[ISIGOOD.COM]

Hai, kamu! Sedang apa? Sibuk ya?

Tidak apa, aku paham. Kamu pasti sedang menyibukkan diri karena kamu tahu masa depan akan sangat menuntutmu dalam banyak hal. Jadi, mulai dari sekarang kamu membiasakan dirimu untuk bersibukria –mempersiapkan hal-hal yang seharusnya memang kamu siapkan.

Kemarin, lagi-lagi, wajahmu hadir dalam lamunanku yang panjang.

Wajahmu kembali hadir dalam lamunanku.

Sering sekali aku berpikir di masa depan nanti aku akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk kamu dan anak-anak kita. Jika mengingat tujuan awal mengapa akhirnya memilih Psikologi, mungkin jawaban konyolnya adalah karena aku sebenarnya tidak mau bekerja.

Ya, saat itu aku berpikir demikian. Apa asyiknya bekerja seharian dari pagi hingga larut malam, menjadi wanita dengan karir cemerlang, tapi tidak pernah merasakan rumah? Tidak tahu apa yang dirasakan anak kita di sekolah? Atau bagaimana ia terhadap teman-temannya? Apa hal gila yang dia alami hari ini? Apa yang kamu hendak keluhkan? Pekerjaanmu kah? Teman-temanmu kah? Atau justru aku yang semakin sibuk dengan karierku?

Ya, lantas aku memilih Psikologi sebagai bidang yang kutekuni di kuliah. Jika ditanya ingin apa, jawabannya simpel aja: pengin jadi psikolog. Aku tidak mau bekerja di luar, aku maunya buka praktik di rumah. Udah.

Perlu kamu tahu, dalam lamunan-lamunanku, aku sering membayangkan kehidupan para psikolog itu luar biasa.

5223070403_18c5bbba87_o

Pekerjaanku mungkin akan sangat mengganggu kehidupan pribadi kita.

Mereka bisa bekerja di rumah, sangat mengerti cara mendidik anak, dan paham bagaimana membina hubungan yang sehat dengan suaminya. Aku sering berpikir seorang psikolog adalah calon istri idaman. Tapi.. tiba-tiba aku teringat sesuatu, memang seperti itukah masa depan?

Duh, calon suami, jika istrimu seorang psikolog, satu hal yang harus kamu ketahui adalah istrimu memiliki kode etik yang tidak boleh ditinggalkan. Sebab, itu adalah bagian dari sumpah profesinya. Jika istrimu seorang psikolog, kamu harus tahu bahwa ia akan ‘dimiliki’ banyak orang, sekalipun ia bekerja di rumah. Jadi, jangan kaget kalau malam-malam seseorang datang ke rumah, lalu meminta istrimu tadi mendengarkan keluh kesahnya, mengetahui masalah-masalahnya.

Seorang psikolog adalah orang yang harus dengan sangat pintar membawa dirinya, sebab ia akan banyak dituntut membantu masalah orang sementara dalam hidupnya sendiri ia tidak terlepas dari masalah.

Kamu pasti mengira jika istrimu seorang psikolog, ia akan dengan mudah membantumu menyelesaikan masalah-masalahmu, masalah anak-anakmu, bukan? Tidak taukah kamu bahwa dalam kode etik seorang psikolog tidak boleh menjadi psikolog bagi orang-orang terdekatnya sendiri? Kamu tahu betapa bersalahnya seorang psikolog jika melibatkan perasaan dalam menangani kliennya?

Jadi, maafkan.. Masa depan ternyata tidak seindah itu.

Bagaimanapun, aku perempuan yang juga butuh sandaran.

Yang ada, aku justru memintamu untuk mengerti bahwa di saat-saat tertentu, aku bisa sedemikian menyebalkan. Aku mohon, di saat seperti itu, kamu yang sabar, ya?

Jangankan kamu yang laki-laki. Aku saja yang perempuan tidak pernah paham mengapa kadang-kadang sifatku bisa seperti ini. Kalau kata dosenku, itulah mengapa Psikologi Perempuan menjadi satu mata kuliah tersendiri.

Aku tidak butuh dipahami, ditanyai alasan, atau semacamnya. Aku cuma mau didengarkan!

Dengarkan saja! Bisa kan? Apa kamu paham? (catherinebruns.com)

Kamu tidak harus paham apa masalahku, cukup dengarkan! Kalau aku marah, kamu diam saja mendengarkan. Kalau aku meracau, juga dengarkan saja. Aku lebih senang kamu diam mendengarkan, lalu dengan manis mencium keningku dan mengajakku makan es krim –itu jauh lebih menyenangkan. Bagaimana? Kamu tetap tidak paham, ya? Nggak apa. Aku juga.

Memang perempuan sulit dimengerti. Aku minta maaf. Kamu tidak perlu menjadi sangat kesal atau semacamnya, karena pada saat itulah, sesungguhnya aku sedang benar-benar mengharapkan peranmu sebagai suami.

 

Untuk calon suami, di manapun kamu berada.

 

Pegiat timeline. Bisa ditemui dalam akun @ervinalutfi di Twitter dan Instagram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *