[ISIGOOD.COM] Sadar atau tidak kita sadari, banyak orang yang tiba-tiba berubah setelah punya pacar. Tidak lagi bisa bebas main dengan teman-teman, tidak lagi bebas melakukan hobi atau bahkan tidak bisa lagi melanjutkan mimpi yang selama ini dia rajut tinggi. Tidak mudah menemukan alasan di balik perubahan sikap tersebut. Bisa karena pacarnya memang over posesif atau karena dia yang terlalu cinta. Eh, tunggu dulu, terlalu cinta?

Bagi saya, cinta itu tidak sama dengan memenjara. Sebenar-benarnya mencintai adalah ketika mereka saling memahami. Paham tentang karakter, hobi, kegemaran, lingkar pergaulan sampai mimpi masing-masing. Cinta itu sejalan dengan memberi kenyamanan. Tentu tidak hanya kenyamanan sepihak, tapi kenyamanan untuk kedua belah pihak.

Itulah mengapa saya meragukan pasangan yang belum apa-apa sudah main larang melarang. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu, jangan berteman dengan ini, jangan bercita-cita seperti itu dan seterusnya. Untuk yang cewek, ada yang sampai harus memblokir beberapa teman cowok di akun medsosnya karena permintaan si Cowok yang cemburuan. Yang cowok, ada juga yang sampai harus keluar dari komunitas futsalnya karena harus menemani si Cewek setiap malam minggu. Seperti itukah cinta?

Sayang? Iya kamu memang menyayanginya. Tapi ayolah, pakai logika

secinta apapun dengan dia, jangan sampai kita kehilangan logika (elfour.net)

Saat mencintai seseorang, jangan sampai kita kehilangan kontrol atas diri sendiri karena terlalu mengedepankan emosi. Kita punya akal dan logika yang sayang kalau diusangkan begitu saja. Pasangan mungkin bisa mengatakan apa yang baik dan apa yang tidak baik buat kita. Tapi akhirnya kitalah yang paling tahu apa yang kita butuhkan. Apa yang nyaman kita lakukan. Artinya, secinta apapun dengan dia, jangan sampai kita kehilangan logika.

Masih pacaran kan? Belum jadi istri atau suaminya kan? Jelas, kamu butuh jarak

kalian masih dua pribadi yang berhak menentukan garis hidup (silotek.com)

Saya juga tahu, kalau sudah terlanjur menjalin komitmen dengan seseorang, kita tidak lagi bisa hidup sendiri. Kita harus melakukan penyesuaian-penyesuaian agar keduanya bisa berjalan berdampingan. Tapi ingat, hubungan ini dibangun untuk menciptakan kenyamanan bagi keduanya. Bukan salah satu pihak saja. Jadi segala sesuatu harus dikompromikan. Harus dicarikan jalan tengah. Saling take and give, bukan yang satu selalu take dan satunya lagi selalu give.

Maka berkompromilah dengannya. Katakan apa yang kamu inginkan, sampaikan apa yang bagimu tidak menyamankan. Kalian belum benar-benar menjadi satu, kalian masih dua pribadi yang berhak menentukan garis hidup. Maka buatlah jarak itu, jarak antara kamu dan dia sebagai dua manusia yang punya hak yang sama.

Jangan terlalu yakin. Lihatlah dulu, apakah yang dia berikan memang cinta? Kalau memang cinta, dia tidak akan seegois itu

Mana ada orang cinta tapi tega merenggut senyum dan semangat dari kekasihnya (tegareng.net)

Jika memang dia cinta, dia tidak akan memaksamu menjadi sesuatu yang tidak kamu inginkan. Mana ada orang cinta tapi tega merenggut senyum dan semangat dari kekasihnya. Karena percuma, hubungan yang semacam itu hanya akan berakhir sia-sia. Karena tidak dilandasi dengan ketulusan.  Jadi sekali lagi, bicarakanlah dengannya. Kenapa? Takut dia pergi meninggalkanmu? Sudahlah. Toh pada akhirnya, jika memang jodoh, sehebat apapun kalian berdebat kalian akan tetap bersatu. Sebaliknya, jika tidak jodoh, sekuat apapun kalian berusaha, akan terpisah juga.

Bagaimanapun, dia adalah orang baru dalam hidupmu. Ingat, kamu punya keluarga dan teman-teman yang lebih dulu mengenalmu

Teman dan keluarga (bikinsemangat.com)

Dia mungkin tidak tanggung-tanggung untuk memenjara hatimu. Kamu jadi harus terjauhkan dengan teman-teman yang selama ini menemani kesendirianmu. Mungkin karena pacarmu terlalu pecemburu, cemburu dengan waktu yang kamu gunakan untuk berkumpul dengan temanmu atau cemburu dengan teman-teman lawan jenis yang akrab denganmu. Atas nama cinta, dia memintamu untuk selalu mendahulukan dia. Sampai akhirnya kamu memilih untuk memenangkan hatinya dan perlahan meninggalkan temanmu.

Lebih parah lagi, dia mungkin perlahan ingin menguasai kamu sepenuhnya. Ingin merenggut kamu dari siapapun, termasuk keluargamu. Misal, dia akan kesal jika kamu memilih untuk menghabiskan akhir pekan dengan keluarga daripada jalan-jalan dengannya. Dia kesal jika kamu menolak ajakannya untuk makan karena kamu sudah terlanjur berjanji mengantar ibu belanja. Hal-hal semacam itu. Ingatlah, dia adalah orang baru. Orang yang baru datang dalam kehidupanmu, di tengah orang-orang yang sudah sekian lama dan sekian tulus membersamaimu. Betapa kecewanya mereka yang kamu tinggalkan demi orang baru yang belum tentu menjadi yang terbaik untukmu.

Wanita yang sedang belajar tentang bagaimana menjadi seorang wanita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *