[ISIGOOD.COM] Cukup mencengangkan, sekaligus membanggakan, UGM pada periode wisuda Tanggal 19 Mei 2015 yang lalu, mewisuda 1750 orang lulusan (program sarjana dan diploma) yang sepertiga diantara mereka meraih predikat cum-laude. Dengan kata lain, 1 dari 3 lulusan UGM meraih IPK diatas 3,5. Sepertiga bukan jumlah yang sedikit.

Saya yakin, di perguruan tinggi lainnya juga menghadirkan fakta yang serupa, meski tak sama persis. Misalnya IPB, UNPAD, UNS, Atmajaya, UPN, UII, dan lain-lain. Bahkan, bisa saja rata-rata IPK di perguruan tinggi lain tersebut justru lebih tinggi. Patut disangsikan, kalau masih ada mahasiswa yang bilang punya dosen killer-killer.

Fakta sahih ini menggambarkan bahwa lulusan perguruan tinggi jaman sekarang sudah jarang sekali ditemukan dengan menggenggam IPK dibawah 3,0. Selang 20 tahun silam, seorang mahasiswa bisa dengan bangga dan tersenyum lega ketika berani mengaku ber-IPK 2,75. Apalagi seorang mahasiswa yang bergaya penampilan mirip Rano Karno di dalam film-film remaja tahun 70an dan 80an.

Karena, mengulang sebuah mata kuliah, alias mendapat nilai D atau E, bukan perkara aneh dan langka. Mengulang-pun tidak cukup sekali, buktinya mahasiswa angkatan 80an bisa mengulang satu mata kuliah sampai lebih dari dua hingga empat kali, hanya untuk mendapat nilai C.

Mahasiswa lulus kuliah (minnpost.com)

Mahasiswa lulus kuliah (minnpost.com)

Baiklah, cukup bernostalgia dengan IPK masa lalu. Tidak mungkin membawa masa silam ke masa kini. Lebih baik fokus pada fakta di masa kini, dan apa akibatnya bagi masa depan lulusan perguruan tinggi jaman sekarang.

Masa studi makin singkat, jumlah angkatan kerja makin banyak

Dengan rerata masa studi S1/D4 sudah jauh dibawah 5 tahun, bahkan semakin mendekati rata-rata 4 tahun lebih sedikit (alias genap 8 semester saja), dan masa studi D3 berada di kisaran 3 tahun lebih 2 bulan, maka semakin mempercepat pertumbuhan angkatan kerja yang masuk ke dunia kerja.

Ini bagus, jika dilihat dari sudut pandang bahwa profil demografi Indonesia akan dipenuhi angkatan kerja dengan usia produktif. Pada tahun 2030, Jepang dan Singapura diramalkan akan memiliki komposisi penduduk usia tua (sudah melewati masa produktif) mencapai hampir 50%!

Sedangkan Indonesia pada tahun 2030, akan dibanjiri penduduk yang memiliki usia produktif. Inilah yang disebut Bonus Demografi. Dengan komposisi demografi semacam ini, Indonesia diramalkan akan merajai dunia sebagai negara ekonomi No.7 atau bahkan No.5 terkuat di dunia. Semoga saja, Amin.

Dari sudut pandang lain, bonus ini bisa berubah menjadi bencana (Bencana Demografi), dan ramalan akan meleset 180%, dalam seketika! Apa penyebabnya? Tak lain adalah, kualitas pendidikan dan ketrampilan lulusan takkan laku kalau hanya ‘jualan’ IPK. Apalagi ternyata mereka tidak memiliki kompetensi dan skills yang betul-betul dibutuhkan di dunia kerja.

Ingat, kerja itu tidak dengan ijazah dan transkrip ber-IPK tinggi, tapi dengan kompetensi dan skills.

Perusahaan sempat dibuat tercengang dan bingung

Sangat mungkin, perusahaan juga dipaksa ‘bersikap’ realistis terhadap para pelamar pekerjaan yang memiliki IPK ‘setinggi pohon cemara’ ini. Sekilas banyak perusahaan yang terkejut dan gembira, dan menerima para pemiliki IPK tinggi bekerja sebagai karyawannya.

Apakah mereka puas dengan kinerja para pemilik IPK tinggi tersebut? Jawabannya, Ya dan Tidak.

Namun, pada akhirnya kita melihat kenyataan di lapangan yang di luar harapan kita. Misalnya di acara Job Fair, terkadang para perusahaan memilih melakukan cara-cara vulgar untuk menyaring para pelamar yang hampir semuanya ber-IPK diatas 3,0. Misalnya, mereka bahkan memasang persyaratan, pelamar pekerjaan harus berasal dari kampus atau perguruan tinggi tertentu. Besar kemungkinannya, bagi yang bukan berasal dari kampus tersebut, berkas lamarannya tidak diproses sama sekali.

Contoh lain, pihak manajemen perusahaan juga semakin intens untuk masuk ke kampus-kampus tertentu, dan menawarkan beasiswa ikatan dinas kepada para mahasiswa semester akhir. Tentu saja tidak semua mahasiswa mendapatkan tawaran ini, ada proses seleksi dan penyaringan yang tak kalah ketat dari prosedur lowongan tenaga kerja di Job Fair.

Bagaimana cara mensikapinya?

Sebenarnya fenomena ini tidak fair (meminjam istilah Jof Fair, meski beda artinya). Kalau perusahaan itu bersikap fair, seharusnya seluruh berkas lamaran yang masuk, entah dari kampus manapun, harus diperlakukan secara adil dan merata. Meskipun kita juga harus memahami pula, sistem HRD di perusahaan-perusahaan tersebut ditekan oleh prinsip-prinsip ekonomi yang pasang constraint : Jangan sampai salah pilih pegawai, kalau tidak mau perusahaan rugi.

Apa makna semua ini? Mari kita tarik sebuah kesimpulan kecil, bahwa perusahaan selalu memiliki cara untuk menemukan yang terbaik dari lulusan yang ada. Kalau dulu, cukup dengan pasang syarat IPK diatas 3,0 mereka akan menemukan sekelompok lulusan yang mereka harapkan. Kalau jaman sekarang, mereka melakukan dengan cara-cara sebagai berikut (misalnya):

1. Memasang persyaratan asal perguruan tinggi/kampus,

2. Mendalami CV lebih detil,

3. Menyelenggarakan tes psikologi atau TPA (Tes Potensi Akademik) yang sangat ketat, serta

4. Datang ke kampus-kampus tertentu untuk menjaring mahasiswa semester akhir, dengan ikatan beasiswa pendidikan hingga lulus.

Kesimpulannya, IPK bukan segala-galanya, tapi tetap penting

Kembali saya paparkan lagi, bahwa IPK tinggi tetap penting, terutama untuk mengukur seberapa jauh seorang mahasiswa bertanggung jawab pada tugas dan target dalam hidupnya. Serta, IPK tinggi sangat bermanfaat agar ‘lebih dilirik’ oleh para reviewer pada lowongan pekerjaan.

Namun ternyata IPK tinggi ternyata bukan harapan No.1, menurut 59 perusahaan yang pernah disurvei. Artikel asli dapat disimak di sini.

Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Engineering Career Center (ECC) UGM, 40 dari 59 perusahaan (68%) yang menjadi responden, menginginkan lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi ‘Communication and Sales Skills’. Inilah kemampuan seorang lulusan perguruan tinggi yang ternyata paling didambakan oleh perusahaan pencari tenaga kerja. Bukan sekedar kemampuan komunikasi in-formal, namun fasih dan luwes di dalam berkomunikasi dalam dunia formal yang mampu menghadirkan proyek besar bagi perusahaan.

Direktur ECC-UGM, Nurhadi mengungkapkan, “Generasi muda masa kini sudah terlalu lengket dengan gadget mereka, sehingga semakin mengikis kemampuan adaptasi sosialnya. Akibatnya menjadi semacam autis tertentu.” Sehingga wajar bila ke-59 perusahaan paling keras menyuarakan peringatan semakin terkikisnya aspek kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi pada generasi muda. Apalagi, masih banyak mahasiswa yang tetap saja mendewa-dewakan IPK tinggi, tapi mengorbankan kesempatan untuk mengasah softskill mereka.

Kemudian di peringkat ke-2 dan ke-3, sama-sama dengan persentase 59%, yaitu ‘Self Management’ dan ‘Presentation Skill’ menjadi tuntutan berikutnya yang diinginkan perusahaan. Ketiga aspek kemampuan tuntutan perusahaan ini harus juga dilekatkan dengan kemampuan berbahasa asing yang baik. Jadi, tidak diragukan lagi, perusahaan ingin bersama-sema dengan SDM-nya untuk memenangkan persaingan global. Tidak sekedar persaingan lokal atau nasional.

Duduk di peringkat ke-4, dengan persentase 58% (34 perusahaan responden), adalah ‘Leadership’. Semakin jelas polanya, yaitu mengharapkan kehadiran para calon pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik.

Lalu, IPK tinggi duduk di peringkat berapa? Apakah di peringkat ke-5? Ternyata peringkat ke-5 bukan faktor IPK tinggi, melainkan ‘Personality Development’, atau karakter dan komitmen pengembangan diri (54%, 32 perusahaan responden).

Selanjutnya adalah,

Peringkat ke-6 (49%, 29 perusahaan): Problem Solving Skill

Peringkat ke-7 (46%, 27 perusahaan): Conflict Management

Peringkat ke-8 (44%, 26 perusahaan): Emotional Control Skill

Peringkat ke-9 (37%, 22 perusahaan): Cognitive and Knowledge

Yup, ternyata IPK tinggi tetap menjadi dambaan perusahaan, dan menduduki di peringkat ke-9. Meskipun sebenarnya aspek cognitive dan knowledge ini sangat luas pengertiannya. Tidak hanya sebatas ilmu dan pengetahuan yang dipelajari di bangku kuliah, yang berpengaruh langsung terhadap IPK. Namun bisa juga mencakup pengetahuan umum lainnya. Jadi, secara spesifik, tidak hanya IPK tinggi. Pengetahuan umum dan pengetahuan praktis juga dibutuhkan.

Peringkat ke-10 (36%, 21 perusahaan): Project Management Skill

Sisanya adalah: Management/Organization, dan Learning Skill, yang persentasenya tidak terpaut jauh dari yang lain.

Sekali lagi, IPK jelas menjadi faktor penting. Terutama ketika mendaftarkan diri pada proses rekruitmen pegawai. Kalau IPK-nya rendah, perusahaan juga mikir-mikir. Dikhawatirkan, orang dengan IPK rendah berpotensi tidak memiliki tanggung jawab dan dedikasi tinggi, bahkan terhadap hidupnya sendiri. Pada saat masih di bangku kuliah, mahasiswa bertanggung jawab atas masa depannya untuk meraih IPK setinggi-tingginya, tapi bukan mendewa-dewakan IPK super tinggi dan mengorbankan waktu untuk bersosialisasi dan berorganisasi mengasah ketrampilan dan kompetensi yang didambakan ke-59 perusahaan tersebut.

Kesimpulan (fair-)nya adalah,

diucapkan selamat bagi lulusan yang berhasil meraih IPK tinggi. Namun jangan sampai mengesampingkan Soft-Skills. Dan bagi yang IPK-nya relatif tidak terlalu tinggi, jangan berkecil hati. Maksimalkan Soft-Skills kamu, dan perdalam kemampuan Bahasa Asing/Bahasa Inggris kamu hingga fasih berkomunikasi di dunia internasional.

 

 

Pejuang Beasiswa tunas-indonesia.org - Dosen SV-UGM - Owner of Fasnetgama Training Center (fasnetgama.co.id) - Ketua Yayasan Tunas Indonesia Jepang - Loving tennis, football, piano & family

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISIGOOD.com Mengisi Diri Dengan Kebaikan