Pengantar Redaksi-  Segala bentuk doa yang disertai dengan kebaikan, pastilah akan dibalas dengan kebaikan. Seperti yang dialami teman kita yang satu ini. Andi Sujadmiko adalah seorang anak dengan cita-cita mulia mengangkat derajad dan martabat keluarganya, melalui pendidikan. Namun masalah klasik tetap terjadi, urusan ekonomi menghalanginya untuk bisa kuliah. Namun, itu tidak membuatnya berhenti berikhtiar. Ia tetap berusaha, berdoa, dan bersedekah dengan giat. Kegigigihan dan kebaikan semacam itulah yang mengabulkan doanya. Simak penuturan kisah Andi yang yang sangat menggugah berikut ini. Salam kebaikan!

 

Andi Sujadmiko, dari nama belakangnya mungkin banyak yang sudah menebak kalau saya ini orang Jawa tulen yang hidupnya ndeso. Ya, memang benar adanya. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dan alhamdulillah dikaruniai sepasang orangtua hebat yang berprofesi sebagai petani. Kehidupan sederhana, dan serba pas-pasan saya jalani setiap hari dan selalu disyukuri. Namun pada akhirnya membawa saya di titik kesadaran. Dalam hati seringkali saya berkata, “Ndi, kamu itu anak pertama. Harus bisa jadi teladan untuk adek-adekmu. Harus bisa mengubah keadaan keluargamu, mengangkat derajat orangtuamu. Kamu harus sukses. Harus!”

Saya selalu teringat quote Bill Gates: “If you born poor, it’s not your mistake. But if you die poor, it’s your mistake!”. So, korelasinya; orang sukses = berwawasan luas = berpendidikan tinggi = kuliah. Ya, itulah salah satu proses yang harus saya lalui untuk menapaki tangga kesuksesan dan mengangkat derajat orangtua. Tapi bagaimana dengan biaya kuliah yang tinggi, sementara keadaan ekonomi keluarga yang serba terbatas? Saya yakin, Tuhan akan memberikan jalan bagi hamba-Nya yang besungguh-sungguh dan selalu berdoa. Gusti mboten sare. Man jadda wajada!

Waktu berlalu, sampai akhirnya saya di kelas XIII (4) SMK 2 Depok Sleman. Nah, selama kelas XIII saya ditempatkan magang di Bogor, Jawa Barat. Di sanalah saya memperjuangkan beasiswa kuliah, Beastudi Etos Dompet Dhuafa namanya. Saya mengikuti seleksi dari bulan Maret 2014, mulai dari seleksi berkas, tes tertulis, dan wawancara semuanya dilakukan di Institut Pertanian Bogor. Pernah disaat tertentu saya bimbang antara PTN yang dipilih. Mau menuruti passion semasa kecil ya ke FSRD ITB atau Despro ITS karena jago gambar, di sisi lain pengen melanjutkan jadi anak teknik di UGM. Alhasil setelah berunding ke orangtua, UGM jadi pilihan pertama.

Di IPB ini saya bertemu kakak etoser hebat seperti Mbak Dewi Citra Sari yang berlatar belakang anak petani tapi bisa kuliah sampai S2 IPB, atau dari profil seorang Danang Ambar Prabowo yang saya ingat sebagai “Pembuat Jejak” sampai ke Jepang. Banyak orang-orang hebat yang saya temui di IPB ini dan semakin menguatkan mimpi ini untuk bisa kuliah di UGM.

Opsi pertama, UGM dengan jalur PBUTM (Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu) atau SNMPTN, SBMPTN, malah kalau belum lolos ya ikut UM UGM. Opsi kedua, Despro ITS dengan UM Desain Despro ITS. Oke, mulai dari seleksi paling awal, PBUTM UGM. Siang itu, hari Jum’at tanggal 7 Maret 2014 dimana hari yang sudah saya tentukan untuk pengumpulan berkas seleksi masuk UGM jalur PBUTM ke Gedung DAA UGM. Tekad mengikuti seleksi jalur ini semakin bulat karena seminggu sebelumnya saya mendapat surat rekomendasi untuk masuk UGM dari Tunas Indonesia, sebuah lembaga beasiswa anak SMA di Yogjakarta yang donaturnya berasal dari PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Kobe, Jepang dan dikoordinir langsung oleh Wakil Direktur Akademik dan Kemahasiswaan SV-UGM, Dr. Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc.

Ya, dulu saya adalah alumni Tunas Indonesia – PPI Kobe Jepang selama dua tahun berturut-turut sehingga bisa mendapat surat rekomendasi. Besar harapan saya bisa masuk UGM karena telah memiliki surat rekomendasi sebagai faktor penguat ini.

Berangkat bersepeda dari rumah waktu itu pukul 10.30 pagi, dan selang satu jam kemudian sampai di Masjid Kantor Walikota Yogyakarta untuk sholat Jum’at. Hari mulia, memang bukan tanpa alasan saya menemukan keberkahan di Jum’at itu. Saya lanjutkan perjalanan, dan ketika melewati Stadion Kridosono berpapasan dengan kakek pemulung renta menarik gerobaknya dengan pelan. Hati siapa yang tega membiarkan beliau mengangkut gerobak di bawah terik panas matahari?

Sadar, dan secara spontan langsung merogoh kantong untuk membeli nasi rames, dan teh hangat di warung makan. Sembari menuju istirahatnya di pinggir jalan, saya menghampiri dan menyapa, “Mbah, monggo didahar rumiyin kulo gadhah daharan kalih unjukan..”.

Andi-Sujadmiko

Andi Sujadmiko

Terlihat wajah yang ramah menyambut kedatangan saya, niat baik untuk sekedar memberi nasi rames pun beliau mengucapkan, “Maturnuwun sanget le, aku raiso bales kebecikanmu iki kecuali yo mung dongo. Mugo-mogo Gusti Allah langsung bales opo sing dadi kepinginanmu”. Kudengar doa yang tulus terucap dari seorang kakek berumur sekitar 70 tahun yang setiap hari harus mendorong gerobaknya pulang pergi di rumahnya, dibawah jembatan Kewek, Jogja.

Ya Allah, berilah selalu beliau ini dengan kesehatan, kelancaran rezeki, serta kelapangan surga-Mu. Karena dengan doanya waktu itu, saat ini aku bisa berdiri di depan gerbang Universitas Gadjah Mada dengan almamater kebanggaan kampus biru. Ya, Engkau menjawab doa kakek waktu itu dengan sebuah jawaban “Selamat, Anda diterima di Universitas Gadjah Mada..” pada pengumuman PBUTM bulan Mei 2014. Bukan hanya itu, saya dapat beasiswa kuliah dari UGM yang menanggung seluruh kuliahku selama 4 tahun, itu pun nanti bisa tambah uang saku kalau dialihkan ke Bidikmisi yang jika dikalkulasi nominalnya lebih dari 70 juta, Subhannallah.. Sampai tulisan ini saya publish, air mata ini menetes karena selalu ingin bertemu kakek itu untuk sekedar mengucapkan terima kasih dan memberinya nasi rames lagi. Semoga Allah selalu mamanjangkan umurnya.. Amin :’)

 

Hingga tulisan ini dimuat, Andi masih menempuh kuliah di D4 Teknik Alat Berat Sekolah Vokasi UGM. Aktif kuliah dan praktikum demi memperdalam skill dan kompetensi. Ia juga aktif dalam organisasi mahasiswa dan aktif pula menjadi Kakak Pintar di Tunas Indonesia, mendampingi empat siswa adik kelas Tunas Indonesia.

About

Redaksi Isigood.com menerima kiriman tulisan yang sesuai dengan rubrik yang ada. Baca ketentuannya di halaman "Kirim Tulisan" pada bagian atas situs ini. Kirim tulisanmu ke hzhafiri@gmail.com

1 Comments

  1. CAH YOGYA

    Luar biasa, sangat menginspirasi sekali, semoga Mas Andi Sujadmiko semakin rajin dan tekun dalam menuntut ilmu di UGM dan bisa berkontribusi untuk orang lain..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *