[ISIGOOD.COM] Salah satu sastrawan legendaris di Indonesia adalah Pramoedya Ananta Toer atau kerap disebut Pram. Novel-novel karyanya pernah dicekal pada masa Orde Baru. Namun siapa sangka, kini karyanya menjadi bagian dari materi kuliah “Comparative Literature” di Universitas Queen Mary London. “Materi itu diajarkan oleh Prof Angus Nicholls, seorang dosen senior di bidang Sastra Jerman di Universitas Queen Mary London,” kata Kusuma Wijaya, dosen Fakultas Sastra Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya.

Nicholls menyampaikan ketertarikannya pada karya sastra Pram saat mengunjungi Unitomo Surabaya. Ketika itu, ia berbicara dalam seminar sastra yang diselenggarakan Fakultas Sastra Unitomo (30/6). Ia menyebut novel Pram berjudul Bumi Manusia sebagai salah satu materi kuliahnya. Dalam kesempatan itu, Prof Angus Nicholls menyatakan dirinya menjadikan novel “Bumi Manusia” sebagai salah satu materi kuliah sastra bandingan di jurusannya, karena novel karya Pramoedya itu memiliki persamaan bentuk pengembangan alur cerita dengan novel-novel karya penulis Eropa.

Penulis Eropa yang dimaksud antara lain Goethe dengan “Wilhelm Meisters Apprenticeship”, Charles Dickens dengan “Great Expectation”, atau Charlotte Bronte dengan “Jane Eyre”. Masih menurut profesor pecinta karya-karya Pram ini, novel Pramoedya dan novel-novel karya penulis Eropa itu sama-sama berbentuk Bildungsroman, sebuah bentuk literatur abad 19 yang berfokus kepada perkembangan moral dan psikologi tokoh utama.

Karya-karya Pramoedya Ananta Toer (sunshineinmyautumn.wordpress.com)

Maka, tidak heran jika para mahasiswa di Queen Mary University menggandrungi Bumi Manusia-nya Pram. “Sebab, karya tersebut sarat dengan Realisme Sosial dan kritik pada ide-ide kolonial yang disuarakan Nyai Ontosoroh, salah satu tokoh utama dalam novel,” ujar Kusuma, mengutip perkataan Prof Angus. Sedangkan Minke, tokoh lain dalam novel tersebut, merepresentasikan ide-ide Eropa.

Cerita dalam novel “Bumi Manusia” dinilai sangat menarik. Para tokohnya adalah orang pribumi dan orang Eropa bernama Minke, Annelis, dan Putri Nyai Ontosoroh. Bumi Manusia adalah buku pertama dari “Tetralogi Buru” karya dari sastrawan kelahiran Blora, Jawa Tengah (1925-2006) itu yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1980 dan dilarang Kejakgung pada 1981.

Prof Angus berpendapat bahwa karya sastra Pram membawa paham Realisme Sosial, Postkolonialisme, dan Feminisme di Eropa, namun yang pasti karya fenomenal ini terus menjadi kajian di London. “Dosen sastra Unitomo, Bagus Hariyono, menyebut pandangan Prof Angus itu terkait dengan dua mazhab penting dalam sastra bandingan, yaitu mazhab Prancis dan mazhab Amerika,” kata Kusuma. Dalam mazhab Prancis, sastra bandingan adalah mencari pengaruh sebuah karya terhadap karya yang lain, sedangkan dalam mazhab Amerika membandingkan dua karya yang dikaitkan dengan ilmu sosiologi, agama, filsafat, dan lain-lain.

 

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Mahasiswa Sastra Perancis UGM. Menyukai seni, psikologi, dan filsafat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *