Mural yang Masuk Daftar ‘The 20 Most Stunning Works of Street Art of 2015’ Buah Karya Seniman Asal Bali

[ISIGOOD.COM] Mural yang satu ini sempat heboh dikalangan pecinta seni mural lainnya. Karya yang berjudul Owlself ini berada di Bali dan banyak membuat orang-orang berdecak kagum. Seperti dilansir dari Brightside.me karya mural ini masuk dalam ‘The 20 Most Stunning Works of Street Art of 2015’. Sebenarnya pembuat mural bergambar burung hantu ini?

Seni mural yang terpampang besar tersebut adalah karya seorang seniman yang cukup misterius. Sebab dirinya tidak pernah ingin menampakkan jati dirinya kecuali dengan psudonim Wild Drawing atau WD. Meski bukan nama asli, ternyata Wild Drawing adalah seniman mural asal Indonesia yang namanya telah mendunia dan bahkan disejajarkan dengan seniman jenius asal Inggris, Bansky.

Selain menyembunyikan nama aslinya, Wild Drawing juga tak pernah memperlihatkan wajah aslinya. Bahkan dalam laman resmi miliknya wdstreetart.com, tidak satupun memunculkan namanya maupun wajahnya. Di situs tersebut hanya menjelaskan bahwa WD adalah lulusan seni murni dan telah membuat karya mural sejak tahun 2000 di jalanan. Namun karya-karya pria kelahiran Bali yang kini menetap di Yunani ini terus menerus muncul diberbagai tempat di dunia dan banyak diunggah di laman sosial medianya seperti Facebook WD Street Art atau Instagram, wd_wildrawing.

Karya-karya muralnya selain dianggap tidak biasa, lukisan mural tersebut ditempatkan di tempat-tempat yang sedikit tidak umum. Seperti bak belakang mobil angkut, sudut bangunan ataupun bangunan tidak terpakai dengan tema-tema yang menyindir isu-isu sosial.

Penasaran melihat karya dari seniman asal Indonesia yang mendunia ini? Tengok hasil karya-karyanya di bawah ini.

https://www.instagram.com/p/9LdyczpnLH/

https://www.instagram.com/p/oIOaZfpnG5/

https://www.instagram.com/p/tNPsYgpnIO/

https://www.instagram.com/p/5txBW4JnOw/

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Maria Harfanti, Juara Tiga Miss World 2015 Ukir Sejarah

[ISIGOOD.COM] Ajang Miss World 2015 kali ini benar-benar mengejutkan. Maria Harfanti sebagai perwakilan Indonesia secara mengejutkan berhasil menyabet gelar juara III pada kontes ratu kecantikan sejagad yang digelar di Sanya, Tiongkok, Sabtu (19/12).

Dalam ajang itu, Harfanti berhasil meraih penghargaan untuk kategori Beauty with a Purpose. Seperti diberitakan The Telegraph, Sabtu (19/12), juri Miss World 2015 terpikat dengan pernyataan Miss Indonesia 2015 asal Yogyakarta itu yang menyebut kecantikan tak akan berarti tanpa berguna bagi orang banyak.

“Saya ingin hadir di masyarakat dan berbagi segala hal yang kita punya kepada semua orang,” kata Maria Harfanti.

Perempuan 23 tahun ini mengaku terinsipirasi gelar Beauty with a Purpose. Dengan anugerah yang dimiliki saat ini, Maria berniat melanjutkan misinya untuk berbagi dengan orang banyak.

Di Miss World 2015 Maria Harfanti Pamer Tari Tor-tor (usnews.com)

“Kita tidak hanya ada di sini, tapi untuk membuat perbedaan,” ucapnya.

Selain meraih posisi Runner Up II dalam Miss World 2015, Harfanti juga meraih prestasi lainnya yakni pemenang penghargaan Beauty With A Purpose, Top 7 Interview, Top 13 Talent, Top 15 Multimedia, Top 10 World’s Fashion Designer Award, dan Top 25 People’s Choice. Semua pencapaian itu, seperti yang dituliskan dalam akun instagram nya, dipersembahkan untuk Indonesia. 

This is for INDONESIA!“, tulisnya.

Pencapaian ini tentu merupakan sejarah baru bagi Indonesia dalam kontes kecantikan tingkat dunia. Pemilik akun @Mariaharfanti ini pun mendapat dukungan dan ucapan selamat dari para netizen. Sementara gelar Miss World 2015 diraih Miss Spanyol, Mireia Lalaguna Royo. Dia dipilih juri sebagai pemenang setelah menyingkirkan 117 pesaing lainnya.

Selamat untuk Indonesia! Semoga prestasi serupa dapat diraih oleh Anindya Kusuma Putri, wakil Indonesia di ajang Miss Universe yang puncak finalnya diselenggarakan pada 20 Desember 2015 di Las Vegas, Amerika Serikat. Keep up the good work, perempuan Indonesia! Bangga menjadi manusia Indonesia!

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Foto Underwater yang Menyenangkan di Umbul Ponggok

[ISIGOOD.COM] Tertarik untuk mencoba snorkeling? Seperti kita ketahui snorkeling merupakan wisata air yang menyenangkan dan memiliki efek relaksasi. Untuk melakukan aktivitas ini biasanya harus pergi ke laut dengan perairan yang tenang dan memiliki terumbu karang dan hewan laut yang indah.

Namun Anda yang tidak memiliki kesempatan untuk snorkeling di taman-taman laut yang indah, kini di Klaten terdapat lokasi snorkeling yang asyik. Anda tak perlu takut terbawa gelombang, sebab tempat snorkeling kali ini bukanlah laut melainkan sebuah sumber mata air alami yang segar dan sangat jernih bernama Umbul Ponggok. Kolam alami ini sudah ada sejak zaman Belanda, dengan ukuran 50 x 25 meter dan kedalaman rata-rata 1,5 – 2,6 meter tempat ini cocok digunakan untuk lokasi snorkeling.

Umbul Ponggok sendiri terletak di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Dari Yogyakarta bisa ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Untuk masuk ke Umbul Ponggok wisatawan wajib membayar biaya retribusi sebesar Rp 5.000 per orang.

Berbeda dengan kolam renang yang dasarnya berupa lantai keramik, dasar Umbul Ponggok masih sangat alami berupa hamparan pasir nan luas, bebatuan, dan ribuan ikan warna-warni sehingga suasananya benar-benar seperti di bawah laut. Meski dipenuhi ikan, air di Umbul Ponggok ini tidak amis sebab airnya mengalir terus.

Ikan aneka jenis di Umbul Ponggok (chk2489.net)

Selain sebagai tempat snorkeling, Umbul Ponggok juga kerap dijadikan lokasi latihan diving bagi penyelam pemula sebelum mereka benar-benar menyelam di laut. Bagi wisatawan yang tidak bisa berenang maupun tidak ingin snorkeling bisa naik perahu kayuh dan mengelilingi umbul. Sedangkan bagi anak-anak tersedia kolam berukuran pendek yang bisa dijadikan lokasi berenang maupun sebatas bermain air.

Salah satu hal yang harus dilakukan saat berada di Umbul Ponggok adalah melakukan sesi pemotretan di dalam air. Bagi wisatawan yang tidak memiliki kamera underwater tidak perlu khawatir. Di Umbul Ponggok terdapat jasa penyewaan kamera underwater dengan tarif Rp 60.000 untuk 30 menit dan Rp 100.000 untuk satu jam. Jika ingin pemotretan yang berkonsep, di tempat ini juga terdapat jasa pemotretan underwater dengan harga relatif murah.

Jika ingin melakukan pemotretan di Umbul Ponggok, wisatawan disarankan melakukan pemotretan di pagi atau sore hari, agar menghasilkan gambar yang lebih bagus karena air umbul lebih jernih dan sinar matahari masih dari samping bukan tepat di atas kepala. Selamat liburan J

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Ayo Berkunjung Ke Museum Gunung Api Merapi (MGM), Museum Gunung Api Pertama di Asia Tenggara

[ISIGOOD.COM] Siapa bilang jalan-jalan ke museum membosankan? Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah tempat bernaungnya sebuah gunung berapi paling aktif di Indonesia, Gunung Merapi, berinisiatif untuk membuat sebuah museum yang belum pernah ada di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Museum tersebut diberi nama Museum Gunung Api Merapi (MGM), yang diharapkan akan menjadi wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunungapi, gempabumi, dan bencana alam lainnya.

Saat ini lokasi MGM terletak di kawasan lereng Merapi, tepatnya di Jalan Boyong, Dusun Banteng, Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman, sekitar lima kilometer dari kawasan obyek wisata Kaliurang. Musuem ini dibangun dengan luas sekitar 4,470 m2 yang berdiri di atas tanah seluas 3,5 hektar. Museum ini direncanakan akan terus menambah banyak fasilitas pendukung sejak diresmikan pada tanggal 1 Oktober 2009 oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro. Museum ini bervisi untuk dikenal sebagai ‘Museum Gunungapi Merapi, Merapi Jendela Bumi’.

Museum gunung api Merapi (travelingwithrohman.net)

MGM saat ini telah dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, penyebarluasan informasi tentang geologi khususnya tentang Gunung Api dan penanggulangan bencana terkait dengan aktifitas geologi lainnya dengan cara-cara penyampaian yang lebih rekreatif dan edukatif.

Museum yang memiliki bangunan berbentuk limas dengan atap tumpang dan dinding dari bebatuan ini dibuka untuk masyarakat luas dengan tujuan untuk memberikan wawasan dan pemahaman tentang kajian ilmiah, sosial-budaya maupun ekonomi yang berkaitan dengan Gunung Api dan sumber bencana geologi lainnya. Oleh karena itu MGM diharapkan dapat menjadi solusi alternatif sebagai sarana yang sangat penting dan potensial sebagai pusat layanan informasi kegunungapian dalam upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat, serta sebagai media dalam meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat tentang manfaat dan ancaman bahaya letusan gunungapi serta bencana geologi lainnya.

Hanya dengan membayar tiket masuk yang cukup terjangkau, pengunjung dapat menikmati berbagai media edukasi yang disediakan seperti pemutaran dokumenter tentang merapi dan gunung api di mini teater ataupun alat-alat peraga terkait bencana geologi dan tentang cara kerja gunung api. Tentu saja, museum ini sangat cocok bagi semua kalangan. Kamu berminat untuk mengunjunginya?

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Gerakan Sekolah Menyenangkan Ajak WNI di Australia Menanggulangi Kekerasan di Sekolah

[ISIGOOD.COM] Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) adalah sebuah gerakan yang dilakukan oleh para mahasiswa Phd asal Indonesia di Melbourne untuk menyebarkan praktek mengajar di sekolah guna mengurangi tindak bullying. Baru-baru ini, diselenggarakan workshop bagaimana mencegah tindak kekerasan seperti bullying terjadi. Muhammad Nur Rizal salah seorang penggagas GSM menjelaskan mengapa workshop dilakukan.

 Oleh: Muhammad Nur Rizal

 

Dalam acara Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Workshop Series “How do schools prevent bullying or violence”  di KJRI  Melbourne yang dihadiri puluhan orang tua, mahasiswa, remaja, aktivis pendidikan hingga jurnalis dari Australia dan Indonesia, Sabtu (21/11/2015), di akhir sesi, saya berkesempatan menjelaskan alasan masyarakat perlu terlibat secara langsung dalam pendidikan.

Dengan membagikan pengalaman praktisnya bagaimana sekolah-sekolah di negara maju (Australia) mengajak orang tua dan komunitas menciptakan “positive learning atmosphere”.

Workshop ini dimulai dari sebuah diskusi dengan beberapa orang tua Indonesia di Melbourne yang ingin melakukan aktivitas nyata dan positif ketika berlibur di Indonesia.

Kegiatan nyata yang memberikan rasa “meaningful”, selain menengok orang tua atau sanak famili. Mereka bosan ketika waktunya sering dihabiskan untuk gathering, tamasya hingga belanja di gerai-gerai pertokan atau mall.

????????????????????????????????????

Salah satu “residence” itu bernama Diski Naim, bersama keluarganya yang telah lama tinggal di Melbourne sejak menyelesaikan studi S2 hingga mendapatkan pekerjaan tetap di perusahaan IT.

“Bagaimana jika orang tua di sini (Australia) diajak berbagi pengalaman sekolah anak-anak kita di Australia?” ajak saya.

“Nanti, praktek-praktek itu kita dokumentasikan dan sebarkan melalui media sosial atau aktivitas workshop GSM di Indonesia”, lanjut saya.

“Wah, ide bagus itu. Selain sederhana, tidak ada unsur uang yang rumit pengelolaannya, namun bermanfaat langsung bagi guru-guru di indonesia ” jawabnya semangat.

“Ok, kita buat workshop dan ajak teman-teman lain?” sahut saya.

Akhirnya, kami melanjutkan pembicaraan dan persiapan bersama teman-teman penggerak dan relawan GSM di warung makan di Student Center, Monash University.

Tidak ada pembicara utama di workshop itu karena setiap peserta memiliki pengalaman uniknya untuk dibagikan.

Mereka dibentuk ke dalam grup-grup diskusi dengan fasilitator yang berasal dari kalangan guru atau dosen di Indonesia yang sedang menempuh studi S2 di Monash University. Dengan menjadi fasilitator, diharapkan pengetahuan dan ketrampilannya bermanfaat saat kembali mengajar.

Sebagai fasilitator utama untuk mengarahkan alur diskusi dan pertanyaan-pertanyaan kritis peserta dipandu oleh Novi Candra, Dosen Psikologi UGM yang akan menamatkan PhD nya di Melbourne University, serta Josie Burt, guru di Clayton North Primary School, Victoria, sekolah partner GSM dengan materi membangun kultur dan aktivitas sekolah yang aman dan ramah anak.

” Saya dulu sekolah di Jakarta dan sering melakukan bulying, karena ingin menunjukkan superioritas saya di mata teman-teman saya”, papar Windu Kuntoro, salah seorang peserta.

Pendapat itu ternyata juga diamini oleh beberapa peserta yang mengidentifikasi seringnya kekerasan dilakukan untuk menutupi kelemahan (inferiority) di beberapa aspek termasuk akademik. Kita sadar bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih menghargai anak-anak yang pandai secara kognitif (akademik) dan abai terkait aspek pembiasaan karakter baik.

“Kurangnya sosialisasi akan definisi bulying dan cara pencegahannya bisa berdampak suburnya kekerasan di sekolah, apalagi jika guru tampak abai ketika kekerasan terjadi di kelas maupun halaman sekolah” jelas Hani Yulindrasari dan Kanti Pertiwi, keduanya adalah mahasiswa PhD di Universitas Melbourne.

“Sedangkan d sekolah Australia, guru memberikan prosedur jelas kepada siswa ketika “bullying” terjadi. Siswa diajarkan untuk berkata:  Stop it!   I don’t like it! Ignore, tell to teacher or parent if the bullying still occurs“, kata beberapa remaja yang sekolah di Australia.

Informasi serupa juga disampaikan oleh Novi Candra melalui hasil penelitiannya tentang bagaimana lemahnya penanganan kekerasan atau bullying di sekolah di Indonesia dibandingkan jika itu terjadi di australia.

Hampir semua peserta sepakat bahwa orang tua dan komunitas berperan penting untuk membentuk perilaku dan kebiasaan anak-anak di luar sekolah atau keluarga, sedangkan guru memiliki porsi besar untuk menciptakan kultur sekolah yang aman dan kondusif.

Mengamati jalannya diskusi, saya menemukan benang merah, “Mengapa anak-anak di Australia datang ke sekolah dengan senang hati, dan pulang ke sekolah (libur) dengan berat hati. Jawabannya adalah karena sekolah di Australia mampu menciptakan suasana aman da kondusif. Pembelajarannyapun ‘fun’ dan otentik  bersama guru yang peduli dan empati kepada setiap perkembangan anak.

Yang tidak kalah menariknya adalah pendapat beberapa jurnalis senior di Australia. Mereka sepakat bahwa faktor orang tua dan komunitas akan menciptakan keseluruhan ekosistem bagi proses pendidikan anak.

“Kegiatan workshop seperti ini dapat menjaring berbagai masukan praktek baik pendidikan dari orang tua di Australia, dan kami bersedia untuk menyebarluaskan pengalaman peserta agar dapat dijangkau oleh pemerintah hingga seluruh stake holder pendidikan di Indonesia dengan cepat dan mudah”, tutur mereka berdua.

Saya berpendapat dengan kondisi politik dan sitem demokrasi di indonesia saat ini, media memiliki peran signifikan untuk melakukan perubahan dengan mendukung inisiatif baik yang tumbuh dari bawah. Karena masyarakat kita perlu dan haus akan inisiatif positif. Sebaliknya, konsumsi berita negatif yang terus menerus di publik, dikhawatirkan memberikan dampak bias bagi pembaca tertentu dan memandang bahwa “kekerasan dapat menjadi jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan permasalahan”, menurut Potter (2001).

????????????????????????????????????

Melalui kegiatan GSM Community Workshop ini, kita bisa mengajak orang tua dan masyarakat di luar negeri untuk hadir kembali ke “sekolah di Indonesia” untuk melakukan transformasi sekolah secara bersama-sama.

Berbagai pengetahuan dan pengalaman praktis itu diharapkan menjadi guru  membantu sekolah berbenah diri, mengubah dirinya tidak saja sebagai tempat belajar, namun ‘menjadi rumah kedua’ yang menyenangkan, aman, menghargai keberagaman serta menumbuhkan empati dan kepeduliaan anak-anak kepada lingkungannya.

 

*Muhammad Nur Rizal, PhD dari Monash university, Dosen UGM dan salah seorang penggagas Gerakan Sekolah Menyenangkan gerakan untuk bergotong royong melakukan transformasi sekolah di Indonesia.

– See more at: http://www.australiaplus.com/indonesian/2015-11-30/gsm-ajak-wni-di-australia-menanggulangi-kekerasan-di-sekolah/1520198#sthash.mrxtEZlT.cWbxDdNt.dpuf

 

ISIGOOD.com Mengisi Diri Dengan Kebaikan