artikel ini khusus dipersembahkan bagi mereka yang ingin mendaftar beasiswa AAS tetapi “tidak tahu harus mulai dari mana”.

Apa sih beasiswa AAS itu?

Studi ke Australia dengan beasiswa AAS (sclrship.com)

Studi ke Australia dengan beasiswa AAS (sclrship.com)

AAS singkatan dari ‘Australia Awards Scholarship’ yang diberikan oleh pemerintah Australia dan dikelola oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT). Beasiswa AAS juga dikenal oleh masyarakat umum dengan beasiswa AusAID karena awalnya dikelola oleh lembaga ini.

Beasiswa AAS adalah hibah, bukan hutang yang harus dibayar di masa depan. Beasiswa AAS diberikan kepada orang Indonesia dan beberapa negara lain yang ingin belajar S2 atau S3 di Australia. Mereka yang berhasil memperoleh beasiswa ini bisa menempuh pendidikan S2 atau S3 di institusi/universitas Australia yang menjadi rekanan AusAID.

Artinya, pelamar harus belajar di universitas yang masuk dalam daftar ini. Perlu diketahui, tidak semua institusi/universitas Australia masuk ke dalam daftar AusAID. Daftar institusi yang masuk dalam daftar Beasiswa AAS bisa dilihat di formulir pendaftaran yang bisa diunduh dari website AAS, www.australiaawardsindo.or.id.

Mulai dari mana?

Idealnya calon pelamar harus mulai dari membaca secara cermat SEMUA informasi yang sudah ditulis dengan lengkap di website AAS Indonesia. Jika sabar dan cermat, semua hal ada di sana dan sebenarnya tidak perlu banyak bertanya, terutama tentang persyaratan.

Saya sarankan mulailah dengan mengunduh buku panduan alias AAS Handbook di website-nya dan membaca dengan cermat, terutama panduan khusus untuk Indonesia. Buku panduannya memang berbahasa Inggris sehingga perlu usaha ekstra untuk memahaminya dengan baik, terutama bagi yang bahasa Inggrisnya belum bagus.

Setelah itu, cobalah mengunduh formulir pendaftaran Beasiswa AAS dari website AAS. Di formulir ini ada informasi yang lengkap, terutama mengenai persyaratannya. Anda harus membaca dan mencermati setiap pertanyaan dalam formulirnya sehingga Anda akan tahu apa saja yang harus dikuasai atau disiapkan. Kemungkinan besar akan ada pertanyaan yang belum dipahami maknanya, apalagi jawabannya.

Dari sinilah Anda bisa kembali membaca petunjuk umum di website, membaca handbook, atau bertanya pada orang lain. Setelah membaca informasi dari sumber-sumber resmi, pertanyaan Anda, jika ada, akan menjadi lebih spesifik sehingga lebih mudah bagi orang untuk membantu menjawabnya. Ingat, Anda punya waktu hampir enam bulan sejak pendaftaran dibuka hingga ditutup. Jika persiapannya baik, seharusnya Anda bisa membuat sebuah berkas lamaran yang meyakinkan.

Siapa yang Boleh Mendaftar?

Pada dasarnya siapapun boleh mendaftar asalkan sudah lulus S1 dan berusia maksimal 42 tahun. Bagi mereka yang bekerja di pemerintahan (pegawai negeri), kategorinya adalah public dan harus sudah berstatus sebagai PNS penuh dan CPNS tidak diperbolehkan mendaftar.

Bagi mereka yang bekerja di luar pemerintahan bisa mendaftar pada kategori open dan untuk ini siapapun boleh mendaftar, termasuk yang baru saja lulus S1. Dengan kata lain, lulusan baru (fresh graduate) juga boleh melamar.

Proses Pendaftaran dan Seleksi

Daftar persyaratan ada di formulir AAS. Untuk tahun 2014, misalnya, persyaratan ada di halaman 24. Formulir beasiswa AAS bisa mengalami perubahan setiap tahun, silakan unduh formulir terbaru yang digunakan pada tahun yang bersangkutan sehingga calon pelamar akan tahu apakah dirinya memenuhi persyaratan atau tidak.

Ketika tulisan ini dibuat, formulir Beasiswa AAS 2015 belum ada di website AAS tetapi Anda bisa melihat formulir 2014 sebagai pembanding.

Tentang TOEFL atau IELTS, pelamar S2 harus mencapai skor minimal 500 (paper-based TOEFL) atau 5,0 untuk IELTS agar bisa mengajukan lamaran. Sedangkan untuk pelamar S3, TOEFL minimal adalah 530 atau IELTS 6.0 untuk bisa mendaftar. Jika belum memenuhi syarat, maka pelamar harus belajar dulu dan ikut ujiannya di lembaga yang berwenang menyelenggarakan ujian TOEFL maupun IELTS.

Ingat, tidak semua penyelenggara TOEFL diakui oleh pemberi beasiswa AAS. Lihat daftar institusi penyelenggara TOEFL yg ada di website AAS agar Anda memperoleh sertifikat TOEFL dari lembaga yang diakui.

Persyaratan lain misalnya adalah dokumen (ijazah, akte kelahiran, transkrip nilai, KTP, dan lain-lain.) yang harus diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Jika dokumennya belum diterjemahkan, lakukan ini dulu di lembaga yang berwenang.

Intinya, lengkapi dan penuhi semua syaratnya sebelum mengajukan lamaran. Untuk dokumen yang perlu legalisir, seperti akte, proses legalisirnya harus melalui notaris atau kantor yang mengeluarkan dokumen tersebut. Ijazah dan transkrip nilai juga demikian.

Perlu diketahui, lamaran beasiswa AAS ditujukan ke kantor AAS di Jakarta sebagai pemberi dana, bukan ke universitas yang dituju. Artinya, melamar beasiswa dengan melamar sekolah ada dua hal yang berbeda. Meski demikian, Anda akan diminta menyebutkan universitas tujuan di formulir beasiswa AAS. Oleh karena itu, sambil melengkapi persyaratan, mulailah melihat-lihat universitas dan jurusan/fakultas yang cocok di Australia.

Sebelum itu, tentu saja perlu menetapkan bidang yang ingin dipelajari di Australia. Maka Anda perlu melakukan pencarian dengan seksama dan membaca tulisan terkait cara menentukan jurusan dan universitas di bagian lain blog ini.

Meskipun Anda tidak diwajibkan untuk mendaftar ke universitas terlebih dahulu, Anda harus sudah punya pilihan jurusan dan universitas yang akan dituju. Anda juga akan diminta untuk menyebutkan apakah sudah ada usaha berkomunikasi dengan universitas yang akan dituju. Dalam hal ini, Anda perlu menghubungi universitas tersebut sebagai bukti keseriusan Anda dalam melanjutkan pendidikan. Ini akan menjadi nilai tambah lamaran Anda.

Untuk program S2, Anda bisa memilih Master by Coursework atau Master by Research. Perbedaan Master by Research dengan Master by Coursework dibahas di tulisan ini. Jika Anda akan sekolah Master by Research atau S3 maka Anda juga perlu mencari calon supervisor/pembimbing, tidak sekedar menentukan jurusan dan universitas. Selain itu, Anda diwajibkan membuat proposal penelitian yang akan dijadikan tesis/disertasi nantinya. Oleh karena itu, Anda perlu dengan tekun mencari profesor/peneliti di universitas Australia yang bisa menjadi pembimbing S2/S3 Anda nantinya. Silakan baca cara mencari calon supervisor di sini. Jika Anda memilih Master by Coursework maka Anda tidak perlu menulis proposal dan tidak perlu kontak calon pembimbing/supervisor/professor.

Semua hal ini bisa dilakukan paralel tetapi ingat bahwa kontak dengan supervisor dan informasi tentang jurusan/program S2/S3 tidak akan banyak gunanya kalau Anda tidak memenuhi syarat beasiswa AAS.

Yang paling krusial tentu saja IPK dan TOEFL/IELTS. IPK yang disyaratkan adalah 2,9 (skala 4,0) atau 2,75 jika Anda berasal dari kawasan geografis prioritas yaitu Papua, Papua barat, NTB, NTT, dan Aceh. IPK ini penting karena setelah lulus S1, IPK tentu tidak bisa diubah, kecuali Anda mengulang S1.

Oleh karena itu, jika Anda belum lulus S1 dan belum mencapai IPK sebesar itu, cobalah belajar lebih keras dan perbaiki IPK jika memang masih ada waktu. Sementara itu, TOEFL atau IELTS tentu bisa diperbaiki dengan belajar lebih tekun.

Anda masih punya waktu hingga nanti berumur 42 tahun (jika sekarang belum 42 tahun) karena itu adalah syarat usia maksimal bisa mendaftar Beasiswa AAS. Maka saya selalu sarankan, meskipun bisa kerja paralel mencari sekolah dan mencari supervisor, sebaiknya berikan perhatian penuh pada syarat formal seperti IPK dan TOEFL/IELTS terlebih dahulu.

Jika Anda sudah bekerja di sebuah institusi, pastikan bahwa Anda akan mendapatkan izin untuk mendaftar. Izin dan dukungan ini perlu disampaikan secara tertulis berupa tanda tangan dan dukungan atasan dengan format yang sudah disiapkan di formulir pendaftaran AAS. Maka dari itu, sebelum mulai menyiapkan lamaran, ada baiknya menyampaikan secara informal kepada atasan apakah akan ada izin sekolah atau tidak. Sayang sekali jika Anda sudah menyiapkan banyak hal tetapi gagal mendaftar hanya gara-gara tidak mendapat izin dari atasan.

Anda juga akan memerlukan surat rekomendasi, maka mulai pikirkan siapa yang bisa memberikan rekomendasi itu. Inilah perlunya menjaga hubungan baik dengan mantan dosen dan atasan. Silakan baca tulisan tentang cara mendapatkan surat rekomendasi di sini.

Pelamar beasiswa AAS per tahun biasanya di atas 5000 orang dengan penerima beasiswa sekitar 500 orang setiap tahunnya. Pendaftaran biasanya dibuka sekitar bulan Februari dan ditutup bulan Juli setiap tahunnya. Pada bulan November atau Desember di tahun yang sama, akan ada pengumuman bagi yang lulus seleksi tahap 1 dan bisa melanjutkan seleksi berikutnya.

Biasanya ada 700-800 orang yang lulus seleksi tahap 1 dan ikut seleksi tahap 2 berupa test IELTS dan wawancara Joint Selection Team (JST) pada bulan Januari tahun berikutnya.

Perhatikan, Anda bisa melamar dengan dokumen TOEFL atau IELTS dan tetap akan dites IELTS saat seleksi tahap 2 nanti. Maka, sebaiknya persiapkan IELTS dari awal. Saat wawancara JST, Anda akan diwawancarai dua orang yang akan menilai bahwa Anda adalah kandidat yang layak. Persiapkan segala sesuatunya dengan baik dan baca tulisan terkait wawancara JST di sini.

Jika Anda melamar S3 atau Master by Research maka Anda akan diminta memaparkan proposal penelitian Anda selama 10 menit saat wawancara JST. Silakan baca tulisan terkait hal ini di sini.

Jika Anda memenuhi syarat dan menjadi salah satu dari penerima beasiswa AAS, Anda akan diwajibkan untuk mengikuti pre-departure training atau PDT yang dikenal juga dengan English for Academic Purposes (EAP). Pengumuman final penerima beasiswa AAS biasanya diberikan pada minggu kedua Februari, sekitar sebulan setelah wawancara JST. EAP diselenggarakan di Bali atau di Jakarta dan pihak AAS akan menentukannya. Lama waktu EAP ini bisa berbeda-beda. Tujuan utamanya adalah menyiapkan Anda secara akademik dan budaya untuk bisa beradaptasi di Australia dan menjamin Anda mencapai nilai IELTS 6,5.

Jika saat tes tahap 2 nilai IELTS Anda sudah 6,5 dengan semua band (listening, reading, writing, speaking) minimal 6 maka Anda akan mengikuti EAP selama 6 minggu saja, tanpa harus tes IELTS lagi. Jika IELTS Anda saat seleksi tahap 2 kurang dari 6,5 atau ada band yang kurang dari 6 maka bisa jadi Anda mengikuti EAP selama 8 minggu, 3 bulan, 6 bulan atau bahkan 9 bulan.

Program EAP merupakan proses perkuliahan yang intensif dan padat karena dilaksanakan setiap hari dari pagi hingga sore. Selama EAP Anda wajib ikut dan harus mendapat izin dari tempat kerja karena itu artinya Anda akan meninggalkan pekerjaan. Silakan baca juga soal EAP di sini. Selama EAP, Anda juga akan menetapkan pilihan universitas dan jurusan yang sesuai, serta mengurus passport dan visa. Jika semua beres, maka Anda siap untuk berangkat ke Australia. Tergantung durasi EAP, Anda bisa berangkat bulan Juni di tahun itu atau bulan Januari tahun berikutnya. Jadi, prosesnya bisa dua tahun jika dihitung dari mendaftar pertama kali hingga berangkat ke Australia untuk sekolah.

