[ISIGOOD.COM] Bingung malam tahun baru mau kemana? Komunitas Cemara berkolaborasi dengan RT 18 menyiapkan alternatif menghabiskan tahun dengan cara yang tak biasa. Indahnya lampion dan pameran foto yang dikemas secara kekinian akan berpadu dengan suasana kampung Jogja yang masih tradisional di pinggiran Kalicode. Seluruh keindahan ini terangkum dalam sebuah pagelaran bertajuk “Festival Kampung Lampion Kalicode”.

Festival ini berangkat dari permasalahan sosial yang melanda Jogja belakangan. Seperti yang kita tahu, Jogja kini menjadi lautan beton. Puluhan hotel baru dibangun, mall-mall besar menghiasi tiap sudut kota Yogyakarta. Di tengah modernisasi kota, kampung pinggir sungai selalu jadi wilayah tak terjamah. Peraturan terbaru dari Pemerintah Kota menyebutkan dalam rangka revitalisasi sungai, pembangunan fisik di wilayah bantaran sungai harus dihentikan.

Sementara Jogja membangun dirinya, warga Kalicode yang puluhan tahun menetap di kota ini harus tertinggal dalam kesederhanaan. Demi melihat masalah ini, warga Kalicode tak hanya tinggal diam. Tiap tahun selalu ada ide kreatif yang diciptakan untuk menunjukkan eksistensi warga asli kota yang tersisa di kampung pinggir sungai. Tak hanya soal eksistensi, warga pun ingin membangun kampungnya sendiri secara mandiri. Mereka ingin kampungnya layak huni bahkan layak untuk visitasi. Mereka tak ingin menjadi tuan yang tersingkir dari rumahnya sendiri.

1.2

diskusi membuka rangkaian Festival Kampung Lampion Kalicode

Akhirnya, bosan dengan stereotipe kampung kumuh dan gelap, tahun ini warga menyulap kampung menjadi lebih bersih, hijau dan bercahaya di malam hari. Mereka gubah barang-barang bekas yang ada di sekitar rumah seperti sendok plastik, bekas kaleng cat dan botol minuman menjadi lampion cantik yang menghias teras tiap rumah. Tak hanya itu, tembok tiap rumah akan dipercantik dengan cat pola batik. Dinding dan talut akan diisi mural karya remaja dan anak-anak setempat. Kamar mandi umum dan rumah anyaman bambu milik warga akan bertransformasi menjadi salah satu instalasi yang dipamerkan. Semua ini bisa dinikmati oleh umum mulai tanggal 28-31 Desember 2015.

1.3Sambil menikmati malam di kampung Kalicode, pengunjung dapat menyusuri sejarah RT 18 Kalicode sejak tahun 1990an hingga kini lewat pameran foto “Code Dulu, Kini dan Nanti”.Pengunjung juga dapat berpose di sepanjang gang yang akan penuh berhias lampion dan lampu-lampu kecil.

Pameran dibuka pada 28 Desember 2015 berbarengan dengan diskusi bertajuk “Peran Komunitas Kampung dalam Pembangunan Kota”. Diskusi ini akan mengulik kebijakan pemerintah kota terkait pembangunan serta inisiatif warga yang muncul dalam membangun kampungnya sendiri. Diskusi akan dihadiri oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Komisi C DPRD Kota dan aktivis Architect Community.

1.1

yuk, Minggu pagi reresik Kalicode!

Sebagai puncak acara, tanggal 31 Desember, pameran akan ditutup dengan pentas musik, tari dan yang makin jarang ditemui di Yogyakarta: Pentas Ketoprak! Turut pula mengundang Teater Selasar FISIPOL UGM dan band Kolapopi untuk memeriahkan malam tahun baru yang spesial. Yang tak kalah menarik, sambil menikmati pagelaran keseniannya, akan ada sajian makanan tradisional yang dimasak sendiri oleh warga. Jangan khawatir, beberapa di antaranya boleh banget dimakan secara cuma-cuma alias gratiiis!

Jadi untuk kamu yang masih cinta Yogyakarta dengan segala keramahtamahannya, mari datang dan bernostalgia dengan cara yang sangat kekinian!

Seluruh rangkaian acara ini dibuka untuk umum dan free entry!

denah

save di ponselmu guys! biar nggak nyasar

Further information:

CP: 08567054932 (Asih)

Pegiat timeline. Bisa ditemui dalam akun @ervinalutfi di Twitter dan Instagram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *