Sang Jenderal Pasukan Merah Liverpool, Steven Gerrard, akhirnya tak kuasa melawan Sang Waktu. Teka-teki Manajer Liverpool Brendan Rodgers mengaku tak lagi berusaha “merayu” Sang Kapten yang saat ini telah berusia 34 tahun, untuk menerima kontrak perpanjangan bersama The Reds, terjawab sudah.

Seperti dilansir www.bbc.com beberapa saat yang lalu, sosok yang akrab dipanggil Stevie-G ini telah mengkonfirmasi bahwa dirinya akan meninggalkan Liverpool musim depan. Torehan prestasi jumlah golnya adalah 180 dari 695 pertandingan bersama Liverpool. Dan saat ini mulai muncul spekulasi masa depannya dikaitkan dengan Major League Soccer (USA).

Sebelum pernyataan konfirmasi tersebut, sinyal penolakan Brendan Rodgers ditunjukkan dengan kerap mencadangkan Steven Gerrard. “Saya tidak tahu lagi perkembangan terkait kontrak perpanjangan Gerrard,” kata Rodgers seperti dikutip dari Sports Mole.

Namun demikian, saat itu Rodgers melanjutkan, hal itu tidak berarti pihak klub tidak lagi menginginkan sang kapten tim tersebut. Kemudian teka-teki berkembang luas. “Saya pikir pihak klub tetap melakukan pembicaraan intensif dengan perwakilan Gerrard.” Kontrak pemain yang disebut-sebut akan menjadi legenda Liverpool ini akan segera habis tujuh bulan ke depan. Saat ini, Gerrard terikat kontrak dengan gaji £140 ribu per minggu dengan Liverpool.

Seperti diberitakan oleh CNN Indonesia, Brendan Rodgers tidak memainkan sang kapten sebagai pemain inti saat menjamu Stoke City di Anfield, Sabtu (29/11). Kapten Liverpool itu ditempatkan sebagai pemain cadangan oleh Rodgers sebagai gantinya ia memainkan Philippe Coutinho sebagai gelandang serang.

Dan sekarang, teka-teki terjawab sudah! Steven Gerrard takkan lagi mengisi skuad Liverpool musim depan.

Momen bersejarah Steven Gerrard 16 Tahun Yang Lalu

Pada 29 November 1998, Steven Gerrard, menjalani debutnya untuk tim Liverpool ketika diturunkan sebagai pemain pengganti pada laga melawan Blackburn Rovers.  Enam belas tahun kemudian ia masih bermain untuk tim yang sama dan bahkan menjadi kapten. Benar-benar seorang prajurit yang sangat loyal. Dia bahkan sering diibaratkan Paolo Maldini-nya Liverpool.

“Saya masih ingat betapa kurus dan pemalunya Gerrard saat itu. Saya kaget karena ia begitu cepat bisa berkembang, dari semula hanya berlatih dengan tim senior kemudian mendapatkan debutnya di Anfield,” ujar Vegard Heggem, pemain yang pada 1998 ditarik keluar dan digantikan oleh Gerrard. “Kehadirannya kala itu membuat para suporter senang karena artinya ada pemuda lokal yang bisa menembus tim Liverpool.” kenangnya.

Bersama Liverpool, pemain yang pernah bermain sebagai bek kanan, gelandang serang, pemain sayap, dan kini sebagai gelandang bertahan ini meraih satu gelar Liga Champions, tiga Piala Liga, dan dua Piala FA.

Mujizat Istanbul 2005, Final Liga Champions vs AC Milan

steven-gerrard-311-1920x1080Tidak pernah hilang dalam ingatan, betapa Steven Gerrard memimpin Liverpool bangkit dari ketinggalan 0-3 dari AC Milan di partai final Liga Champions 2005. Semua orang sudah yakin bahwa klub Italia tersebut, yang dulu bertabur bintang layaknya Los Galacticos Real Madrid saat ini, akan keluar sebagai juaranya.

