[ISIGOOD.COM] Dunia bisnis itu penuh tantangan. Dan sudah menjadi konsekuensi logis bahwa kegagalan bisa terjadi pada bisnis yang kita jalani. Bagi kamu yang memilih jalan hidup berwirausaha, alias tidak menjadi pegawai kantoran, maka jangan takut gagal. Karena ‘perasaan tidak takut gagal’ adalah syarat mutlak bagi pebisnis. Sehingga, bila menghadapi kesulitan yang berpotensi menghadirkan kegagalan besar, perasaan dan mental kamu sudah siap. Artinya, siap untuk menolak kegagalan, dan mencari cara menghindarinya. Namun demikian, lebih baik kamu kenali terlebih dahulu, apa penyebab kegagalan dalam berbisnis.

Orang bilang, pengalaman adalah guru terbaik, dan kegagalan adalah sukses tertunda. So, kita wajib belajar dari pengalaman dan kisah nyata kegagalan-kegagalan dibawah ini. Pokoknya yakin saja bahwa kamulah yang akan mewujudkan sukses yang tertunda dari kisah-kisah tersebut.

Membuat, membesarkan, memelihara bisnis perlu memperhatikan aspek-aspek berikut (99robots.com)

Membuat, membesarkan, memelihara bisnis perlu memperhatikan aspek-aspek berikut (99robots.com)

Ulasan ini dirangkum dari berbagai kisah nyata kegagalan berbagai bisnis baik yang belum sempat besar, sampai dengan bisnis yang sudah sempat menjadi raja di dunia bisnis, yang akhirnya gulung tikar.

1. Latah dan Ikut-ikutan

Latah ide bisnisnyahanya ikut-ikutan orang lain dan tidak mengantisipasi tingkat kejenuhan pasar.

“Paling gampang itu kalau kita ikut-ikutan bisnis orang lain yang sudah terlihat sukses.” Dari dulu hingga sekarang, masih banyak orang yang melakukannya. Hal ini sering terjadi terutama pada bisnis dengan modal yang tidak terlalu besar. Misalnya, tetangganya sukses buka jasa laundry pakaian, semua lalu ikut-ikutan. Karena modalnya kecil, gampang melakukannya. Tanpa disadari semua jasa laundry yang bermunculan berebut segmen konsumen yang sama. Akhirnya terjadi kejenuhan pasar.

Pada tahun 2000an, pernah marak sekali bisnis warnet. Semua orang membuka warnet, bahkan garasi mobil pun disulap jadi warnet. Akhirnya kondisi pasar jadi jenuh, lalu terjadilah perang harga. Tiada lagi inovasi kreatif lain yang bisa dilakukan untuk keluar dari sengitnya persaingan, satu-satunya cara adalah dengan cara menurunkan harga jual atau main korting. Semua serentak banting harga, lalu terjadilah perang harga. Padahal margin keuntungan sudah terlalu kecil dan mepet untuk dimainkan. Akhirnya omzet yang diraih per bulan tidak mampu memenuhi Break Even Point (BEP). Dengan kata lain, besar pasak dari pada tiang. Untuk membayar gaji karyawan dan biaya bulanan saja tidak sanggup. Alhasil, satu persatu mulailah berguguran. Hanya pemain-pemain besar yang mampu bertahan, dan tak semuanya akhirnya bisa bertahan hingga kini.

2. Cuek Aspek Legal

Kurang serius dengan aspek legal.

Yang dipikirkan hanya mengurusi aspek produksi dan bagaimana menjualnya. Mengenai bagaimana bentuk badan usahanya, sertifikasi dan perizinan apa saja yang dibutuhkan, biasanya dipikirkan belakangan. Padahal kalau aspek legal betul-betul direncanakan dengan baik, akan menghasilkan peluang bisnis yang jauh lebih besar.

Contohnya, banyak penjual tanaman hias dan bunga di pinggir jalan hanya mengandalkan pembeli yang kebetulan lewat. Tidak terpikirkan sama sekali bagaimana agar bisa memasok tanaman ke instansi pemerintah yang biasanya bernilai besar. Ketika ditawari peluang memasok ke instansi pemerintah, mereka tidak siap dengan surat-surat perusahaannya. Padahal mendirikan CV (tidak harus PT) tidaklah sulit dan berbiaya relatif ringan.

3. “Know-How” Dianggap Remeh

Owner (pemilik) kurang menguasai Know-How (Proses Produksi).

Tingkat ketergantungan terhadap pegawai sangat tinggi. Inilah pentingnya pemilik harus mengalami terjun langsung di lapangan. Merasakan peluh keringat pegawainya. Merasakan di-komplain konsumen dan punya pengalaman bagaimana menyelesaikannya. Tahu titik-titik mana saja yang masih menjadi kelemahannya. Dan sebagainya. Akibatnya, seringkali owner sangat tergantung kepada pegawainya, lalu ditipu oleh pegawainya, atau kelimpungan ketika ditinggal keluar pegawainya kerja di tempat lain.

4. Tergesa-gesa Masuk Ke Kompetisi Pasar

Tidak tuntas fase Testing, sebelum bisnis betul-betul Running.

Pastikan dulu bahwa produknya mampu memuaskan konsumen, sebelum betul-betul dibuka untuk umum. Misalnya, sebuah bengkel mobil, harus dipastikan dulu montirnya betul-betul bisa memperbaiki segala kerusakan mobil. Jangan terlalu fokus pada membesarkan bangunan bengkelnya agar terlihat mewah. Lebih baik pastikan dulu bahwa kepala montirnya bisa menjadi seorang dokter otomotif yang hebat, bisa menemukan dengan akurat apa yang menjadi penyebab kerusakan mobil. Jangan sampai, mobil masuk dengan kerusakan A, yang diperbaiki B, padahal B tidak rusak. Atau mobil masuk dengan kerusakan A, keluarnya dengan kerusakan B. Atau bahkan keluar dengan kerusakan A+B.

Hati-hati, sekali seorang konsumen kecewa dia akan bercerita kepada banyak orang. Tapi kalau dia puas, dia terkadang diam, atau hanya bercerita kepada segelintir orang. Konsumen ketika kecewa dan marah bahkan bisa menulis komplain di koran.

5. Bisnis is ‘Bisnis’, Teman is ‘Teman’, Saudara is ‘Saudara’

Terlalu percaya sama orang lain.

Jangan terlalu percaya sama pegawai atau mitra kerja. Banyak kisah kegagalan bisnis yang berawal dari keretakan hubungan partner bisnis. Siapa? Bisa saja temanmu, sahabatmu, atau bahkan saudara kandungmu. Mereka akhirnya pecah di tengah jalan, dan membuat hubungan menjadi retak.

Tapi jangan sedikit-sedikit curiga sama orang, resikonya nanti banyak pihak tidak nyaman bekerja dengan anda. Prinsipnya adalah kehati-hatian, dan jangan naif. Jangan mudah terlena dengan laporan dari mereka, atau apa yang mereka ketakan tentang bisnis anda. Hati-hati ketika memutuskan bekerja sama dengan saudara atau teman baik. Banyak pengalaman membuktikan, lancar diawal tapi muncul masalah-masalah di kemudian hari. Masalahnya, kalau sampai pecah maka terpecah pula hubungan baik anda dengan mitra anda.

Tipsnya, bangun dan ciptakan sistem manajemen, sistem pengawasan, dan SOP (Standard Operating Procedure) yang disepakati bersama.

Sekedar contoh kecil, pada sebuah perusahaan konsultan sipil. Seorang pegawai yang mengelola pelaksanaan di lapangan akan selalu lebih sering berhubungan dengan para konsumennya dibanding sang owner/pendiri perusahaan. Mungkin karena sang bos maunya santai duduk di belakang meja, atau sibuk dengan hal-hal yang lain sehingga kurang fokus pada perusahaan konsultannya. Pegawai pelaksana lapangan tersebut merasa tidak diawasi bosnya dan sangat dipercaya.

Pada proyek-proyek selanjutnya, dia lalu mulai berani diam-diam “nyelonong” masuk langsung ke konsumen dan menawarkan jasa konsultan perencanaan dengan harga yang jauh lebih rendah daripada perusahaan bosnya. Ya wajar saja kalau bisa lebih murah, karena dia tidak dibebani biaya operasional kantor dan penyusutan aset perusahaan. Akhirnya sang konsumen mulai sering tergoda dengan harga yang lebih murah dan beralih menjadi “langganan” si pegawai.

Akhirnya bosnya kaget mendapati omzet perusahaannya terjun bebas di bulan-bulan berikutnya. Parahnya lagi, si pegawai semakin merasa kuat dan akhirnya berani memutuskan keluar dari perusahaan bosnya untuk kemudian mendirikan konsultan tandingan dengan merebut konsumen-konsumen bosnya. Seharusnya, sejak awal si bos tersebut jangan terlalu mempercayakan semua hal kepada pegawainya. Pekerjaan-pekerjaan kunci harus tetap dilakukan bos, anak buah harus dibatasi kewenangan dan aksesnya.

6. Buta Keuangan

Owner tidak paham sistem keuangan, dan tidak bisa ‘membaca’ laporan keuangan.

Dimana-mana bisnis itu ukuran kesuksesannya dinyatakan oleh laporan keuangan. Laporan keuangan perusahaan sama dengan laporan kondisi kesehatan perusahaan. Seorang pebisnis bisa saja memiliki karakter mudah terhanyut dan asyik di proses produksi. Dia bisa asyik banget di bagian produksi, atau terlalu asyik di marketing. Dia menyerahkan urusan keuangan kepada orang lain atau pegawainya. Hal ini sah-sah saja dan ada baiknya pula. Tapi syaratnya dia harus paham tentang sistem keuangan. Ini syarat mutlak. Sehingga dia bisa membaca dan mengecek laporan keuangan mingguan atau bulanan. Sekali lagi harus bisa membaca laporan.

Dengan membaca laporan keuangan, dia bisa mengetahui kondisi kesehatan perusahaannya. Maka dia akan bisa memutuskan apa yang harus diperbuat untuk bisnisnya. Agar memiliki kemampuan membaca laporan, dia harus paham tentang apa itu Fixed Cost, Variable Cost, Break Even Point (BEP), Untung Kotor, Untung Bersih, Cash Flow, dan Neraca Keuangan. Tidak perlu menjadi sehebat seorang akuntan, namun harus bisa memahami prinsipnya secara komprehensif. Kalau sampai seorangowner tidak memahami laporan keuangan, maka resikonya dia tidak tahu apakah perusahaannya sehat atau sakit. Ketika perusahaannya ternyata sedang sakit, dia tidak tahu sudah sedekat apa ajal menanti di depan.

7. Lupa Mengawasi Kompetitor

Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri, kompetitor kamu juga tidak tinggal diam ketika kamu berjaya dan berada diatas mereka.

Nah, inilah yang sering terjadi ketika sebuah perusahaan terlena dengan kesuksesannya. Atau sudah merasa sukses dan meremehkan kompetitornya. Musuh terbesar seorang pebisnis adalah ketika dia sudah merasa jaya dan meremehkan kompetitornya.

Mengetahui apa yang kompetitor kita kerjakan adalah cara jitu bukan hanya untuk mengetahui dan paham tentang kekuatan, kelemahan dan ancaman mereka terhadap usaha kita, namun juga cara yang jitu untuk menemukan kesempatan dan peluang baru bagi perusahaan kita. Contohnya, ketika kita tahu kompetitor tidak membidik segmen konsumen tertentu maka di situlah peluang kita berada. Atau ketika kompetitor melakukan ekspensi besar untuk membidik segmen konsumen tertentu (yang menurut kita tidak potensial/menarik) dengan produk-produk inovasi terbaru mereka, maka justru disitulah peluang itu berada. Pasti mereka punya alasan tertentu mengapa membidiknya, yang kita harus cari tahu. Agar kita jangan sampai ketinggalan jauh dari kompetitor kita tersebut.

Contoh lain tentang yang kuat saat ini belum tentu kuat di masa depan adalah HP Nokia. Di tahun 2000an awal, Nokia menjadi penguasa pasar telepon genggam di Indonesia. Julukan “HP Sejuta Umat” pun disematkan kepada beberapa produk andalan Nokia, yang menguasai pasar dengan menyisihkan pesaing-pesaing di bawahnya yaitu Sony-Ericsson dan Motorola. Pada saat itu siapa yang tahu tentang Blackberry, Samsung, Lenovo, atau bahkan merk-merk China seperti Huawei dan sebagainya. Sekarang, orang seakan sudah lupa semua itu, roda dunia telah berputar membuktikan mereka sedang terbenam saat ini. Kesimpulannya adalah, awasi gerak-gerik kompetitor baik secara online maupun secara offline/manual.

8. Lupa Memperhatikan Konsumen

Suara konsumen, suara raja. Lupa bertanya kepada mereka, apakah puas dengan produk kita, bisa mengakibatkan kita berjalan dalam kegelapan. Berinteraksi dengan konsumen dapat dilakukan dengan polling atau wawancara langsung dengan mereka. Jangan lupa, bangunlah hubungan baik dengan konsumen. Lupa mengirimkan sms-sms ucapan selamat ulang tahun, atau mengabarkan tentang produk-produk inovasi terbaru kita bisa membuat mereka berpikir produk kita tidak ada inovatif dan gitu-gitu saja. Dalam kondisi seperti itu, mereka akan lebih mudah tergoda mencicipi produk kompetitor, ketika masuk dengan sesuatu yang baru dan berbeda dibanding produk kita.

9. Tidak update dengan perkembangan teknologi

Seorang pebisnis seringkali tidak mengantisipasi perkembangan teknologi yang terjadi. Ingat, dulu orang-orang pernah latah ikut-ikutan membuka wartel (warung telekomukasi) di tahun 90an. Bahkan untuk mendapatkan izin wartel, isunya harus membeli izin dengan harga yang sangat tidak rasional. Waktu itu, mereka sudah tergiur melihat keuntungan wartel-wartel lain yang memang lumayan spektakuler. Saking terlena dan tergiur, mereka memutuskan untuk tetap berani jor-joran membeli izin pendirian wartel, meski di belahan bumi yang lain teknologi Telepon Genggam mulai merambah pasar.

Dengan kehadiran HP di Indonesia, maka dalam waktu singkat selesailah era kejayaan wartel di Indonesia.

Contoh lainnya adalah aplikasi berbasis Android sudah begitu liar biasa seperti tak terbendung. Kesimpulannya, kalau seorang pebisnis masih menerapkan proses manual atau konvensional, tidak melakukan berbagai inovasi dengan memanfaatkan dan belajar tentang teknologi-teknologi terbaru, maka dia layak bersiap-siap ditinggalkan konsumennya di kemudian hari. Kompetitor sudah meninggalkan kita dengan strategi digital marketing, sedangkan kita masih asyik dengan cara-cara konvensional marketing.

10. Tidak Mengantisipasi Kehadiran “Pemain Besar”

Biasanya terjadi pada bisnis yang mudah dilakukan, namun memiliki karakter masif dalam penjualannya. Bisnis tersebut mudah ditiru orang lain, serta rentan dengan kehadiran pemain besardengan kekuatan modal yang jauh diatas kita.

Contoh paling mudah kita lihat adalah toko kelontong. Dulu pernah ada seorang saudara membuka toko kelontong atau bisa dikatakan mini market kecil-kecilan dengan modal dibawah Rp. 100 juta. Dia membuka di daerah yang padat penduduk dan kos-kosan mahasiswa. Dalam waktu singkat dia berhasil menaikkan omzet per hari di kisaran Rp.4 Juta. Dalam sebulan, dia bisa mendapatkan untung kotor sebesar Rp.15 Juta, dan setelah dikurangi biaya operasional bulanan dan gaji pegawai maka untung bersihnya sekitar Rp.7 Juta.

Dia merasa wow banget dan bernafsu membuka cabang di tempat lain. Sebelum cabang baru sempat dibangun, tidak ada satu tahun sejak dia memulai bisnisnya, tidak jauh dari lokasi mini market-nya dan di jalan yang sama berdirilah mini market waralaba yang ukurannya dua kali lipat mini market-nya.Dengan kekuatan dan jejaring bisnis, mereka dapat dengan mudah memainkan harga, menjual dengan diskon yang membuat masyarakat sekitarnya tergiur.

Alhasil, sejak saat itu omzet saudara saya jatuh bebas menjadi tidak ada separuhnya dari omzet bulan-bulan sebelumnya, dan lima bulan kemudian dia memutuskan menjual mini market-nya kepada orang lain. Dia merasa sudah tidak kuat lagi bersaing dengan pesaing besar di dekatnya.

11. Belum-belum Sudah Ingin ‘Menikmati’ Keberhasilan

Inilah penyakit manusia pada umumnya. Kerja keras memang akan menghasilkan uang dan kekuasaan. Namun sebelum semuanya terjadi dengan stabilitas yang baik, jangan sampai tergoda untuk memanfaatkan keuntungan bisnis untuk keperluan yang konsumtif. Misalnya mencicil mobil mewah, plesir ke luar negeri, membeli perabotan mewah, dan sebagainya. Pepatah lama mengatakan, bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Dan tambahkan dengan pepatah berikut ini. Hiduplah dalam kesederhanaan, syukuri setiap kebutuhan yang terpenuhi.

 

Disadur dan dikembangkan dari berbagai sumber

 

About

Redaksi Isigood.com menerima kiriman tulisan yang sesuai dengan rubrik yang ada. Baca ketentuannya di halaman "Kirim Tulisan" pada bagian atas situs ini. Kirim tulisanmu ke hzhafiri@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *