Oleh: Imam B. Prasodjo

Sosiolog Universitas Indonesia, Direktur Yayasan Nurani Dunia.

 

imam-prasodjo

Imam B. Prasodjo

Pada 9 Desember 2014 silam, saya bersyukur dapat ikut mendengarkan diskusi sekaligus ikut sumbang pemikiran tentang upaya revitalisasi kota Jakarta di gedung The Erasmus Huis, Kedutaan Belanda, Jakarta. Saya terkesan dengan pemaparan Lin Che Wei tentang betapa pentingnya merevitalitasi Kota Tua Jakarta, sebuah wilayah yang kini sebagian menjadi wilayah Jakarta Utara dan sebagian lain menjadi wilayah Jakarta Barat.

Bila kita ingin melihat bagaimana kolonialisme Belanda menyusun ruang dengan visi dan kenyamanan bagi mereka di tanah jajahan berabad lalu, lihatlah apa yang ditinggalkan di Kota Tua. Inilah ekspresi kemegahan abad 16 yang dibayar oleh derita rakyat yang tak terhitung jumlahnya.

Menyadari betapa berharga jejak masa lalu ini, apapun wajahnya– kemasyhuran atau derita, upaya konservasi sangat penting dilakukan. Ini memiliki makna sejarah tak ternilai. Suka tidak suka atas peristiwa yang terjadi di balik gedung-gedung tua di wilayah Kota Tua (yang kini banyak mulai lapuk dan terbengkelai), wilayah ini jelas memberi sumbangan pada keunikan Jakarta sebagai kota. Saat ini dan saat mendatang, sebuah kota menjadi sangat penting justru karena keunikannya. Bisa karena perannya dalam kehidupan masa kini ataupun karena sejarahnya. Karena itu, revitalisasi wilayah Kota Tua di Jakarta bermakna penting karena upaya ini terkait dengan pelacakan jati diri kota, karakter kota, atau bahkan spirit kota.

10849875_313859698815194_414895647456603703_n

Event “Jakarta On the Move” di Gedung Erasmus Huis, Kedutaan Belanda, Jakarta

Bila dalam sesi pertama diskusi membahas revitalisasi Kota Tua terkait dengan upaya pencarian identitas yang terancam hilang karena banyaknya jejak sejarah yang punah (gedung runtuh atau pun beralih fungsi), maka pada sesi diskusi berikut, isu pentingnya terkait penataan wilayah kampung padat penduduk dibicarakan. Ada kesadaran bahwa penataan kampung, yang saat ini terhampar horizontal penuh sesak oleh kepadatan penduduk, mau tak mau harus dibangun vertikal. Masalahnya, bagaimana secara arsitektur merancangnya bila kita tidak menghendaki hilangnya karakter kehidupan kampung yang ada selama ini? Kehidupan kampung yang sarat dengan informalitas dan interaksi intensif yang membutuhkan ruang terbuka horizontal, dapat hilang bila pembangunan gedung vertikal tak menyediakannya.

Dalam membuka diskusi tema ini, saya coba mengemukakan bahwa secara umum kita harus sadari bahwa Jakarta yang kini terus berubah memang tidak boleh kehilangan jati dirinya. Harus ada karakter tegas bagaimana Jakarta diarahkan. Agaknya banyak yang sepakat bahwa gaya arsitektur berikut tata ruang yang terbangun di Jakarta akhir-akhir ini, semakin tanpa arah. Tak memiliki karakter keindonesiaan yang jelas.

Jakarta dengan beragam gaya arsitektur gedung yang dibangun semata mengikuti pasar dan selera pengembang yang tanpa visi, jelas semakin mengaburkan identitas kota. Lihatlah apa yang terjadi dengan tampilan berbagai gedung, mall dan perumahan mewah yang arsitekturnya terasa begitu ahistoris, lepas dari konteks sosial dan budaya penghuninya. Semua menandakan bahwa Jakarta semakin hari semakin kehilangan arah.

20110628_1987Namun, di tengah frustasi melihat gerak Jakarta, diskusi hari ini sedikit memberi harapan. Hasil diskusi dan kerja para arsitek muda yang dipandu para arsitek senior ditampilkan kembali untuk mencoba mencari jalan keluar. Gagasan membangun “Jakarta Vertical Kampung” kini berusaha dihidupkan kembali. Harapannya, ini bisa menjadi perhatian pemerintahan baru saat ini karena konsep “urban vertical kampung” diharapkan menjadi solusi bagaimana transformasi wilayah kampung kumuh horizontal padat penduduk, menjadi tempat tinggal vertikal yang layak. Ini sebuah eksperimen transformasi residensial dari bentuk horizontal ke vertikal dengan tetap mempertahankan pola sosial budaya yang melekat pada kehidupan “kampung” yang ada sebelumnya.

Namun mampukah kota ini bergerak merubah dirinya dari jalur tanpa arah dan tanpa identitas menjadi kota yang bergerak dengan visi jelas dan berbasis pada konteks sosial-budaya yang dimilikinya? Inilah tantangan yang harus dipikirkan bersama!

About

Redaksi Isigood.com menerima kiriman tulisan yang sesuai dengan rubrik yang ada. Baca ketentuannya di halaman "Kirim Tulisan" pada bagian atas situs ini. Kirim tulisanmu ke hzhafiri@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *