Manusia adalah makhluk sosial. Seberapapun tertutupnya orang tersebut, ia pasti tetap membutuhkan peran dari orang lain. Manusia tidak dapat hidup tanpa adanya bantuan orang lain. Meski ia telah terbiasa hidup mandiri, tak dapat dipungkiri bahwa ia pasti akan tetap membutuhkan peran orang lain di dalam hidupnya. Seberapa pintarpun seseorang, pasti ada beberapa hal yang tidak dikuasainya. Itulah sebabnya mengapa manusia di dunia ini pasti saling membutuhkan.

Dalam kehidupan sosial, ada aturan-aturan tidak tertulis yang—seharusnya—diketahui oleh orang-orang yang ingin sukses dalam kehidupan sosialnya. Berikut ini adalah hal-hal yang harus kita hindari dalam kehidupan sosial.

1. Menilai terlalu cepat

Kita tak bisa mengerti bagaimana orang lain sebelum kita pernah memosisikan diri di posisinya (emilysquotes.com)

Biasanya, orang baru dalam suatu lingkungan akan mendapatkan perhatian dari orang-orang lama dalam lingkungan tersebut. Orang-orang lama biasanya penasaran terhadap orang baru yang muncul ke dalam lingkungannya. Tidak jarang, ketika seseorang penasaran, ia berusaha mencari tahu tentang orang baru tersebut—entah bagaimana caranya. Dalam hal ini, biasanya seseorang “terlalu cepat menilai”. Ada semacam perkiraan “Kayaknya dia sok pinter deh”, “Kayaknya dia sok cantik deh”, “Kayaknya dia sombong deh”. Pemikiran seperti itulah yang harus kita hindari. Mengapa kita bisa sedemikian cepatnya menilai seseorang yang bahkan baru kita kenal dalam hitungan bulan—bahkan hari? Kenal setahun-dua tahun saja tidak menjamin kita bisa benar-benar mengenal seseorang, apalagi hanya dalam hitungan bulan.

2. Terkecoh dengan media sosial

Jangan gampang terkecoh dengan media sosial milik orang lain (marketingland.com)

Zaman sekarang siapa sih yang tidak punya akun media sosial? Hampir setiap orang punya. Cara paling mudah untuk “ngepoin” orang ya dari media sosialnya. Dari mana lagi? Kalau tanya ke temannya, takutnya nanti ketahuan kepo. Ya nggak? Nah, hal yang harus kita ingat selalu adalah media sosial tidak selalu mencerminkan penggunanya seratus persen. Coba kita pikir, apakah mungkin seseorang mengumbar segala hal yang ada dalam hidupnya ke akun media sosialnya? Sepertinya tidak. Kalaupun iya, paling hanya beberapa. Seseorang cenderung memilah-milah apa yang ingin dia sampaikan ke khalayak di akun media sosialnya. Orang seringkali menilai orang lain hanya dari dunia maya—ini terlalu dangkal.

3. Manis di depan, pait di belakang (?)

Di depan manis, di belakang pait? (i.ytimg.com)

Nah, ini dia. Berapa banyak orang yang bersikap manis di depan tapi di belakang menertawakan atau bahkan menghujat? Mungkin ada pernyataan bahwa “Kita harus sopan terhadap siapapun, bahkan terhadap orang yang kita tidak suka”. Iya, pendapat itu benar, dengan catatan: “Kita juga harus sopan di belakang—tidak hanya di depan”. Percuma beramah-tamah dan bersopan-ria di depan tetapi di belakang menertawakan atau bahkan menghujat. Kalau memang tidak suka, ya sudah, cukup kamu dan Tuhan yang tahu. Orang-orang yang lain tidak perlu kamu pengaruhi untuk tidak suka juga. Membicarakan aib teman sendiri di depan teman-teman yang lain itu tindakan yang cukup kejam lho. Tidak ada manusia yang sempurna. Kamu sendiri apakah mau diperlakukan seperti itu—diperlakukan manis di depan tetapi di belakang kamu dihujat?

4. Berbuat pamrih

Selama ini ikhlas nggak? (www.wikihow.com)

Berapa banyak orang yang berbuat baik bukan karena memang benar-benar ingin berbuat baik tetapi hanya ingin “dianggap baik”?. Bedakan antara “ingin berbuat baik” dan “ingin dianggap baik”. Ingin berbuat baik berarti tulus dari hati memang kamu ingin berbuat baik terhadap orang lain. Ingin dianggap baik berarti kamu berbuat baik bukan karena ketulusan dari dalam hatimu, melainkan adanya keinginan untuk dianggap baik oleh orang lain. Yuk, kita renungkan kembali, apakah selama ini kita berbuat baik karena benar-benar ingin berbuat baik atau hanya karena ingin dianggap baik?

5. Iri melihat teman sendiri berhasil

Iri melihat teman sendiri berhasil? (cdn3.drprem.com)

Melihat ada teman yang berhasil kok malah iri? Harusnya ikut seneng dong. Adanya teman yang berhasil seharusnya jadi motivasi untuk diri sendiri. Mungkin ada banyak orang yang tidak sadar bahwa dirinya iri. Ciri-ciri iri paling sederhana adalah kamu selalu mengkritik temanmu yang berhasil. Mengapa harus begitu? Mengapa tidak terima melihat kebahagiaan orang lain? Jangan sampai kita merasa diri kita paling hebat sampai-sampai tidak terima kalau melihat ada orang lain yang lebih berhasil daripada kita.

 

Itulah hal-hal yang harus kita hindari dalam kehidupan sosial. Semoga bisa menjadi bahan cerminan untuk kita semua 🙂

Santai aja ya bacanya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *