[ISIGOOD.COM] Suatu siang, pada hari kedua di bulan puasa tahun ini, kereta yang kami tumpangi tiba di stasiun Sannomiya, Kobe, Jepang. Kami kemudian turun dari kereta JR (Japan Railway, perusahaan kereta milik pemerintah Jepang). Kereta listrik merupakan alat transportasi sehari-hari warga kota Kobe, dari rumah menuju tempat kerja. Selain JR, masih ada dua perusahaan kereta yang beroperasi di kota Kobe secara masif, yaitu Hanshin dan Hankyu. Sistem transportasi umum kereta dan bis umum membuat kota padat penduduk ini dihindarkan dari sengatan kemacetan lalu lintas yang membuat stress para pengguna jalan.

Stasiun Kereta Sannomiya, Kobe Jepang

Stasiun Kereta Sannomiya, Kobe Jepang

Sesaat setelah kaki melangkah keluar dari stasiun kereta Sannomiya, kita akan langsung menemui kepadatan orang yang penuh sesak memenuhi stasiun terbesar di kota Kobe tersebut. Lalu, perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki menuju tempat tujuan pada hari Jumat siang itu, yaitu menuju salah satu masjid tertua dan terbesar di Jepang yang berada di kota Kobe.

Dan setelah berjalan kaki melintasi pusat pertokoan di daerah Sannomiya, dan melewati satu kuil besar di Kobe, akhirnya 15 menit kemudian tibalah di sebuah bangunan tua yang berdiri megah diantara padatnya bangunan, pertokoan dan perumahan di sana. Bagunan megah tersebut adalah Masjid Kobe (神戸モスク Masjid Kōbe?), yang juga dikenal sebagai Masjid Muslim Kobe (神戸ムスリムモスク Masjid Muslim Kōbe?).

IMG_20150619_120431

Sejarah Masjid Kobe

Masjid Kobe diresmikan pada bulan Oktober 1935 di Kobe dan merupakan masjid pertama di Jepang.  Pembangunannya didanai oleh sumbangan dari Komite Islam Kobe dan dimulai sejak tahun 1928 hingga dibuka pada tahun 1935. Masjid ini sempat ditutup oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada tahun 1943, tetapi dibuka kembali hingga sekarang aktif digunakan sebagai masjid. Karena memiliki ruang bawah tanah dan struktur bangunan yang kuat, masjid ini selamat dari bencana gempa bumi besar Hanshin yang meluluh-lantakkan kota Kobe pada tahun 1995.

Masjid ini terletak di distrik Kitano di Kobe, tepatnya di daerah Nakayamate Dori, Chuo-ku. Arsitekturnya dibangun dalam gaya Turki tradisional oleh arsitek Ceko Jan Josef Švagr (1885-1969), seorang arsitek yang juga membangun sejumlah bangunan peribadatan Barat di seluruh Jepang.

Ketika Jepang kalah perang di 1945, Kota Kobe juga tak luput dari serangan pengeboman lewat udara, walau tidak dengan sejenis bom atom seperti di Nagasaki dan Hiroshima. Tapi boleh dibilang, Kobe juga rata dengan tanah. Ketika bangunan di sekitarnya hancur, Masjid Kobe tetap tegak berdiri. Masjid ini hanya mengalami retak pada dinding luarnya dan semua kaca jendelanya pecah. Bagian luar masjid menjadi agak kehitaman akibat asap serangan bom.

Di pagar depan Masjid Kobe tertulis huruf kanji Jepang

Di pagar depan Masjid Kobe tertulis huruf kanji Jepang

Tentara Jepang yang berlindung di lantai dasar masjid bersama senjata yang mereka sembunyikan di sana berhasil selamat dari serangan itu. Masjid ini kemudian menjadi tempat pengungsian korban perang.

Pasca Perang Dunia II, Pemerintah Arab Saudi dan Kuwait menyumbang dana renovasi dalam jumlah besar. Kaca-kaca jendela yang pecah diganti dengan kaca-kaca jendela baru yang didatangkan langsung dari Jerman.

