[ISIGOOD.COM] Indonesia pernah mengalami “zaman perunggu” saat hanya berhasil meraih medali perunggu dalam ajang Asian Games. Namun semuanya berubah pada 1962. Salah satunya berkat medali emas yang disumbangkan Mohammad Sarengat. Pemuda ini adalah manusia tercepat di Asia. Selain berprestasi di bidangnya, ia juga menjadi dokter dan menolong nyawa orang-orang. 

Dalam buku Asian Games I-X (KONI Pusat, 1987), Sorip Harahap menggunakan sebutan “zaman perunggu” untuk merujuk pada tiga Asian Games yang diikuti Indonesia sebelum 1962. Zaman itu berubah saat Asian Games IV pada 1962 di Jakarta. Peringkat Indonesia melonjak dari 14 pada Asian Games III di Tokyo menjadi runner up dengan 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu. Pencapaian ini melampaui target yang dipatok, yaitu mencapai peringkat lima besar dalam kompetisi tersebut.

Pelari sprint Mohammad Sarengat menyumbangkan dua medali emas dalam cabang lari 100 meter dan lari gawang 110 meter, serta medali perunggu di nomor 200 meter. Selain menjadi pelari tercepat di Asia, ia memecahkan rekor Asia untuk lari gawang 110 meter dengan waktu 14,4 detik dan lari 100 meter dengan 10,5 detik. Pencapaian tersebut mematahkan rekor sprinter Pakistan, Abdul Khalik, dengan 10,6 detik pada Asian Games II di Manila, Filipina.

“Bertahun-tahun nama Sarengat melegendaris di dunia atletik, dan selalu dikenang oleh bangsa Indonesia,” tulis buku Olahraga Indonesia dalam Perspektif Sejarah 1945-1965.

Foto-foto Sarengat semasa muda (goodnewsfromindonesia.org)

Sarengat lahir di Banyumas, 28 Oktober 1940. Ia menyelesaikan sekolah dasar dan menengah pertama di Pekalongan, lalu melanjutkan sekolah menengah atas di Jakarta. Sejak SD hingga SMA, ia menjadi kiper kesebelasan sepak bola di sekolahnya. Akibat jenuh menghuni bangku cadangan di klub Indonesia Muda Surabaya, ia iseng terjun ke atletik. Ternyata cabang ini merupakan bakatnya. Kegigihannya berlatih, apalagi ketika ikut pelatnas untuk Olimpiade 1960, membuatnya tidak lulus SMA pada 1959. Ia baru lulus SMA pada 1961.

Menurut Ensiklopedi Jakarta, Sarengat bingung melanjutkan pendidikannya karena masalah biaya. Letnan Jenderal GPH Djatikusumo, mantan kepala staf Angkatan Darat (AD) pertama, menyarankan Sarengat masuk dinas AD. Sarengat pun mendapatkan beasiswa masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pada tahun pertama ia tidak naik tingkat karena ikut Asian Games IV. Ia baru menyelesaikan pendidikan dokter pada 1971.

Sarengat mundur dari gelanggang atletik sejak Ganefo (Games of the New Emerging Forces) pada 1963 di Jakarta. Ia kemudian menjadi dokter tentara AD dengan pangkat terakhir kolonel CKM (Corps Kesehatan Militer). Ketua tim dokter kepresidenan, Brigjen dr. Rubyono Kertapati, mengusulkan tiga dokter, salah satunya Sarengat, sebagai dokter pribadi Wakil Presiden Sultan Hamengkubuwono IX (1973-1978) dan kemudian Wakil Presiden Adam Malik (1978-1983).

Setelah itu, Sarengat kembali berkiprah dalam dunia keolahragaan. Ia diangkat menjadi ketua bidang pembinaan prestasi PB PASI (Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) dan sekretaris jenderal KONI Pusat (1986-1990). Ia juga pernah menduduki kursi anggota MPR RI pada 1987.

Kumpulan foto Mohammad Sarengat (soulofjakarta.com)

Pria ini mendirikan Sports Campus Wijaya Kusuma (SCWK), klinik rehabilitasi pengguna narkoba. Klinik tersebut dibangun setelah anak lelakinya terjerat narkoba dan berhasil disembuhkan. “Sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah menyelamatkan anak saya, saya akan mendedikasikan hidup untuk membantu dan mencegah orang lain menjadi korban penyalahgunaan narkoba,” kata Sarengat, dikutip dari The Jakarta Post, 19 Oktober 2001.

SCWK menekankan pentingnya olahraga sebagai bagian penting dari proses rehabilitasi. Penghuni klinik dapat memilih olahraga basket, sepakbola, bolavoli, tenis, dan beladiri. “Kami sangat percaya pada filsafat mensana in copore sano (jiwa yang sehat berada dalam badan yang sehat),” jelas Sarengat.

Pada 2009, Sarengat terserang stroke dan komplikasi penyakit. Kemudian, manusia tercepat di Asia ini wafat pada 13 Oktober 2014. Meski begitu pencapaiannya semasa hidup sungguh luar biasa. Ia telah mengharumkan nama Indonesia dengan berbagai medali penghargaan. Selain itu, ia menyelamatkan nyawa banyak orang dengan menjadi dokter dan membangun klinik rehabilitasi. Namanya akan tetap dikenang meski sudah meninggal.

Sumber: goodnewsfromindonesia.org

Mahasiswa Sastra Perancis UGM. Menyukai seni, psikologi, dan filsafat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *