[ISIGOOD.COM] 27 tahun lalu Martin Pistorius adalah anak laki-laki sehat berumur 12 tahun. Ia dibesarkan di Afrika Selatan dan punya kehidupan normal. Hingga suatu hari, hidupnya berubah 180 derajat. Hari itu Martin pulang dari sekolah dengan keluhan radang tenggorokan. Semenjak itu, secara berkala tubuh Martin melemah. Ia kehilangan kemampuan berjalan, tak sanggup makan sendiri, hingga akhirnya ia sama sekali tak dapat berkomunikasi.

Dokter menduga Martin mengalami penyakit degenerasi saraf yang menyebabkan ia memiliki kemampuan intelegensi setara dengan bayi berumur 3 bulan. Namun secara medis, kasus Martin tak dapat dijelaskan dengan pasti. Dokter menyarankan orang tua Martin membawa anak mereka pulang, dan menunggu ajal menjemput Martin.

Luar biasanya, Martin tetap hidup dengan kondisinya itu. Ia menghabiskan waktu hampir 10 tahun di pusat perawatan. Orang tua Martin pun diberitahu bahwa anak mereka tidak lagi peka terhadap lingkungan sekitar. Namun, setelah empat tahun hidup dengan penyakitnya, Martin mulai “terbangun” dari ketidakpekaannya, tanpa seorangpun yang menyadari hal tersebut hingga bertahun-tahun sesudahnya.

Martin di atas kursi roda dan sangat bergantung pada orang di sekitarnya (washingtonpost.com)

Hari demi hari, tahun demi tahun berlalu. Martin terjebak dalam tubuhnya yang sama sekali tak dapat ia gerakan, meninggalkannya tak berdaya kecuali dengan pikirannya sendiri. “Selama bertahun-tahun, aku seperti hantu. Aku dapat mendengar dan melihat segalanya seperti biasa, tapi rasanya aku tak benar-benar hadir di sana. Aku seperti tak terlihat,” ujar Martin kepada reporter NBC lewat alat yang membantunya bicara melalui kata-kata yang ia ketik di komputer.

Hal yang membuat Martin jatuh di titik terendah adalah kesadaran bahwa ia tak berdaya. Hidupnya bergantung 100% pada orang lain. Bisa kamu bayangkan bagaimana menderitanya menjadi Martin. Pikirannya bekerja dengan baik, tetapi tidak dengan tubuhnya. “Setiap aspek dalam hidupmu dikontrol orang lain. Merekalah yang memutuskan apa yang kamu makan, apakah kamu duduk atau berbaring, ke mana kamu berada, segalanya…”

“Secara harafiah, aku hidup hanya dalam imajinasiku sendiri. Sampai di satu titik rasanya aku benar-benar lepas dari dunia nyata,” ujar Martin.

Reporter NBC News tengah mewawancarai Martin (nbcnews.com)

Kondisi Martin berdampak besar bagi keluarganya. Suatu malam, ayah dan ibunya bertengkar. Ibu Martin lantas dengan emosi beranjak menghampiri Martin dan berkata, “aku harap kamu mati saja.” Ibunya tak tahu kalau Martin ada di sana, dan sepenuhnya mendengar dan paham.

Kejadian itu benar-benar mematahkan hati Martin. Namun, di saat yang sama ia mulai belajar mengontrol emosinya sendiri. “Setelah itu, aku justru hanya merasakan cinta dan sayang buat ibuku,” ujar Martin.

Pada 2011, harapan buat Martin mulai tumbuh. Seorang terapis di tempat Martin dirawat, Vina Van Der Walt, menyadari bahwa Martin tak 100% tak peka terhadap lingkungan. Saat itu, ia pikir Martin lebih peka ketimbang apa yang orang lain pikir.

“Ada kilau di matanya, aku tahu dia paham apa yang kukatakan,” ujar Van Der Walt.

Terapis inilah yang menganjurkan keluarga Martin melakukan tes kognitif terhadap anaknya, dan untuk pertama kalinya, Martin dapat menunjukan pada orang lain bahwa ia di sana, ia mengerti.

Sejalan dengan otaknya yang menguat, tubuhnya pun juga mengalami perkembangan positif. Martin kemudian diberi alat yang memungkinkannya berkomunikasi, yang menurut Martin, mengubah segalanya.

“Aku tak dapat lupa rasanya bagaimana ibuku bertanya makanan apa yang aku mau buat makan malam, dan aku menjawab, ‘Spaghetti Bolognese’ dan ibuku benar-benar membuatkannya,” kenang Martin. Hal itu tampaknya sederhana bagi orang lain, tapi bagi Martin, pengalaman itu luar biasa rasanya.

Martin kemudian belajar dari awal. Ia kembali belajar membaca, bersosialisasi, hingga belajar memutuskan sesuatu sendiri. Ia bahkan dapat kuliah, belajar mengemudi, dan merasakan rasanya jatuh cinta.

Martin dan Joanna memutuskan untuk menikah dan membangun mimpi bersama (inewsgr.com)

Pada 2009, Martin menikahi Joanna yang dikenalkan oleh saudara perempuannya. Mereka berharap dapat mewujudkan keluarga mereka sendiri. Saat ini, Martin tengah bekerja sebagai web designer dan tak berhenti mensyukuri segala hal kecil yang terjadi dalam hidupnya, seperti mengobrol dengan orang lain dan merasakan pengalaman baru untuk pertama kali.

Kisah Martin ini telah dipublikasikan dalam autobiografi di majalah The New York Times yang menjadi salah satu edisi best seller.

Martin menitipkan pesan kepada kita agar tak mengabaikan kemungkinan paling kecil sekalipun.

“Jangan pernah meremehkan kemampuan pikiranmu, pentingnya cinta dan kepercayaan, dan jangan berhenti bermimpi.”
“Perlakukan orang lain dengan kebaikan, martabat, kasih sayang, dan rasa hormat, terlepas dari apakah mereka mengerti dirimu atau tidak.”

Disadur dari nbcnews.com

Mahasiswi selo Sastra Inggris UGM. Sedang belajar bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *