Bagaimana Pulau Ini Selamat Dari Bencana Tsunami Desember 2004?

[ISIGOOD.COM] Desember mengingatkan kita akan bencana besar yang terjadi 12 tahun lalu. Bencana tsunami yang memorakporandakan negara-negara di kawasan Samudera Hindia. Namun, salah satu pulau ini sangat dekat dengan episentrum gempa yang mengguncang Asia Tenggara di pagi itu menyimpan cerita unik. Pulau ini benar-benar selamat dari amukan tsunami. Ini sebabnya.

Sesaat seusai gempa 9,2 skala Richter mengguncang Simeulue, Aceh, 26 Desember 2004, semenit sebelum pukul 08.00, ribuan kerbau yang biasa berendam di muara sungai sontak berlarian. Kerbau-kerbau itu berlomba dengan penduduk Simeulue mengungsi ke perbukitan sebelum tsunami menerjang.

Di pantai barat Banda Aceh, Muhtar (57) juga menyaksikan burung-burung terbang menjauhi pantai sekitar 15 menit sebelum tsunami menghantam Kampung Monsinget, Desa Kaju, Batussalam, Aceh Besar.

Muhtar merasakan keanehan, tetapi rasa ingin tahunya membawa lelaki kekar itu mendekati pantai, sekitar satu kilometer dari rumahnya. Baru setengah jalan, Muhtar bergidik karena melihat gelombang tsunami yang bergulung-gulung menuju arahnya.

Di tepi Pantai Patanangala, Sri Lanka, gajah-gajah melengking dan berlari ke bukit sebelum datangnya tsunami. Burung-burung flamingo di cagar alam Point Calimere, India, juga meninggalkan sarangnya di tepi pantai. Burung-burung berkaki jenjang itu terbang ke tempat lebih tinggi. Di sepanjang pesisir Cuddalore, India, kantor berita Indo-Asian News melaporkan tak ditemukan kerbau, kambing, ataupun anjing yang terluka akibat tsunami.

Ravi Corea, Presiden Sri Lanka Wildlife Conservation Society, kepada National Geographic News mengatakan, seorang temannya di Sri Lanka selatan menyaksikan rombongan kelelawar terbang sesaat sebelum tsunami menghantam pantai. Di Dickwella, salah satu kota di Sri Lanka selatan, anjing-anjing peliharaan enggan diajak ke luar rumah. Satwa-satwa di kebun binatang pun meringkuk di kandang. Pawang tak mampu memaksa keluar.

Perilaku aneh satwa itu tak terjelaskan. Hingga satu jam kemudian tsunami menghantam Pantai Patanangala di dalam Taman Nasional Yala. Satwa- satwa liar di kawasan konservasi itu lari ke daerah lebih tinggi saat gelombang raksasa menyeberangi Samudra Hindia dengan kecepatan pesawat jet. Tsunami itu menyapu sekitar 60 wisatawan di Pantai Patanangala.

Insting binatang

Di Simeulue, insting yang dimiliki kerbau menyelamatkan binatang itu dari terjangan tsunami. ”Kerbau-kerbau itu menyelamatkan diri sebelum tsunami datang. Jarang ada kerbau mati karena tsunami. Dari 10 kerbau saya, hanya satu hilang,” ujar Safridin (40), warga Alafan, Simeulue.

Saat kerbau-kerbau berlarian, Safridin masih menjala di pantai. Ia baru mulai berlari meninggalkan pantai setelah melihat laut surut. Ia berlari ke rumah menjemput istri dan anak-anaknya untuk mengungsi ke atas bukit di belakang kampung.

Masyarakat Simeulue memiliki pengetahuan tentang smong, yaitu ombak laut yang akan menerjang daratan setelah gempa besar. Sebelum datang ombak besar itu, biasanya dicirikan surutnya air laut. ”Kami sering mendapat cerita smong itu dari orang-orang tua kami. Mereka mengalami smong tahun tujuh (1907),” kata Safridin. Pengetahuan ini yang menyelamatkan warga Simeulue saat gempa dan tsunami tahun 2004.

Jika masyarakat Simeulue mendapatkan pengetahuan itu dari cerita lisan yang diwariskan, dari mana kerbau dan binatang mengetahui datangnya tsunami?

Pengetahuan satwa menjelang tsunami atau gempa bumi lama menjadi misteri. Dalam artikel Did Animals Sense Tsunami Was Coming? (2005), Alan Robinowits, Direktur Ilmu Pengetahuan dan Penyelidikan di Bronx Zoo, New York, menilai satwa merasakan ancaman bahaya dengan mendeteksi keanehan atau perubahan mendadak di sekitarnya.

”Gempa bumi menyebabkan perubahan getaran di permukaan tanah dan air. Badai menyebabkan perubahan elektromagnetik di atmosfer,” ujar Robinowits.

Untuk mengetahui ada tidaknya proses akumulasi energi, bisa diteliti dengan meneliti ada tidaknya pergeseran suatu lokasi (itb.ac.id)

Beberapa binatang, lanjutnya, memiliki pendengaran dan penciuman sangat peka yang bisa memberi tahu ada yang menuju ke arah mereka sebelum manusia tahu. Manusia dahulu kala juga memiliki indera ”keenam” seperti itu, tetapi perlahan hilang karena tak digunakan lagi.

Perilaku gajah menjelang tsunami bisa sedikit terjawab dari penelitian Joyce Poole, Direktur Savanna Elephant Vocalization Project, yang berkantor di Norwegia. Poole pernah bekerja meneliti gajah-gajah Afrika selama 25 tahun di Kenya. Ia tak terkejut dengan laporan mengenai gajah di Sri Lanka yang lari ke tempat tinggi jelang tsunami.

”Saya pernah bersama gajah saat terjadi dua gempa kecil. Dalam dua kejadian itu, gajah- gajah lari beberapa detik sebelum saya merasa goncangan,” ujarnya.

United States Geological Survey (USGS) pernah meneliti perilaku aneh satwa ini tahun 1970. Namun, penelitian itu tak bisa menjelaskan secara pasti penyebab perilaku aneh itu. Sejak itu, USGS tak melanjutkan penelitian karena perilaku satwa sangat sulit diterjemahkan dan tak bisa menjadi patokan mitigasi.

Jika insting binatang mendeteksi gempa dan tsunami masih sulit terjelaskan, tak demikian dengan kemampuan binatang mendeteksi letusan gunung. ”Sebelum gunung meletus, ada tekanan fluida yang mendorong sumbat gunung,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono.

Batuan juga punya daya elastisitas tertentu sehingga ketika ditekan akan melentur sebelum pada suatu titik jebol. Dorongan tekanan tinggi yang membentur sumbat gunung itulah yang memunculkan frekuensi tinggi yang suara bisingnya hanya bisa didengar hewan tertentu. ”Pada saat itulah hewan-hewan yang tak tahan suara bising ini berlarian turun gunung,” katanya.

Akankah binatang juga mendengar frekuensi suara tertentu sebelum datangnya gempa dan tsunami? Di Simeulue, kerbau-kerbau selamat. Suara berfrekuensi tinggi ini tak bisa didengar manusia. Beda dengan binatang, misalnya, kelelawar atau lebah.

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Pesona Festival Terbesar di Laos, Negara Tak Berpantai

[ISIGOOD.COM] Negara di Asia Tenggara ini menyimpan banyak hal menarik dan eksotis untu dikunjungi. Hampir semua dari kita menyebutnya dengan Laos (dengan huruf  “s” yg kental), meskipun tidak salah, namun pengucapan yang benar adalah “Lao” tanpa S. Prancis memberi nama negara ini dengan Laos, berdasarkan etnis yang terbesar dan dominan di kawasan tersebut. Dalam bahasa Prancis, huruf “s” di belakang sebuah kata biasanya tak diucapkan, sehingga pengucapannya adalah “Lao”).

Inilah satu-satunya negara Asia Tenggara yang tidak mempunyai pantai (landlocked) dan dikelilingi daratan negara-negara tetangganya, Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan China. Inilah salah satu negeri yang dari dulu selalu ingin saya kunjungi. Karena letak geografisnya yang ‘tersembunyi’ di balik negara-negara tetangganya yang lebih populer, dulunya mencapai ke Laos bukanlah hal yang murah dan mudah. Harus beberapa kali transit dan bertukar pesawat untuk sampai ke sini.

Untungnya, era penerbangan murah sukses membuka pintu udara Laos, dan ‘banjir’ wisatawan mancanegara ke negara tersebut telah membuka pintu harapan baru menuju kemakmuran ekonomi. Sektor pariwisata telah menjadi kontributor terbesar ke-2 terhadap ekonomi negara tersebut setelah pertanian. Menurut data dari Kementerian Pariwisata Laos, pada tahun 90an, negara tersebut rata-rata hanya didatangi sekitar 80.000 turis mancanegara per tahun, kini jumlahnya meningkat berkali-kali lipat, menjadi sekitar 4 juta kunjungan per tahun. Dengan penduduk hampir 7 juta (saja), jumlah 4 juta tentu adalah proporsi yang luar biasa.

Saya sempat mengunjungi negara indah ini. Slogan pariwisatanya pun tak muluk-muluk, yakni “Simply Beautiful”. Saya terbang dari Surabaya, transit di Bangkok 1 malam. Pagi harinya, saya terbang ke Wattay Internasional Airport yang berada di kota Vientiane, ibukota negara Laos. Saya mendarat di Vientiane masih cukup pagi, dan langsung berbegas ke hotel.

Tak banyak yang saya bisa lihat dari taksi yang membawa saya dari airport ke hotel, karena jaraknya sangat dekat. Artinya, bandara Wattay memang belum begitu sibuk. Bandara ini ‘hanya’ melayani sekitar 1 juta penumpang per tahun (bandingkan dengan, misalnya, bandara Sam Ratulangi di Manado yang sudah melayani 2 juta penumpang per tahun). Meski begitu, pemerintah Laos jauh-jauh hari sudah mempersiapkan ekspansi bandara Wattay untuk mengantisipasi lonjatan wisatawan mancanegara yang makin bertambah jumlahnya tiap tahun. Langkah yang baik.

Festival di Laos (treasuresoflaos.com)

Tujuan utama saya ke Laos adalah melihat langsung festival yang disebut-sebut paling populer dan terbesar di negara Buddha tersebut, yakni festival That Luang. Festival ini dilaksanakan di dalam kuil That Luang, kuil terbesar dan paling penting bagi penganut Buddha Teravada di Laos, yang letaknya juga berada di tengah kota Vientiane. Kuil That Luang (Stupa Emas) dibangun pada 1566 dan telah beberapa kali hancur karena serangan kerajaan Siam (Thailand kini) , dan telah direnovasi beberapa kali.

Festival ini berlangsung 3 hingga 7 hari pada minggu bulan purnama penanggalan Buddha, sekitar November atau Oktober. Festival dimulai dengan penyalaan lilin beraneka warna di petang hari di depan Wat Simeuang, dimana para peserta festival (para jamaah) berkumpul dan berjalan mengelilingi bangunan tersebut 3 kali. Wat Simueuang disebut sebagai pilar kota Vientianna, dan merupakan tujuan wisata populer di Vientiane. Kuil Buddha ini berada di reruntuhan kuil Hindu Khmer kuno. Kuil yang sekarang, yang dibangun pada tahun 1563, dipercaya dijaga oleh ruh gaib, yaitu ruh seorang wanita yang sedang hamil bernama Nang Si, yang dikorbankan ketika kuil ini dibangun. Nang Si dipercaya menjadi penjaga kota Vientiane, dan setiap tahun dilakukan ritual untuk menghormati rohnya di tempat tersebut.

Para peserta mengelilingi kuil tersebut dengan memegang lilin, dupa, dan bunga, sambil memukul kendang dan simbal sembari mengelilinginya.

Prosesi berlanjut keesokan harinya, pada menjelang petang hari. Kali ini diikuti oleh lebih banyak orang, mencapai ribuan orang. Mereka berkumpul membawa berbagai macam perangkat upacara, memakai baju tradisional Laos yang terbaik atau terbaru, untuk menghormati That Luang. Mereka bernyanyi, bermain musik, dan menari mengelilingi stupa emas raksasa tersebut searah jarum jam, sambil dipandu lafal doa dari biksu-biksu melalui pengeras suara.

Hari berikutnya, festival pun berlanjut. Lagi-lagi ribuan orang berkumpul sejak fajar di That Luang untuk memberi derma kepada ratusan biksu yang datang dari sekitar Vientiane, dan beribadat di stupa. Inilah “taak baat” dimana orang-orang mulai berdatangan sejak pukul 4 pagi, demi mendapatkan tempat terbaik di area That Luang untuk bersembahyang dan menyampaikan persembahan mereka. Baik di dalam maupun di luar stupa, ratusan biksu berbaju oranye berkumpul untuk menerima persembahan tersebut.

Selama prosesi ‘taak baat’, semua orang duduk diam dan khidmat mendengarkan doa-doa panjang yang dilafalkan oleh biksu melalui pengeras suara. Beberapa orang menuangkan air ke tanah sebagai simbul persembahan kepada Ngamae Thorani (dewi bumi) untuk menyampaikan pada leluhur mereka untuk datang dan menerima persembahan mereka, sedangkan beberapa orang yang lain melepaskan burung-burung dari sangkarnya sebagai simbol mendatangkan berbagai kebaikan di kehidupan. Setelah prosesi selesai, semua orang secara tertib berusaha mencapai stupa untuk secara langsung memberikan persembahan mereka kepada para biksu, menyalakan lilin dan duba, dan berdoa untuk keberuntungan.

Seluruh prosesi festival That Luang akan berakhir menjelang bulan purnama. Inilah masa dimana ribuan orang akan kembali ke That Luang untuk terakhir kalinya menyalakan lilin, dan menyulut dupa.

Saya merasakan kekhidmatan dan kebahagiaan di festival yang penuh warna tersebut. Dari dulu saya mendengar bahwa masyarakat Laos terkenal dengan kesabaran dan kebaikan hatinya. Dalam budaya Laos, budaya meminta, apalagi mengemis, sangat ditabukan. Mereka diajarkan untuk selalu membantu dan memberi, dan mendahulukan kepentingan bersama. Di festival ini, orang-orang tersebut berkumpul secara massal.  Terlihat sekali betapa event ini begitu dinantikan oleh masyarakat Laos,  para peserta upacara datang dari seluruh penjuru negeri, bahkan dari warga Laos yang bermukim di luar negeri. Di Indonesia, mungkin seperti lebaran yang selalu dinantikan, dipersiapkan, dan keluarga saling bertemu.

Jika anda tertarik untuk melihat budaya Laos, mulailah dari festival ini, dan amati betapa budaya, adat istiadat, kebiasaan, dan orang-orang Laos berkumpul, dan bergembira. Setelah itu, silakan berkeliling ke negeri tak berpantai ini. Selamat berlibur ya 🙂

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Asal Usul Pulau Komodo, Destinasi Wisata Dunia di Indonesia

[ISIGOOD.COM] Pulau Komodo yang masuk dalam Warisan Dunia UNESCO ini patut untuk menjadi destinasi wisata kamu. Banyak yang masih mengira bahwa Pulau Komodo adalah pulau yang hanya dihuni oleh Komodo dan Biota liar lainnya. Padahal di pulau yang saat ini telah mejadi bagian dari Taman Nasional Komodo yang terletak di Nusa Tenggara Timur ini terdapat penduduk asli yang dahulu banyak hidup dengan menjadi nelayan. Mereka tinggal di kampung yang bernama Kampung Komodo yang letaknya tidak jauh dari teluk dermaga Loh Liang, dermaga yang saat ini selalu menjadi pintu masuk Wisatawan ke Pulau Komodo.

Uniknya para penduduk lokal punya sebutan sendiri untuk Pulau Komodo, yakni Pulau Orah. Lalu komodo adalah nama hewan yang mendiami Pulau Orah. Dulu, para penduduk asli hidup tersebar di Pulau Orah sampai pulau ini ditetapkan sebagai bagian dari Taman Nasional Komodo pada 6 Maret 1980.

Sebagaimana di lansir CNN Indonesia, bekas-bekas wilayah inti perkampungan penduduk lokal Pulau Komodo masih terlihat di dermaga Loh Liang. Terlihat masih berjajar rapi pohon kedondo yang dulu digunakan sebagai pagar atau batas tanah penduduk. Kulit pohon kedondo tersebut ternyata juga digunakan masyarakat sebagai obat luka.

Pohon gebang (Corypha utan) yang banyak tumbuh di Pulau Komodo, dulu adalah sumber makanan pokok yang diolah menjadi sagu oleh masyarakat Komodo sebelum digantikan nasi. Gebang adalah keluarga palma yang tumbuh di dataran rendah. Penduduk Komodo mengambil isi pokok pohon gebang yang berusia 15 tahun untuk diolah menjadi tepung, seperti sagu, lalu dimasak seperti membuat papeda. Pohon yang tumbuh menjulang ini juga banyak berperan dalam fase awal kehidupan Komodo yang harus bertahan hidup dari Induknya yang kanibal.

Komodo (pulaukomodo.com)

Sayangnya, penduduk Komodo sekarang bukan lagi orang asli Komodo. Bahkan, menurut ranger Tasrif, orang asli Komodo sudah tak ada lagi dan dinyatakan telah punah. Penduduk yang mendiami Pulau Komodo saat ini adalah campuran orang Bugis, Bima, dan Larantuka. Tasrif, contohnya, yang berayah Bima dan beribu Larantuka. Ranger lain di Pulau Komodo, Kamal, berasal dari Larantuka.

Sebenarnya menurut cerita yang beredar keberadaan orang asli Komodo tak dapat dilepaskan dari legenda Putri Naga yang diyakini masyarakat.

Kisahnya, Putri Naga menikah dengan pria bernama Majo. Dia melahirkan anak kembar, yaitu anak laki-laki bernama Si Gerong dan seekor naga betina bernama Orah. Si Gerong dibesarkan di tengah-tengah masyarakat, sedangkan Orah dilepaskan di hutan. Keduanya tidak saling kenal.

Bertahun-tahun kemudian, Si Gerong yang sudah dewasa, memanah seekor rusa saat berburu di hutan. Namun sewaktu dia melangkah maju untuk mengambil buruannya, seekor kadal besar muncul dari semak-semak dan seketika mencaplok rusa tersebut.

Si Gerong berusaha mengambil, tapi sia-sia. Si kadal besar diam di sisi bangkai rusa, sambil menunjukkan gigi-giginya dia memperingatkan Si Gerong untuk pergi.

Si Gerong mengangkat tombak hendak membunuh kadal itu. Namun tiba-tiba muncul perempuan berwajah cantik, Putri Naga, yang segera memisahkan dua musuh tersebut.

Dia katakan pada Si Gerong, “Jangan bunuh hewan ini. Dia saudarimu, Orah. Saya melahirkan kalian bersamaan. Anggaplah dia sama denganmu karena kalian kembar.”

Sejak itu, penduduk memperlakukan komodo dengan baik. Hewan tersebut berkeliaran bebas di hutan, makan babi hutan, rusa, dan hewan lain. Komodo tua yang tak dapat lagi melawan, dimakan saudaranya, manusia.

Si Gerong adalah manusia asli terakhir Pulau Orah. Dia tak punya keturunan. Sepenuturan Tasrif, orang-orang zaman dulu yang sempat bertemu Si Gerong, mengatakan ciri-ciri si Gerong berkulit putih dan berdaun telinga lebar. “Penampilannya seperti orang Dayak,” katanya. Mari berkunjung dan mengeksplorasi kekayaan nusantara.

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Brrr… Inilah Kota-Kota Terdingin yang ada di Indonesia

[ISIGOOD.COM] Akhir tahun biasanya musim hujan tengah melanda seluruh daerah di Indonesia. Udara yang biasanya panas terik khas negara tropis kini berganti sejuk. Seperti kita ketahui sebagian besar kota di Indonesia cenderung terasa panas, ini salah satu konsekuensi dari negara yang dikenal dengan sebutan “Negara Khatulistiwa”. Namun ternyata ada beberapa kota yang justru memiliki suhu yang dingin. Seperti dilansir dari laman Skyscanner berikut 5 kota terdingin di Indonesia:

Mulia, Puncak Jaya, Papua

(pinterest.com)

(pinterest.com)

Mulia merupakan kota pegunungan kecil yang terletak pada ketinggian 2.448 meter di atas permukaan laut.

Meski kecil, Mulia cukup ramai dengan kehadiran banyak kantor pemerintahan. Jalan-jalan juga sudah beraspal dan infrastruktur pendukung pun sudah memadai walau jumlahnya masih sedikit.

Berastagi, Karo, Sumatra Utara

Berastagi {metrowisatasumut.info)

Terletak di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut, Berastagi memiliki udara yang cukup dingin. Diapit oleh Gunung Sibayah dan Gunung Sinabung, Berastagi memiliki pemandangan yang memikat, seperti Air Terjun Sikulikap.

Padang Panjang, Padang, Sumatera Barat

(google.com)

(google.com)

Terletak 650 hingga 950 meter di atas permukaan laut, Padang Panjang memiliki udara yang cukup dingin. Tiga gunung mengelilingi Padang Panjang, yaitu Gunung Marapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Tandikat.

Tak heran jika Padang Panjang memiliki cuaca yang sejuk. Curah hujan di sini cukup tinggi dengan rata-rata 3.295 mm per tahun dan suhu udara terendah 21.8 derajat Celcius.

Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Ruteng (bumi-nusantara.info)

Berlokasi di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut, Ruteng memiliki udara yang cukup dingin. Ruteng juga menjadi istimewa karena memiliki pemandangan seperti di Praha dengan bangunan yang bergaya Eropa.

Selain itu, Ruteng memiliki area persawahan yang masih lebar dan hijau serta pemandangan gunung yang indah.

Gayo Lues, Aceh

Gayo Lues (ahmadsyahputeraas.net)

Sebagai kabupaten terisolasi di Aceh, Gayo Lues terletak di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Gayo memiliki pesona yang luar biasa seperti jalur pendakian ke Gunung Leuser dan pemandian air panas di Puri Betung.

Selain itu, kabupaten ini merupakan penghasil sayur dan buah terbaik di Aceh. Namun, Gayo Lues paling dikenal sebagai penghasil Kopi Gayo yang telah mendunia.

Kamu punya rekomendasi kota terdingin lainnya ? Komen di bawah ya

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Terapi Kognitif Mampu Menyelamatkan Kecanduan dari Minuman Kopi

[ISIGOOD.COM] Kamu penggemar minuman kopi? Kopi mungkin menjadi salah satu minuman favorit bagi banyak orang. Namun tak sedikit yang menjadi kecanduan gara-gara minuman aromatik ini.

Kini, tim dokter dari Johns Hopkins University di Baltimore dan the American University di Wahington DC telah menemukan teknik menangani orang yang kecanduan kafein pada kopi dengan terapi kognitif dan pendampingan.

Tim peneliti tersebut mengatakan bahwa dampak negatif dari kecanduan kafein adalah kecemasan, sakit perut, hingga mood yang tinggi, serta menurunkan waktu tidur. Dampak lainnya termasuk sakit kepala, kelelahan, dan sakit yang gejalanya mirip flu.

“Kini terapi perilaku kognitif yang biasanya digunakan untuk penderita kecemasan telah ditemukan dapat membantu mengurangi penggunaan berlebih kafein pada orang-orang,” kata tim peneliti seperti yang dilansir Daily Mail.

Program terapi berupa pendampingan dengan seorang terapis dan pasien diminta untuk mengikuti program pengurangan kafein secara bertahap. Pengurangan kafein dilakukan setiap lima pekan hingga pasien tidak lagi merasakan gejala kecanduan kafein.

Secangkir kopi (unclelimak.net)

Dalam penelitian yang melibatkan 67 pasien tersebut, tim peneliti menemukan bahwa 77 persen pasien dapat menurunkan kadar kafein yang mereka konsumsi. Mereka diketahui berhasil mengurangi asupan kafein hingga di bawah 200 miligram per hari, yang setara dua cangkir kopi instan. Padahal di masa awal penelitian, rata-rata pasien mengonsumsi hingga 670 miligram per hari.

Professor Laura Juliano dari American University mengatakan bahwa terapi singkat dengan pengarahan oleh terapis, yaitu dengan strategi perilaku kognitif dan pengurangan kafein secara bertahap, dapat membantu pasien menemukan jenis pengobatan yang tepat.

Dalam mengonsumsi kafein, para ahli menyarankan konsumsi kafein tidak lebih dari 400 miligram untuk orang dewasa.

“Kafein adalah bahan yang paling banyak digunakan sebagai obat psikoaktif di dunia,” kata peneliti, dalam Journal of Consulting and Clinical Psychology. “Secara umum, bila dikonsumsi di bawah ambang batas, maka akan menjadi obat yang aman bagi beberapa fungsi tubuh seperti tetap terjaga selama menyetir, atau mungkin memberikan efek perlindungan bagi penderita Parkinson.”

Namun, Juliano mengatakan bagi beberapa individu, kafein dapat menyebabkan beberapa gangguan dalam penggunaan di berbagai dosis sehingga disarankan pembatasan penggunaan kafein. Pada intinya konsumsi yang berlebihan memiliki efek yang tidak baik bagi tubuh.

Sumber: cnnindonesia.com

ISIGOOD.com Mengisi Diri Dengan Kebaikan