Sebuah lampu hias baru digantungkan di tengah ruang shalat utama. Sistem pengatur suhu ruangan lalu dipasang di masjid ini. Sekolah yang hancur akibat perang kembali direnovasi dan beberapa bangunan tambahan pun mulai dibangun.

Suasana di dalam Masjid Kobe

Suasana di dalam Masjid Kobe

Kekokohan Masjid Kobe kembali diuji dengan gempa bumi dahsyat pada Selasa, 17 Januari 1995, pukul 05.46 waktu setempat. Gempa ini tak hanya mengguncang Kobe, tapi juga South Hyogo, Hyogo-Ken Nanbu dan lainnya. Para ahli menyebut gempa itu disebabkan tabrakan tiga lempeng yaitu lempeng Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Meski hanya berlangsung 20 detik, namun gempa ini memakan korban jiwa sebanyak 6.433 orang, yang sebagian besar merupakan penduduk kota Kobe. Gempa juga mengakibatkan kerusakan besar di kota seluas 20 kilometer dari pusat gempa.

Lingkungan di sekitar Masjid Kobe

Masjid Kobe memang terletak di daerah yang padat penduduk. Sebagian warga yang tinggal di sekitar masjid adalah orang-orang yang memeluk Agama Islam. Sebagian besar dari mereka berasal dari negara-negara lain, seperti Turki, Maroko, Pakistan, beberapa negara di daerah Arab, dan sebagainya. Mereka telah lama menetap dan bekerja di sana. Beberapa warga pemeluk Islam di sana juga termasuk warga negara Jepang.

Beberapa dari mereka membuka toko yang menjual bahan makanan halal bagi pemeluk Islam di Kobe. Ada beberapa toko yang berada di sekitar Masjid Kobe. Banyak orang-orang Islam yang tinggal di Kobe, menjadi langganan yang berbelanja di toko-toko tersebut. Misalnya daging ayam dan sapi, mie instan dari berbagai negara, kecap manis dari Indonesia, serta berbagai bumbu makanan halal dari berbagai negara. Orang-orang Islam yang tinggal jauh dari masjid Kobe, rela menempuh perjalanan dengan kereta atau bis, dan berjalan kaki untuk berbelanja di sana. Biasanya mereka ramai-ramai berbelanja di hari Jumat, seusai shalat Jumat di Masjid Kobe, termasuk para pelajar, mahasiswa dan pekerja yang berasal Indonesia.

Mahasiswa dan pelajar Indonesia di Kobe, Jepang

Mahasiswa dan pelajar, serta pekerja Indonesia di Kobe, Jepang di depan Toko ‘Kobe Halal Food’

Mereka memborong bahan makanan yang dirasa cukup untuk makan seminggu, hingga minggu depan mereka kembali lagi kesana. Memang tidak mudah mendapatkan bahan makanan halal di Jepang. Bahkan bagi mereka yang karena sesuatu hal, tidak sempat untuk datang pada hari Jumat, maka mereka akan titip beberapa daftar belanja kepada rekan-rekannya.

Suasana di dalam toko Kobe Halal Food, Kobe-Jepang

Suasana di dalam toko Kobe Halal Food, Kobe-Jepang

Toko-toko Halal Food di sana kadang juga menerima pagawai part-time dari kalangan pelajar atau mahasiswa asal Indonesia. Merupakan sebuah peluang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pendapatan tambahan dari pekerjaan tersebut, serta merupakan strategi marketing yang simple bagi pemilik toko tersebut. Karena pegawainya bisa menarik teman-teman mahasiswa dan pelajar Indonesia lainnya untuk sering-sering berbelanja di toko tersebut.

Bahan makanan yang dijual di Kobe Halal Food

Bahan makanan yang dijual di Kobe Halal Food

Selanjutnya … Suasana asyik bukber di Masjid Kobe bersama ratusan orang-orang dari berbagai negara

About

Redaksi Isigood.com menerima kiriman tulisan yang sesuai dengan rubrik yang ada. Baca ketentuannya di halaman "Kirim Tulisan" pada bagian atas situs ini. Kirim tulisanmu ke hzhafiri@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISIGOOD.com Mengisi Diri Dengan Kebaikan