Rangkuman proses pendaftaran AAS
Jika dirangkum maka proses pendaftaran dan seleksi beasiswa AAS 2015 adalah seperti gambar berikut:

Alur AAS

Alur mendapatkan beasiswa AAS

  1. Anda sudah lulus S1 dan tertarik mendaftar beasiswa AAS 2015.
  2. Mencari informasi yang lengkap dengan membaca website AAS, buku panduan, dari alumni
  3. Mengunduh formulir AAS dari website-nya.
  4. Menghubungi profesor atau universitas di luar negeri sebagai bukti usaha Anda serius.
  5. Melengkapi segala dokumen persyaratan termasuk menerjemahkan dokumen yang perlu.
  6. Mengisi formulir rangkap 1 (saat namanya masih ADS, diperlukan formulir rangkap 3) dan melengkapi dengan dokumen lain yang diperlukan. Ingat semua dokumen hasil salinan harus dilegalisir. Cara pengisian formulir ini bisa dilihat di video yang pernah saya siapkan. Meskipun ini untuk formulir tahun 2012, setidaknya bisa dijadikan perbandingan.
  7. Mengirimkan ketiga formulir yang sudah diisi dan dilengkapi dokumen penyerta itu ke kantor AAS di Jakarta sebelum tenggat waktu yang ditetapkan. Untuk pendaftaran tahun 2014 misalnya, deadline adalah 18 Juli 2014.
  8. Mendapat informasi lulus atau tidak lulus seleksi tahap 1 pada bulan November atau Desember 2014.
  9. Jika lulus seleksi tahap 1, mengikuti proses seleksi tahap 2 (ujian IELTS dan wawancara JST) bulan Januari 2015.
  10. Pada minggu 1 atau 2 bulan Februari 2015 (satu bulan setelah tes IELTS dan wawancara JST) mendapat pengumuman lulus atau tidak lulus seleksi final.
  11. Jika lulus seleksi final, akan ditentukan lokasi (Jakarta atau Bali) dan durasi Pre-Departure Training – PDT (dikenal juga denga istilah English for Academic Purposes, EAP), (6 minggu, 8 minggu, 3 bulan, 6 bulan atau 9 bulan).
  12. Mengikuti EAP di Bali atau Jakarta selama durasi yang ditetapkan, sekaligus menetapkan pilihan universitas/jurusan yang akan dituju di Australia nanti.
  13. Jika diperlukan IELTS belum 6,5 atau ada nilai band di bawah 6,0 maka wajib mengikuti ujian IELTS.
  14. Mengurus passport dan visa, termasuk untuk keluarga jika akan diajak.
  15. Berangkat ke Australia pada bulan Juni 2015 untuk yang EAP-nya 6 minggu atau Januari 2016 untuk yang EAP-nya lebih dari 6 minggu hingga 6 bulan. Bisa juga berangkat Juni 2016 jika EAPnya 9 bulan.
  16. Pada gambar di atas, ada tanda senyum dan sedih selama di Australia. Artinya, Anda tidak hanya akan bersenang-senang selama di sana, tidak hanya foto-foto di salju atau di depan bunya jakaranda saat musim semi. Sekolah adalah juga proses yang berdarah-darah dan berkeringat yang mungkin tidak diceritakan orang-orang di Facebook mereka 🙂

Setelah Anda membaca tulisan ini dan tulisan-tulisan lain di blog ini semoga pertanyaan demikian tidak muncul lagi. Ada sangat banyak informasi yang bisa dicari sendiri di website AAS jika Anda memang berkenan meluangkan waktu dan cukup sabar. Memang mudah sekali bertanya dan sangat nyaman jika kita bisa mendapatkan jawaban secara instan dari seseorang. Namun percayalah, life is not always that easy. Sering kita harus melakukan hal penting dengan bersusah payah dan bekerja keras. Kadang kita terantuk dan tersandung tanpa ada seorangpun yang peduli. Maka dari itu mari kita syukuri kemudahan mendapatkan informasi dari teman-teman kita dengan tidak menjadikannya sebagai alasan untuk menjadi malas.

Beasiswa AAS ini diperebutkan oleh lebih dari 5000 orang setiap tahunnya. Mereka yang tangguh dan ulet yang akan memenangkannya. Membaca dan mencatat dengan cermat adalah bagian dari pembuktian ketangguhan itu. Saya selalu menyebut para pemburu beasiswa ini sebagai ‘pejuang’ dan saya yakin Anda memenuhi syarat untuk sebutan itu. Selamat berjuang dan kita akan bersulang saat kemenangan dalam genggaman!

STOP! Jika Anda ingin bertanya, coba renungkan sejenak sebelum bertanya. Saya menulis perihal beasiswa ini sejak 2004, sudah satu dekade. Sangat mungkin pertanyaan Anda itu sudah terjawab di tulisan lain. Silakan cari dulu sebelum bertanya. Jika Anda tetap bertanya dan pertanyaan Anda tidak saya jawab, artinya jawabannya sudah saya tulis sebelumnya. Mohon bersabar mencari ya 🙂

Pejuang Beasiswa tunas-indonesia.org - Dosen SV-UGM - Owner of Fasnetgama Training Center (fasnetgama.co.id) - Ketua Yayasan Tunas Indonesia Jepang - Loving tennis, football, piano & family

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISIGOOD.com Mengisi Diri Dengan Kebaikan