Dinding stadion Kemal Ataturk seperti setipis kain sutera. Dari kamar ganti Liverpool, sorak sorai pemain AC Milan di ruangan yang berbeda begitu jelas terdengar. Semua pemain Liverpool tertunduk lesu. Tak ada yang berani menegakkan kepala. Pada malam final Liga Champions 2004/05 itu, Milan memberikan pukulan telak kepada Liverpool. Milan mampu unggul 3-0 saat jeda. Bek veteran Paolo Maldini membuka keunggulan pada menit pertama pertandingan. Sebelum turun minum, Hernan Crespo menambahnya dengan dua gol. Awal yang sempurna bagi AC Milan.

Namun tak disangka, Steven Gerrard menolak kalah. Di babak kedua dia mengawali gol yang menyalakan sumbu ledak sehingga Liverpool mampu mengejar ketinggalan menjadi 3-3 di akhir waktu pertandingan normal. Dan selanjutnya, terjadilah keajaiban di Stadion Kemal Ataturk. Adu penalti dimenangkan oleh Liverpool secara dramatis. Mukjizat di Istanbul ini kemudian diabadikan dalam film Fifteen Minutes That Shook The World. Betapa tidak, final Liga Champions musim itu sangat dramatis dan membuktikan segalanya mungkin terjadi di lapangan sepakbola.

Tribute untuk “The Loyal Soldier”

Sejak 1998 lalu, pemain yang memulai karier dengan nomor punggung 28 itu telah memainkan 695 pertandingan dan mencetak 180 gol untuk Liverpool.

Untuk merayakan kariernya, Liverpool sendiri membuat matchday program (majalah yang diberikan untuk penonton di stadion) dengan menjadikan sosok Gerrard pada sampul untuk laga melawan Stoke City pada Sabtu (29/11) di Stadion Anfield.

Sepanjang minggu, beberapa rekan setim Gerrard pun memberikan tribut tentang peran dan pengaruh pemain yang berusia 34 tahun tersebut.

Satu di antaranya adalah dari Jordan Henderson. “Steven Gerrard memiliki pengaruh besar dalam karier saya. Ketika saya masih muda, saya melihatnya bermain dan kini saya berlatih dan bermain di sampingnya. Hal ini besar artinya untuk saya. Bahkan hingga saat ini,” ujar Henderson pada FATV.

Data-data yang menunjukkan kemerosotan performa Stevie-G

Satu alasan yang sering didengung-dengungkan tentang bocornya lini belakang adalah tentang merosotnya kemampuan sang kapten, Steven Gerrard, yang sering berperan sebagai gelandang bertahan.

Dengan peran tersebut, Gerrard akan berada tepat di belakang lini bertahan dan menjadi orang pertama yang seharusnya memutus serangan lawan dan melindungi para pemain belakang. Kritikan yang sering ditujukan untuk Gerrard adalah pada hari-hari ini ia seolah tak mampu “berlari” lagi untuk melindungi lini pertahanannya.

Satu data menunjukkan kemerosotan Gerrard di lapangan, yaitu jarak tempuhnya dalam satu pertandingan. Pada periode Januari-Mei 2014, Gerrard mencatatkan berlari sejauh total 11 km pada enam pertandingan. Namun, ia belum pernah melakukannya dalam 11 pertandingan di musim ini.

Data kemampuan bertahannya pun menunjukkan penurunan. Pada musim lalu, Gerrrard mencatatkan 3,04 tekel per-90 menit pertandingan, namun angka ini menurun hingga dua tekel per-90 menit pertandingan di musim ini. Demikian pula angka intersepsi atau memotong umpan lawan. Pada musim lalu Gerrard mencatatkan 1,49 intersepsi tiap bermain 90 menit, sementara angka ini turun menjadi 0,64 per-90 menit laga.

Meskipun dianggap sebagai hakim yang mengetok palu terhadap masa depan Steven Gerrard, Brendan Rodgers mengatakan, “Sebuah pekerjaan yang super sulit, bahkan hampir mustahil, untuk mengungkapkan kata-kata yang tepat yang mampu mengukur betapa pentingnya dia bagi Liverpool.”

“This is an era where the word ‘legend’ is vastly overused, but in his case it actually doesn’t do him justice.”

 

Dikutip dan disusun ulang dari sumber: www.bbc.com dan www.cnnindonesia.com

Pejuang Beasiswa tunas-indonesia.org - Dosen SV-UGM - Owner of Fasnetgama Training Center (fasnetgama.co.id) - Ketua Yayasan Tunas Indonesia Jepang - Loving tennis, football, piano & family

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *