[ISIGOOD.COM] Berkarier menjadi peneliti tampaknya masih didominasi oleh para pria. Berdasarkan survei opini yang dilakukan oleh brand kecantikan L’Oreal, 67% masyarakat Eropa berpendapat bahwa perempuan tidak bisa menjadi peneliti yang ulung. Anggapan tersebut seolah ditepis oleh perempuan cantik asal Indonesia, Sastia Prama Putri, Ph.D.

Sastia merupakan salah satu peneliti perempuan berprestasi di bidangnya. Perempuan 33 tahun itu sering menjadi pembicara di berbagai seminar serta bekerja sebagai guru pendidik di Institut Teknologi Bandung (ITB). Tidak hanya itu, ia juga pernah memiliki kesempatan bergabung dengan UNESCO Training Course in Biotechnology di Jepang.

Setelah bergabung dengan UNESCO, Sastia pun memutuskan untuk mengambil gelar doktornya di Osaka University, Jepang. Keputusannya tersebut didasari atas rasa cintanya terhadap sains. Sastia mengatakan sudah memiliki minat terhadap sains sejak duduk di bangku sekolah. Ia mengaku telah diarahkan orangtuanya untuk memilih karier di bidang sains.

Berkat kopi Luwak, perempuan ini raih penghargaan UNESCO (viva.co.id)

Kemudian saat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, perempuan berambut pendek ini memilih Fakultas Biologi ITB, Bandung, untuk belajar lebih banyak tentang sains. Rupanya ia memilih jurusan yang tepat. Sastia mengatakan belajar banyak hal selama kuliah yang akhirnya memutuskan untuk berkarier sebagai peneliti.

“Ketika saya belaja Biologi, saya banyak menemukan hal-hal menarik yang ada di sekitar kita. Saya pikir banyak sekali masalah-masalah yang bisa dipecahkan dengan berbasis sains dan teknologi. Maka dari itu, saya ingin memberikan sumbangsih saya lewat sains untuk memecahkan masalah yang lebih global,” papar Sastia saat ditemui Wolipop di Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (4/12/2015).

Sastia mengatakan menjadi peneliti bukan berarti dekat dengan stres tapi justru sangat menyenangkan. Menurutnya, ketika ia bisa memecahkan berbagai macam pertanyaan banyak orang yang terkait kehidupan di situlah letak kepuasannya. Dan saat ia bisa menemukan sesuatu yang baru untuk membantu masyarakat memecahkan masalah, Sastia pun merasa ada kesenangan tersendiri. Oleh sebab itu, ia tidak pernah merasa peneliti merupakan pekerjaan yang membosankan atau memusingkan.

“Kalau di lab bisa menemukan sesuatu yang baru dan menjawab rasa penasaran saya itu suatu hal yang menyenangkan karena itu juga bisa berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Saya juga bisa banyak belajar untuk menemukan rahasia kehidupan itu sesuatu yang menarik. Setiap hari tidak ada sesuatu hal yang sama yang kita kerjakan, selalu bekerja untuk hal-hal baru dan itu beauty of science,” tambah perempuan yang sudah berdomisili di Jepang sejak 2006 itu.

Meski disibukkan oleh beragam penelitian yang sedang dikerjakaannya saat ini, Sastia tetap bisa menyeimbangkan waktu untuk keluarga. Ia tetap memiliki keluarga harmonis dan mampu menepis anggapan miring tentang peneliti perempuan yang tidak memiliki kehidupan percintaan bahagia.

Oleh karena itulah, Sastia berhasil mendapatkan penghargaan dari L’Oreal sebagai salah satu peneliti perempuan yang inspiratif dalam program L’Oreal-UNESCO For Women in Science (FWIS) 2015. Tidak hanya berkat proposal penelitiannya mengenai pengujian keaslian kopi luwak yang sudah mendapat pujian di Jepang tapi juga karena ia tetap bisa menjadi ibu rumah tangga tanpa terhalang pekerjaannya.

Sastia tetap menjadi perempuan modern yang memperhatikan gaya berpakaiannya serta mempunyai keluarga harmonis. Dengan demikian, Sastia menginspirasi perempuan di luar sana agar tidak perlu takut akan mitos-mitos seputar peneliti perempuan yang kabarnya bisa sulit menikah hingga tak memiliki kehidupan percintaan bahagia.

Perempuan lulusan ITB, Bandung itu menikah dengan pria asal Filipina dan mempunyai anak pertamanya di 2010. Sastia bercerita bahwa saat melahirkan putri pertamanya ia sedang bekerja sebagai peneliti bersama suaminya di Osaka University, Jepang. Tidak seperti yang dipikirkan oleh banyak orang, Sastia mengatakan pekerjaannya sebagai peneliti tak menyulitkannya untuk menjadi seorang ibu. Justru ia diberikan keringanan yang tak pernah disangka sebelumnya.

Gagus Ketut Sunnardianto, President Toshio Hirano, and Sastia Prama Putri (osaka-u-ac.jp)

“Kebetulan profesor saya aktif mendukung perempuan dalam sains. Dia juga bergabung dalam komite-komite yang bisa meningkatkan jumlah perempuan peneliti di Osaka. Itu suatu hal yang unik tapi memang bukan dia saja, banyak yang seperti itu di Jepang. Setelah saya melahirkan anak saya di 2010, saya hanya bekerja part time. Saya titipkan anak saya di day care tapi saya bekerja empat kali dalam seminggu hanya dari jam 10 sampai 4 sore. Kesempatan itu tak banyak saya temukan,” cerita Sastia.

Setelah anaknya berusia satu tahun baru Sastia kembali bekerja dengan jam normal seperti profesi lainnya. Berbicara soal jam kerja seorang peneliti, Sastia mengatakan tergantung bidangnya. Karena ia merupakan seorang peneliti di bidang life science yang berhubungan dengan makhluk hidup jadi terkadang harus menyesuaikan dengan pola hidup bahan penelitiannya tersebut. Di luar itu, ia bekerja kurang lebih sembilan jam.

Sastia juga mengatakan pekerjaan sebagai seorang peneliti sama seperti profesi lainnya. Bahkan ia merasakan banyak manfaat yang didapat setelah menjadi peneliti baik itu memecahkan masalah global hingga jalan-jalan ke luar negeri.

“Mungkin ada paradigma kalau jadi peneliti itu harus bekerja di lab terus, tidak ketemu dengan dunia luar, serius, padahal sebenarnya itu tidak seperti itu. Buat saya dunia penelitian sangat dinamik dan penuh kejutan. Banyak manfaat yang saya dapatkan mulai dari jalan-jalan ke luar neegeri, banyak ketemu orang baru, banyak menemukan rahasia kehidupan. Saya mendukung kampanye untuk mempromosikan bahwa sains itu fun,” tambahnya.

Di akhir perbincangan, Sastia berpesan kepada para perempuan yang tertarik di bidang sains untuk jangan takut menjadi peneliti. Kuncinya hanya bisa mengatur waktu antara bekerja dan berumah tangga. Seharusnya hal itu tidak hanya dilakukan oleh peneliti tapi semua perempuan pekerja.

Seperti dirinya yang berusaha menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. Ia sering membawa putri kecilnya ketika sedang menjadi pembicara di berbagai seminar. Tidak hanya buah hati tercinta tapi juga sang ibunda. Terkadang ia juga membawa anaknya saat pulang ke Indonesia setiap bulan sekali untuk mengajar di ITB.

Pada akhir pekan, Sastia pun berusaha meluangkan semua waktunya untuk suami dan anak. “Semua ada skala prioritas, bagaimana caranya kita menggunakan 24 jam itu sebaik-baiknyanya dengan melakukan segala sesuatu agar efisien. Saya selalu menghabiskan waktu di rumah Sabtu dan Minggu. Saya nggak ada pembantu jadi saya mengurus semua sendiri. Bagaimana caranya anak saya mendapatkan kualitas waktu bersama saya dan suami,” tandasnya kemudian. Ternyata perempuan jika menjalani pekerjaannya dengan tekun tidak akan kalah bersaing dalam bidang apapun.

Sumber: detik.com

Pernah bikin Puisi. Sangat tertarik pada lawan jenis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *