Apakah anda berasal dari Banyumas? Lebih tepatnya berasal dari Desa Kanding, Kecamatan Somagede? Kalau ya, maka berbanggalah bahwa kerabat ‘trah’ anda saat ini menjadi calon presiden di Suriname.

Republik Suriname, salah satu negara di Amerika Selatan, pada Mei 2015 akan menggelar pemilihan umum presiden. Perkenalkan, salah satu calon presiden yang ikut bertarung dalam pentas pilpres itu adalah Raymond Sapoen, warga Suriname keturunan Jawa.

Aku tinggal di Suriname, anakku telu, lanang …. Aku arep dadi presiden Republik Suriname, partaiku jenengane Pertjaja Luhur (anak saya tiga, laki-laki, saya mencalonkan diri jadi presiden dari Partai Pertjaja Luhur),” kata Raymond memastikan soal pencalonannya dikutip dari BBC Indonesia.

Eyang buyut Raymond berasal dari Desa Kanding, Kecamatan Somagede, Banyumas, Jawa Tengah. Kabar pencapresan Raymond ini sampai ke telinga warga Desa Kanding. “Saya kaget pertama kali mendengar adanya keturunan warga Desa Kanding di Suriname yang dikabarkan menjadi kandidat presiden,” ujar Ketua RT 01 RW 01, Haryono, Selasa (3/2/2015).

Dia menuturkan penduduk desa senang mendengar kabar itu. “Bagaimanapun, jika memang Raymond keturunan warga Kanding, mudah-mudahan bisa membanggakan desa kami”.

“Saya adalah generasi ketiga. Saya punya catatan tentang leluhur saya, namun yang pasti adalah mereka berasal dari Banyumas,” kata Raymond.

Haryono mengatakan, agak sulit mencari jejak keluarga Sapoen meski ia sudah mencoba menelusuri ke beberapa warga yang masih memiliki hubungan famili dengan buyut Raymond. “Karena yang kami dengar pertalian saudaranya dari buyut, setelah itu ke Ibu Sadem yang merupakan ibu Sapoen yang dimaksud,” ucapnya.

Heboh ini muncul setelah penduduk Suriname yang juga keturunan Jawa, Arie Grobbee, menuliskan hasil penelusurannya di Desa Kanding untuk menemukan leluhur Raymond Sapoen. Raymond saat ini menjabat Menteri Pendidikan Suriname.

“Saya mulai menelusurinya dari data Belanda yang saya dapat. Setelah berkunjung ke sana (Kanding), saya menemukan beberapa warga yang memang mengenal Sapoen,” ujar Arie.

Setelah Arie mencocokkan beberapa ciri fisik, dia menemukan kesesuaian dengan Parsono, penduduk Desa Kanding. Silsilah keluarga mereka juga menunjukkan hubungan keluarga dengan Raymond, yang ibunya bernama Sadem.

Hingga saat ini, Arie, yang aktif dalam perkumpulan warga Jawa-Belanda, mengaku masih mencoba menelusuri lebih dalam lagi. “Saya ingin agar bisa menyambung tali silaturahmi antara warga Jawa yang berada di Suriname dan yang masih tersisa di sini, karena telah lama mereka terputus dengan tanah leluhurnya,” katanya.

Sapoen, eyang buyut Raymond, meninggalkan Jawa 83 tahun silam. Pada masa itu, Banyumas merupakan salah satu basis pengerahan tenaga kerja oleh Belanda ke Suriname.

Berdasarkan data yang dimuat di wikipedia, Suriname dulu bernama Guyana Belanda atau Guiana Belanda, bekas wilayah koloni Belanda. Negara ini berbatasan dengan Guyana Perancis di timur dan Guyana di barat. Di selatan berbatasan dengan Brasil dan di utara dengan Samudra Atlantik.

Di Suriname tinggal sekitar 75.000 orang Jawa dan dibawa ke sana dari Hindia Belanda antara tahun 1890-1939. Suriname merupakan salah satu anggota Organisasi Konferensi Islam. Berdasarkan data statistik dari Biro Pusat Administrasi Kependudukan Suriname, jumlah penduduk Suriname pada sensus tahun 2003 tercatat 481.146 jiwa.

Hitung-hitungan Diatas Kertas Peluang Raymond Sapoen

Raymond Sapoen, diprediksi akan menjadi salah satu kandidat kuat calon presiden dalam pemilihan umum yang digelar pada Mei 2015 mendatang. Sapoen menjadi kandidat capres yang diperkirakan akan mengandalkan perolehan suara dari etnis Jawa, yang memang menjadi salah satu etnis besar di Suriname.

Dilansir dari Wikipedia, setidaknya ada 13,7 persen keturunan Jawa di negara bekas jajahan Belanda di Amerika Selatan itu. Jika melihat populasi Suriname yang hanya 492.829 jiwa berdasarkan Sensus 2014, maka etnis Jawa berada di posisi empat besar. Jumlahnya hanya kalah dari keturunan India Timur (27,4 persen), Maroon (21,7 persen), dan Creole/Afro-Suriname (15,7 persen). Sisanya merupakan etnis campuran (13,4 persen) dan lain-lain (8,2 persen).

Dipengaruhi proklamasi Indonesia

Aktivitas politik orang Jawa di Suriname mulai muncul sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ketika itu gema kemerdekaan Indonesia terasa hingga Suriname. Ini menyebabkan muncul masalah kewarganegaraan. Para imigran Jawa itu diberi waktu dua tahun untuk memilih, jadi warga negara Indonesia atau Belanda.

Situasi politik di Suriname saat itu memungkinkan pembentukan partai politik berdasarkan etnis. Orang Jawa itu kemudian membentuk dua partai, Persekutuan Bangsa Indonesia Suriname (PBIS) dan Kaum Tani Persatuan Indonesia (KTPI). PBIS yang dipimpin Iding Soemota condong memilih Indonesia, sedangkan KTPI yang dipimpin Salikin Hardjo memilih Belanda.

Salikin Hardjo yang menghadiri Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949 kemudian berubah pikiran. Sejak Mei 1951, dai mendorong para Imigran Jawa kembali ke pulau asalnya. Namun, Indonesia menerima permintaan repatriasi itu, asal 2.000 keluarga Jawa-Suriname itu tidak pulang ke pulau Jawa yang dianggap sudah padat. Pemerintah menyediakan lahan 2.500 hektar di Tongar, sebelah utara Pasaman, Sumatera Barat.

Namun kondisi di Tongar dianggap tidak membuat kehidupan mereka lebih baik. Masyarakat Jawa-Suriname ini menghadapi kesulitan keuangan karena tanah garapan yang sulit diolah. Kondisi ini menyebabkan mereka kembali ke Suriname.

Hitung-hitungan Politik Peta Kekuatan Raymond Sapoen

Saat ini, aktivitas politik masyarakat Jawa Suriname terus berlanjut. Pada Pemilu 2010, mengutip Wikipedia, setidaknya ada tiga partai politik yang beraliran politik Jawa. Tiga partai itu adalah Pendawa Lima yang dipimpin Raymond Sapoen, Pertjajah Luhur pimpinan Paul Somohardjo, dan Kerukanan Tulodo Pranatan Ingit (KTPI).

Pendawa Lima dan Pertjajah Luhur kemudian bergabung dalam koalisi Volksalliantie Voor Vooruitgang (Aliansi Masyarakat untuk Perubahan) yang menguasai 12,98 persen suara. Koalisi ini mendapatkan 6 kursi dari 51 kursi di parlemen, yang semuanya didapat Pertjajah Luhur.

Sedangkan KTPI tergabung dalam koalisi Mega Combinatie yang mendapatkan 40,22 persen suara atau 23 kursi dari 51 kursi parlemen. Koalisi itu berhasil mengantarkan Desiré Delano Bouters sebagai Presiden Suriname.

Melihat komposisi ini, sepertinya Raymond Sapoen harus berjuang keras untuk terpilih sebagai Presiden Suriname. Apalagi, Presiden Desi Bouterse sebagai petahana mengaku akan kembali maju di Pemilu 2015.

Partai Demokrasi Nasional (NDP) yang dipimpin Bouterse juga diprediksi akan memperoleh suara besar di pemilu mendatang. Dengan demikian, NDP diperkirakan bisa menjadi motor koalisi Mega Combinatie, seperti yang dilakukannya di Pemilu 2010.

 

Dikutip dan dihimpun dari berbagai sumber: BBC Indonesia, wikipedia.com, www.bisnis.com dan www.kompas.com

 

About

Redaksi Isigood.com menerima kiriman tulisan yang sesuai dengan rubrik yang ada. Baca ketentuannya di halaman "Kirim Tulisan" pada bagian atas situs ini. Kirim tulisanmu ke hzhafiri@gmail.com

2 Comments

    1. Redaksi

      yup, ini kami lakukan untuk memoderasi dengan baik komentar yang masuk, karena banyak sekali komentar spam. Di kompas dan Detik tidak begitu? Iya, karena kami bukan Kompas dan Detik dong, hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *